RE 2: Si Figuran

572 63 14
                                        

Ucapan, bukan sekadar apa yang akan terlontar nanti. Tetapi, ada hal yang harus disampaikan dengan benar-benar. Entah apa itu, semua harus masuk akal. Ya, kurang lebih hal itu yang dituntut dalam kenyataan ini.

Jangan berharap orang-orang akan diam saat kau mengatakan hal-hal aneh. Pasti akan ada sesuatu yang terjadi. Sama halnya dengan pikiran cowok yang sejak tadi menguap lesu di bangku kelasnya.

Erza dan pikirannya sedang terbang melayang. Mencari berbagai cara agar semua bisa ia sampaikan tanpa membuat orang-orang ... err, ilfil?

"Rumit," gumamnya.

Tanpa memperhatikan apa yang ada di depannya, ia mulai memejamkan matanya. Siapa peduli dengan murid baru yang sedang memperkenalkan diri di depan kelas. Ah, lagipula nanti akan kenal dengan sendirinya.

Ya, intinya ia akan jadi manusia figuran dalam hidupnya. Sama seperti anak-anak lain yang ada di kelas ini. Setidaknya hal itulah yang Erza pikirkan.

"Uhm, sorry, gue disuruh duduk di sini." Tampak seorang gadis―yang tadi ada di depan―sedang berdiri samping meja milik Erza. Sementara cowok itu memandang lesu.

Figuran, batinnya.

Erza menggeser tempat duduknya ke bangku sebelah-tanpa berkata sepatah katapun-yang berbatasan langsung dengan tembok.

Tadinya itu bangku tempat menaruh barang. Apa daya? Sekarang ia harus berbagi tempat duduk dengan murid baru ini.

Berasa anime banget, klise parah, ocehnya dalam hati mengingat kejadian-kejadian ini seperti kisah anime romance kesukaan mamanya.

Tanpa berkata apapun lagi, gadis itu langsung duduk di samping Erza. Ya, lumayanlah kelas ini tidak ganjil seperti sebelumnya. Lagipula tiap minggu di-rolling. Dan ya, tak ada lagi gosip mengenai Rara-hantu ilusi milik kelas ini-yang duduk bersama murid yang kebagian sendirian.

***

"Za," panggil seseorang membuat cowok itu memejamkan matanya. Ia pikir hal itu akan kembali terulang. Makanya ia memejamkan matanya dan bersiap untuk melihat hal-hal itu lagi. Nyatanya, malah sebuah tepukan pada bahu yang menyambutnya. "Lo ngapain merem anjir."

Erza terdiam tak memberikan reaksi. Ekspresinya terlalu dingin. Ya, sayangnya tak ada yang tahu kelakuannya di masa lalu. Ah, andai ia bisa seperti dulu.

"Enggak," balas Erza, "keleyengan dikit."

Resa-cowok yang tadi menepuk bahu Erza-hanya mengangguk. Ya, entah apa yang ia pikirkan bukanlah masalah. Yang penting...

"Basket yuk!" ajaknya diiringi gelengan Erza.

"Berapa kali gue bilang, sih?" tanya Erza membuat Resa sedikit mengulas senyum kecewanya, "gue nggak suka basket."

"Tapi gue bisa lihat sendiri, Za." Resa berusaha memberitahu Erza akan hal yang ia sadari selama ini. "Bahkan Rio yang kapten sekalipun, di olahraga masih di bawah lo. Apalagi pas basket, gimana gue nggak ngajak terus-terusan."

Erza mengembuskan napasnya lesu. Kenapa bisa ia sesantai ini saat-tanpa sadar-menyakiti salah satu anggota basket sekolah ini? Itu yang ada di pikirannya. Ia manusia, tapi kenapa seolah tak memiliki hati?

Love Life a Reincarnation Couple [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang