RE 17: He Know

269 50 42
                                        

"Kenapa, Ma?"

Ya Tuhan! Ya Tuhan! Apa yang baru saja Erza katakan? Kenapa pula Aya tak mampu mengalihkan pandangannya. Bahkan sampai saat ini Erza masih memasang wajah itu. Sementara jantung Aya terus saja berdetak kencang. Bibirnya ia gigit kuat-kuat karena entah kenapa ia ingin menangis.

"Aya ... lo nggak apa?" tanya Erza. Suara itu benar-benar punya efek yang luar biasa. Efek yang mampu membuatnya seolah lumpuh seketika.

Dalam kuncian pandangan Erza. Bola mata berwarna cokelat kehitaman itu seolah tak memberikan jalan. Tak mengizinkannya untuk melirik ke arah lain barang sedetik pun. Bola mata itu....

Cklek ... tang....

Namun tiba-tiba, terdengar suara besi yang saling bersinggungan. Itu suara pintu permainan ini yang dibuka. Aya seketika mengerjap dan mengalihkan pandangannya. Kuncinya terlepas begitu saja.

"Ma, Pa, ayo turun!" ajak Ruri yang tengah tersenyum riang.

Erza seketika menoleh. Kemudian mengikuti jejak langkah bocah itu. Berjalan ke depan seolah hal yang baru saja terjadi itu tidak ada.

Sialan! Aya merutuk dalam hati sebelum akhirnya mengikuti dua makhluk yang sudah berjalan menjauh itu. Setidaknya, jantung miliknya bisa beristirahat sebentar.

***

"Makasih buat hari ini, Pa!" kata Ruri begitu sampai di depan gerbang rumahnya―rumah Aya maksudnya.

Sementara Erza mengulas senyum lembut pada bocah itu. Kemudian menepuk puncak kepalanya beberapa kali hingga bocah lelaki itu merasa kesenangan.

"Papa juga seneng," kata Erza yang membuat jantung pendengar satu lagi mendadak menyentak. Hari sial baginya.

"Ruri, ayo masuk!" ajak Aya diiringi anggukan bocah itu. Namun, saat Aya hendak berjalan masuk dan menarik Ruri. Tangannya langsung dicekal.

Ngapain lagi? batin Aya.

"Ruri masuk duluan sana," kata Erza sambil tersenyum untuk yang ke sekian kalinya. "Papa mau bicara sama Mama."

Deg

Sialan, Erza, sialan! Mati lo! Mati, mati! Mulutnya kagak disaring ya ampun!

Aya langsung mengoceh dalam hati usai Erza mengatakan hal paling bodoh di dunia ini. Demi apapun! Nasib jantungnya dipertaruhkan di sini.

Ruri kembali tersenyum, "Oke!" Kemudian ia berjalan masuk ke dalam pagar. Meninggalkan dua insan yang bisa diyakini akan dilanda kecanggungan.

Aya menundukan wajahnya dalam-dalam. Sejujurnya sejak tadi dalam bianglala saja ia sudah tak tahu harus disimpan di mana wajahnya saat bertemu Erza. Apa lagi sekarang.

"Ya," panggil Erza tapi tak dihiraukan oleh Aya.

Sejujurnya Aya takut. Aya takut kalau masa lalu itu terulang kembali. Ia terlalu takut untuk kembalu jatuh. Terlebih ia seorang diri.

Perlahan, terdengar isakkan kecil dari bibir Aya. Ia sendiri tak mengerti dan tak tahu sejak kapan air matanya mulai merespon. Ia ... tak tahu apa yang harus ia lakukan pula saat ini.

"Sst," kata Erza yang kemudian mendongakkan wajah Aya sehingga matanya bertemu dengan mata Erza.

Yang satu mata dengan kristal cair, yang satu lagi mata dengan cahaya bersinar.

"Apa-apaan sih?!" kata Aya yang langsung memalingkan wajahnya. Namun gagal karena cekalan tangan Erza begitu kuat. Dasar cowok.

Sementara Erza langsung menunjukkan cengirannya. Demi langkah pertama di Glare Heart! Ini sosok Erza yang sesungguhnya. Sosok Erza masa lalu yang seolah kembali.

Senyuman itu..., batin Aya seraya mengingat masa-masa itu.

Ingatan itu membuat air matanya kembali meleleh. Kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Sesuatu yang ia pendam seolah tercurah di sini.

Tanpa aba-aba, Erza langsung menarik Aya dalam dekapannya. Hatinya berkata seperti itu di sisi ia gengsi dan ingin tertawa melihat Aya yang seperti ini.

"Lo apa-apaan, sih? Haha," kata Erza sambil tertawa. "Gue ngomong aja belum udah nangis. Payah, ah, hahaha."

Bukannya berhenti, isakkan Aya yang kini semakin mengeras. Namun Erza bersumpah, ia tak merasa sedih sedikit―ada, sih. Hanya saja ia malah bingung sendiri.

"Bego!" kata Aya di sela isakkannya.

"Anjir, malah ngehina," kata Erza. Namun saat itu ia mengeratkan dekapannya. Tanpa sadar Aya membalasnya dan sempat membuat tubuh Erza menegang.

Senjata makan tuan.

"Gue tau, Ya," kata Erza, "gue udah tau hal yang sebenernya."

Aya terdiam. Demi apapun! Ia tak berani mendongak apa lagi sampai melihat wajah Erza. Terlebih ... apa-apaan tangannya?! Sejak kapan ia membalas dekapan makhluk di hadapannya.

"Karena gimanapun juga, itu kenyataannya, bukan? Ya, walau gue tau kalau semua ini sangat-sangat aneh nan mustahil," kata Erza, "tapi ini hidup kita. Jalani apa itu takdirnya."

"Ta―Tapi...."

"Kenapa? Lo nggak suka kalau kenyataannya gue pasangan lo? Sosok yang ditakdirin sampai akhir sama lo?"

Tahan, Aya! Tahan! Oh tidak, air matanya kembali luruh. Erza memang sialan. Bisa-bisanya ia memporak-porandakan dirinya.

"Tapi boleh gue minta tolong?" kata Erza yang sontak membuat Aya menegang. Demi, rasa takutnya kini menjalar sampai ke setiap inchi tubuhnya.

"Mi―minta tolong?"

Erza mengangguk. Sampai Aya merasakan sesuatu yang hangat mengenai puncak kepalanya. Hangat, sangat hangat hingga air matanya kembali meleleh.

"Buat aku kembali pada ingatanku."

Dan saat itu Aya tahu. Kalau sesuatu yang besar akan kembali terjadi dalam hidupnya. Masa depan yang sama mungkin akan terulang kembali.

Seperti halnya hal-hal yang menyakitkan itu.

***

Bogor, 8 Agustus 2017
22:01 WIB

Maaf gak bisa banyak-banyak. Semoga apa yang kuharapkan tersampaikan! Mata na~ ^-^

Regards


Nari

Love Life a Reincarnation Couple [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang