RE 25: Yearned

206 37 25
                                        

"Jawaban atas segalanya ada di sini."

Erza mengerutkan dahinya bingung, jawaban atas segalanya? Ah, kepalanya terasa menyakitkan kalau mengingat itu semua.

"Oleh karena itu...." Light mengangkat tangannya ke atas seolah mencengkram udara, kemudian melepaskannya dan menyisakan cahaya penuh kilau yang perlahan membentuk sebuah sosok yang membuat Erza membulat saat menatapnya.

"Ma-mama?" ucap Erza pada sosok gadis muda di hadapannya. Itu ... sosok mama yang ingin Erza hindari. Sosok mama yang membuatnya ingin lenyap dari dunia ini. Sosok mama yang ... Erza tahu kalau ialah yang menyebabkan jantungnya berdebar melebihi apapun-saat itu. Tapi kali ini....

"Ingatanmu tidak berbaur dengan masa lalu saat ini," kata Light, "Kau yang saat ini, dan ini sosok memori serta harapan Hellen yang mengendap di masa itu," tambah Light kemudian tersenyum, sementara sosok yang baru saja terbentuk itu masih terdiam, sama-sama terpaku dengan sosok di hadapannya, Erza.

"E-Erza? Lo ... masih hidup?" Gadis itu perlahan mendekat ke arah Erza, air mata merebak dan tampak sudah tak terbendung lagi. Tanpa sadar gadis itu mendekap Erza sekuat tenaga. "Do'a gue selama ini kekabul, kan? Lo hidup, kan, Za? Lo gak lenyap seperti yang Lo bilang. Lo-"

Isakkan kencang kembali terdengar, entah kenapa ada sedikit rasa lega saat bertemu sosok ini. Membuat Erza tak ragu untuk membalas dekapan pada sosok itu. Rasa rindu yang selama ini membuncah dalam dadanya ... terbayarkan. Dan entah kenapa....

"Lo bahagia, kan?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir gadis di hadapannya.

"Len," panggil Light membuat gadis itu menoleh. "Sampaikan dan tanyakan apa yang mengganjal dalam pikiranmu.

"Kuberi waktu kalian menyelesaikan segalanya."

Erza terdiam mendengar ucapan Light. Lalu menatap sosok itu menghilang dalam sekejap. Keheningan melingkupi keduanya. Sampai, gadis itu berjalan menuju tempat yang Erza yakin kalau dirinya pernah mendatangi tempat ini, hatinya tahu kalau ia pernah datang dan ... hal yang penting terjadi di tempat ini.

Hellen menuntunnya menuju tempat itu. Entah kenapa ini terasa berlawanan. Ya, mungkin dahulu ialah yang mengajaknya ke tempat ini.

"Lihat...," kata Hellen sambil menunjukkan sebuah kotak yang atasnya dijatuhi oleh salju.

Di sana, ada benang yang masih terikat dan....

"Aku di masa depan bagaimana?" tanya Hellen membuat Erza tersenyum tipis. Ia bahagia.

"Kau seorang ibu yang baik," jawab Erza. Kenangan-kenangan tentang mama di rumah selama ini mulai melesak kembali dalam ingatannya, membuat dadanya terasa hangat dan sekali lagi, ia bahagia.

Dan cara bicara mereka mulai berubah.

"Apa dia juga jadi ayah yang baik?"

Erza langsung mengangguk, "Kalian orang tua yang amat baik. Sampai-sampai-" Air matanya jatuh. Membuat Hellen menarik Erza ke dalam rangkulannya.

"Kalau gini, agak aneh, ya?" tanya Hellen lagi, namun Erza hanya bisa membalasnya dengan isakkan. Kenangan-kenangan keluarganya seolah mengelilingi dan membuatnya tak bisa berhenti mengalirkan smua ini.

Lalu, apa artinya kejadian ini?

Hal itu masih tak bisa Erza mengerti. Kenapa masa lalu harus melesak dan seolah akan menghacurkannya. Kalau semuanya akan baik-baik saja, kenapa semua ini harus terjadi? Apa memang takdir setidak ada kerjaan itu untuk menguji mereka?

Tanpa Erza sadari, Hellen yang ada di sebelahnya tersenyum, air matanya ikut mengalir. Namun tidak ada isakkan yang keluar, melainkan senyuman indah yang entah kenapa membuatnya rindu.

"Karena kalau semua itu gak terjadi, kita gak akan pernah bertemu." Hellen mengatakan sesuatu yang membuat sosok itu tertegun. Ya, Erza baru menyadarinya. Kita yang dimaksud ialah ia yang hidup sebagai manusia dan Hellen yang masih mengingat semua itu seutuhnya.

"Dan, janji kita sudah terealisasikan, bukan?"

Jan-ji?

"Aku yang di masa depan, bisa memberi cinta sebanyak apapun, tak ada larangan lagi antara kita. Cinta yang saat itu terasa menyakitkan untukmu dan diriku ... menjadi sesuatu yang bahkan lebih indah.

"Kau yang dulu bilang kalau tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Kini aku percaya semua itu.

"Dan saat ini, tanpa sadar sosok Erza udah bisa dicintai lebih dari Nathan. Karena Erza-"

Sosok yang tadi mendekapnya itu perlahan memudar menjadi serpihan cahaya. Membuat Erza terdiam menatapnya, baru sekejap, namun....

"-terlahir dan mengawali semuanya dengan cinta."

Hilang. Air mata Erza berjatuhan saat serpihan-serpihan itu benar-benar lenyap. Namun, ruang di hatinya melega. Rasanya seperti terlahir kembali.

Setelah itu, sebuah cahaya bersinar amat terang, saking terangnya ... ia tak bisa membuka matanya. Hal yang ia taahu, satu per satu kenangan melesak dalam dirinya, antara masa lalu dan kehidupannya saat ini tersusun dan memilih jalan yang berbeda, mereka terbatasi, mereka kembali pada tempatnya masing-masing. Dan, hal terakhir yang ia ingat di tempat itu adalah ... dua benang merah yang terikat itu, bergabung dengan benang berwarna putih.

***

"Erza...," suara yang amat ia kenali menelusup masuk ke pendengaran dengan amat lembut, memanggil namanya.

Ia ingin membuka mata dan membalas suara itu, namun cahaya yang begitu silau seolah menghalanginya. Untung, matanya perlahan mulai menyesuaikan diri dengan cahaya putih itu. Cahaya yang seputih cahaya malaikat. Dan malaikatnya benar-benar hadir di hadapannya.

"Sampai kapan mau tidur?" Itu mama. "Liat jam, Erza!"

Suara yang ia rindukan. Ah, ia masih saja melindur. Atau, sudah terlalu lama tidur sampai-sampai otaknya belum bisa mengingat apapun.

"Erza bangun!" pekik mama yang pada akhirnya membuat Erza terlonjak.

Tidur yang amat damai. Sampai-sampai ia tak takut dengan ocehan mama kali ini. Perlahan tubuhnya bergerak, kemudian-

Deg

"Mama...."

***

Bogor, 6 Mei 2018
22:33 WIB

Boleh teriak, gak, sih?! Aaaaargh, aku gak pernah ngeduga kalau bakal ada adegan ini. Lol, kalau kalian tahu aku itu sering nulis ga pake outline.

Dan jangan menatapku seolah menggantungkan cerita ini adalah kesengajaannku.

Lalu, lalu, sepertinya ini juga akan tamat lebih cepat dari yang kuduga. Dan mungkin bakal batal ikut MWM karena cerita ini akan segera tamat―kalau aku nggak belok di tengah jalan nanti.

Yay, sekian, semoga masih menikmati cerita ini. Kalau ada yang janggal jangan lupa bilang dan ... sampai jumpa chapter depan! See ya~

Regards

Nari

Love Life a Reincarnation Couple [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang