Flashback Mode. Ini gak ada di LLaEC versi wattpad. Ada di versi revisi punyaku. Happy Reading!
***
Janji itu....
Saat itu langit malam benar-benar dingin, Hellen merapatkan jaketnya untuk menghalau udara yang berusaha menerpanya, tapi usahanya tetap saja sia-sia.
Padahal, ia ada dalam dekapan Erza. Ah, mereka terbang sangat tinggi, ya? Bahkan konstelasi bintang itu terlihat semakin dekat dan seolah akan tergenggam oleh tangan kapan pun jua.
Perlahan, kecepatan terbang Erza berubah. Menjadi lebih lembut dan udara dingin sudah tak begitu terasa pada kulit Hellen. Pemandangan yang ada di sekitar pun tak lagi sama.
Dari langit yang berwarna biru gelap, kini mulai berawan. Sampai, Erza terbang ke arah bawah. Menuju tempat yang dari kejauhan sangat berkilau walau tertutupi awan.
"Za, kita udah sampai?" tanya Hellen.
Erza yang sebelumnya terus menatap ke depan kini menoleh. Kembali menggoreskan senyumannya. "Sebentar, oke?" Cara bicaranya, benar-benar menyentuh sampai ke relung hati.
Hingga, sebuah daratan sebening kristal dan berkilau itu ada di bawah mereka. Erza menjejakkan kakinya terlebih dahulu. Kemudian menurunkan Hellen.
Gadis itu langsung terdiam kala menjejakkan kakinya di tempat itu. Sangat-sangat indah. Bahkan kata itu pun tak dapat mewakili keindahan tempat ini. Hellen benar-benaar terpana.
Bak sebuah mesin pendeteksi, matanya menerawang ke seluruh tempat ini tanpa terkecuali. Ia bahkan tak bisa percaya kalau ada tempat seindah ini di alam semesta.
Ya Tuhan, kalau memang ini mimpi. Ia rela tak bangun lagi. Ini seolah tipu daya yang manis, tapi walau ini tipuan sekali pun. Ia tak ingin meninggalkannya.
Tanpa sadar, ada air mata yang meleleh dan mengalir di pipinya.
"Za ... what should I say?" tanya Hellen.
Ia bahkan ragu untuk mengucapkan hal itu. Keindahan tempat ini benar-benar menghipnotisnya. Sama seperti sosok lain yang ada di sini.
"Gue enggak bohong, kan?" Erza memandang gadis itu sejenak, kemudian menyeka air mata yang masih membekas di pipi gadis itu. "Gue cuma mau nunjukkin Lo sesuatu," tambahnya kemudian berjalan.
Dengan ragu Hellen mengikuti langkah kaki Erza. Kaki yang indah tanpa alas apapun. Sosok itu benar-benar menyatu dengan tempat ini. Ah, sebodoh inikah dirinya?Tentu saja, Erza memang bagian dari tempat ini. Dan kalau dipikir, kenapa bisa ia bertahan di rumahnya padahal ia punya tempat seindah ini untuk pulang?
Namun, Hellen juga sadar akan satu hal. Tempat ini begitu sepi. Kalau ia tinggal di sini, ia mungkin akan.... Kesepian? Batinnya bertanya sekaligus menyatakan.
Tap
Langkah Erza terhenti. Hal itu membuat Hellen menabrak punggungnya.
"Lo jalan duluan." Tiba-tiba, Erza berkata dingin.
Ada yang salahkah pada dirinya? Hanya itu yang Hellen pikirkan. Ia tak berminat untuk menjawab.
Karena biasanya, saat dirinya sendiri berbicara dengan nada yang dingin nan menusuk itu. Ia hanya ingin dituruti tanpa ada seorang pun yang membantah.
Ah ya, mereka ada di hadapan bangunan yang menjadi tempat benang merah gadis itu berada. Ruang takdir tempat semuanya bermula.
Hellen mengangguk pelan, ia melangkah terlebih dulu dibanding sosok itu. Dari situ, ia juga bisa mendengar langkah kaki Erza yang amat pelan, mengikutinya dari belakang.
Sampai, Hellen menghentikan langkahnya di depan sebuah kotak. Kotak kaca yang kelihatan membeku karena ... dari atasnya turun butiran salju. Lantas, tanpa sadar tangannya mengelap kotak kaca tersebut dengan perlahan. Setelah butiran salju itu hilang. Sontak, matanya membulat kala melihat apa yang ada di balik itu.
Tiga benang merah yang terikat satu sama lain.
Sementara Erza yang ada di belakangnya hanya mengulas senyum miris. Jujur saja, ini benar-benar menyakitkan. Ah ya, ingatkan kalau ia sudah berlebihan dalam berpikir.
"E-Erza...." Hening di tempat ini terpecahkan. Suara gadis itu sedikit bergetar. Bohong kalau ia tak ingin menangis. Ia mengerti apa yang ada di hadapannya. Ia paham betul.
Sementara yang dipanggil seolah bungkam dan enggan untuk menjawabnya. Rahangnya sudah mengeras dan sebenarnya ia tengah menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tak ingin isakkannya lepas tapi....
Bruk....
Erza menjatuhkan tubuhnya sekaligus mendekap gadis itu dari belakang. Dan, entah ada kekuatan dari mana, gadis itu masih mampu berdiri tegak dan menopang tubuh Erza. Hingga, tangannya mengusap tangan Erza yang mendekap tubuhnya.
"Gue ngerti, Za," kata gadis itu. Kalau keadaannya seperti ini. Ia yang harus menguatkan. "Tiga benang itu ... punya kita, kan?"
Erza membuang napasnya kasar, napas yang terasa amat dingin dan terasa di tengkuk Hellen.
"Lalu, salju yang turun itu adalah waktu. Terus menerus jatuh dan nantinya seolah meleleh padahal membekukan dan bikin kita kedinginan. Tapi semua itu gak bisa kita elak, semua harus berjalan sesuai apa yang dikehendaki-Nya."
Sebenarnya, Hellen tak tahu apa yang ia katakan benar atau salah. Tapi, menurut pandangannya, itulah analogi dari apa yang kini ada di hadapannya.
"Lo pasti bisa," ujar gadis itu meyakinkan. "Mungkin nggak sekarang, tapi gue yakin kalau suatu hari nanti, cinta Lo bakal terbalas. Bahkan lebih besar dari saat ini."
"Tapi-"
"Lo yang dulu bilang, kalau gak ada yang gak mungkin di dunia ini," potong gadis itu.
Ya, memang tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Semua kemungkinan dapat terjadi selama waktu masih mengalir.
"Sekarang, di tempat yang indah ini. Sama kayak waktu itu, Lo harus janji kalau suatu hari nanti akan datang jadi sosok yang bisa dicintai lebih dari dia, ya?"
Dalam hati, sosok itu berjanji. Di tempat yang teramat indah ini. Sama seperti waktu itu.
***
Bogor, 28 Januari 2018
20:00 WIB
After Rain in Rain City
AAAAAA AKU GAK TAU MESTI NGOMONG APA. OMGOMGOMG! Ku juga ga ngerti sama otak ini yang mendadak buka Lappy dan bongkar chapter rahasia yang biasanya jadi konsumsi buat baper sendiri. Oke, ampuni. Ini nggak ada di LLaEC wattpad. Setidaknya sampai aku nulis ini belum ada. Suatu hari entah di mana―selain di LLaRC―bagian ini pasti nongol. Tentunya ini cuma sedikit, belum full karena yang di lappy itu banyak dan kupikir bakal kepanjangan dan kelamaan flashback. Gak baik inget yang lama-lama kelamaan /iyainaja/
Ya, intinya bagian ini cuma segini. Aku seneng bisa fast up sama kayak 2.5D―padahal besok ada DL turnamen dan itu belum kusentuh sedikit pun. Yash, semoga suka dan gak ngerasa aneh.
Saranku, gak usah kebanyakan flashback sama LLaEC wkwk ( Padahal sendirinya gitu ) karena seperti yang pernah kubilang―pernah gak sih?―LLaRC bisa dibaca misah sama LLaEC. Walau kenyataannya emang lebih enak baca LLaEC dulu karena kalo menurutku lebih baper bawaannya /disepak
Sudah yaaa, kebanyakan ngoceh. Sekian, sampai jumpaaaaa!
Regards
Nari🐰💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Life a Reincarnation Couple [END]
Fantasy[ WARNING! Jangan Berekspetasi Terlalu Tinggi. ] Sequel Love Life an Enemy Couple. *** Kelahiran membuat ia lupa akan segalanya. Yang ia tahu, ia hanya manusia normal. Ya, siapa yang tahu dengan kehidupannya di masa lalu. Seiring berjalan...
![Love Life a Reincarnation Couple [END]](https://img.wattpad.com/cover/94916059-64-k100213.jpg)