Deg
"Mama...."
Hellen menatap putra sulungnya bingung. Sementara Erza tampaknya sudah menyadari sesuatu. Semuanya telah kembali seperti biasa. Oleh karena itu....
"Ruri mana, Ma?"
Hellen mengerutkan keningnya bingung. Ia tak tahu apa yang ditanyakan oleh Erza. Itu sebuah nama atau apa? Erza sepertinya amat menunggu jawaban itu, tapi....
"Ruri siapa, Za?"
Deg
Jantungnya mendadak terpompa begitu kencang. Membuatnya berinisiatif untuk segera turun dari tempat tidurnya. Lantas bergegas memakai seragamnya. Tak ada waktu lagi untuk mandi. Sementara Helleb hanya geleng-geleng kepala melihat kelakukan putranya.
Semua benar-benar kembali seperti biasa. Kembali begitu saja. Hanya saja, Erza tidak mendapat efek dari semua itu. Ia masih mengingatnya. Dan ia harus bergegas menemui sosok itu sebelum―
Lo tau dan sebenernya lo gak mau semua itu terjadi, batinnya berteriak.
Gerakan Erza semakin cepat. Ia sudah tak peduli lagi dengan apa yang harus ia masukkan dalam tas. Setidaknya, ini semua bisa jadi alasan untuk ke luar rumah. Dan ia juga harus segera menemui Aya. Karena bagaimanapun juga, mereka akan selalu terikat di sepanjang kehidupan ini.
"Ma, Erza berangkat!" seru Erza yang baru saja menyambar kotak bekal di meja makan. Sementara papanya hanya memandang Erza bingung. "Erza berangkat, Pa! Duluan."
"Tu―tumben dia nggak lemot?"
Erza tak peduli hal itu meskipun ia mendengarnya, ia langsung bergegas dan ke luar rumah. Berjalan cepat ke rumah pagar tinggi yang ada di seberang kemudian....
"Aya!" panggil Erza sambil membuka gerbang kayu yang tak terkunci itu. Ia sudah tak peduli lagi kalau dibilang tidak sopan. Sementara dari dalam tak ada jawaban. "Aya!"
Panggilannya masih diabaikan. Sesekali Erza mengintip rumah itu dari jendela yang dibalut tirai transparan di dalamnya. Sepi. Sepertinya tidak ada orang. Namun, ia tak bisa diam begitu saja. Ia....
"Sayaka Anastasia!" panggilnya lagi. Kali ini pakai nama lengkap. Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat. Sebelum akhirnya pintu yang ada di hadapannya terbuka.
Cklek
"Ah, Erza." Itu mamanya Aya. "Maaf tante lagi di belakang, ada apa?"
"Aya-nya ada?"
Sepintas wanita itu terlihat kaget. Ia juga. Erza memang jarang mampir ke rumah mereka untuk mencari Aya, biasanya hanya mengantar kue buatan mamanya saja. Erza jadi sedikit kikuk di sini. Malu juga.
"Aya udah berangkat," jawabnya masih setengah sadar. Maksudnya, lihat cara menjawab dan tatapannya. "Tadi pagi buru-buru banget, katanya mau nyari―"
"Ruri?" potong Erza.
Wanita itu mengangguk. "Temen sekelas kali―"
Belum selesai dengan pertanyaan, Erza langsung memotongnya dengan pergi meninggalkan wanita itu kebingungan. Lantas berteriak dari jauh.
"Maaf, Tante! Erza buru-buru."
***
Hampir satu jam Erza di perjalanan, kini ia tinggal berjalan lurus sebelum akhirnya sampai di sekolah. Mungkin—sudah jelas—ia datang kesiangan, namun ia sudah tidak peduli lagi. Well, hal ini akan jadi perdana bagi seorang Erza, kesiangan. Lagipula tak akan ada yang peduli hal itu, ya, sama halnya dengan pikirannya pada orang-orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Life a Reincarnation Couple [END]
Fantasy[ WARNING! Jangan Berekspetasi Terlalu Tinggi. ] Sequel Love Life an Enemy Couple. *** Kelahiran membuat ia lupa akan segalanya. Yang ia tahu, ia hanya manusia normal. Ya, siapa yang tahu dengan kehidupannya di masa lalu. Seiring berjalan...
![Love Life a Reincarnation Couple [END]](https://img.wattpad.com/cover/94916059-64-k100213.jpg)