Aya melamun di pojok kelas seorang diri. Sejujurnya ia menunggu Ruri datang ke sini. Iya, Ruri. Nama itu terdengar lebih baik dan manusiawi dibanding Bright. Oke, ia juga punya nama lain―kenyataannya Glow. Soal menunggu ... bagaimana ya menjelaskannya? Intinya bocah itu ikut ke sekolah. Berubah sosok menjadi Bright agar tak terlihat orang lain selain dirinya. Dan berubah sosok jadi Ruri saat ia ingin jajan―dengan alibi mengaku sebagai anak dari salah satu guru yang ada.
Gekkk
Seseorang yang baru saja duduk di samping Aya. Refleks, gadis itu menoleh sambil tersenyum.
"Ru―eh ..., lo?" Senyuman Aya seketika hilang.
"Pagi," balas sosok itu. Ya, itu Erza.
Sosok itu tersenyum. Mau tak mau Aya mengangguk. Kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
Sepi. Oh, hanya ada mereka berdua di kelas. Ini memang masih terlalu pagi. Walau sebenarnya bukan mereka saja yang sudah datang. Yang lain ada beberapa. Hanya saja mereka keluar entah kemana. Meninggalkan tas mereka di bangku masing-masing. Ya, mungkin sarapan.
Sepi. Sudah berapa kali hal itu terucap? Ayolah, Aya benar-benar benci situasi ini. Ia tak mungkin terus menatap ke depan dan mengabaikan sosok Erza yang tengah memainkan ponselnya. Ah ya, tumben dia pegang ponsel. Biasanya tak seperti itu.
Tarik napas, lalu buang, batin Aya. Ruri juga lama banget, sih.
Ya, sekalipun ada Ruri. Mereka tetap bisa bicara tanpa ketahuan siapapun. Tentu saja karena mereka punya telepati. Ingat 'kan saat Aya berucap kalau Ruri imut?
Tap... tap... tap...
Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Oke, ini keterlaluan sepinya berarti! Perlahan Aya sadar kalau suara itu bukan sekedar langkah melainkan suara seseorang berlari.
Mendekat. Suara itu semakin terdengar jelas. Sampai ia bisa melihat sosok boca yang sedang membawa sekantung makanan ringan di tangannya. Itu Ruri.
***
Erza berulang kali menjelajahi ponselnya. Sejujurnya ia bosan. Tak ada yang menarik di dalam kotak yang biasanya tak pernah lepas dari tangan orang-orang. Kecuali foto-foto keluarganya.
Di sisi lain, ia tak mungkin mengajak bicara orang yang ada di sampingnya. Entah sampai kapan mereka berdua terus seperti ini. Tapi sungguh, bukan keinginannya untuk tidak mengacuhkan sosok tersebut.
Sampai, telinganya merasakan getaran yang berubah jadi suara. Yang ia tahu pasti. Itu adalah suara orang yang tengah berlari. Tapi...
Pagi-pagi udah lari. Telat aja kagak. Anak SMA? batinnya ragu.
Lagipula untuk apa pagi-pagi lari sementara jam masuk masih sekitar 45 menit lagi. Ia ragu kalau yang lari itu anak SMA. Ya, kecuali mama, sih. Dulu mama sering bilang kalau ia sering lari-larian di koridor. Katanya menyenangkan.
Bocah, batinnya tanpa sadar.
Sampai, sesosok anak kecil masuk ke kelas. Erza membelalakan mata saat sosok itu berjalan ke arahnya. Maksudnya arahnya dan Aya. Jangan lupa dengan senyuman manis itu ... hei, bukannya ini bocah yang waktu itu tapi....
Oh, Ya Tuhan! Apa lagi ini?!
Erza menyadari sesuatu yang ada di balik punggung bocah kecil itu. Benda yang menurutnya adalah kesialan dan bisa mengubah statusnya jadi siluman dadakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Life a Reincarnation Couple [END]
Fantasy[ WARNING! Jangan Berekspetasi Terlalu Tinggi. ] Sequel Love Life an Enemy Couple. *** Kelahiran membuat ia lupa akan segalanya. Yang ia tahu, ia hanya manusia normal. Ya, siapa yang tahu dengan kehidupannya di masa lalu. Seiring berjalan...
![Love Life a Reincarnation Couple [END]](https://img.wattpad.com/cover/94916059-64-k100213.jpg)