Rumah sepi. Itu yang Erza temukan seusai perjalanannya dari sekolah. Tumben sekali, pikirnya. Biasanya rumah selalu ramai dengan gerecok heboh papa dan mama. Ditambah ocehan Naira. Keluarga yang mungkin sangat diidamkan orang-orang. Ya, bagaimanapun Erza bersyukur memiliki keluarga seperti mereka. Dan see? Baru satu hari sepi seperti ini. Rasanya seperti kehilangan sesuatu.
Bip
Sebuah nada terdengar dari kantong celana milik cowok itu. Tanpa basa-basi ia langsung merogohnya. Kemudian membuka sebuah pesan yang tentu saja baru baru masuk itu. Dari mama.
Erza, mama sama yang lain pergi. Kemungkinan pulang lusa, maaf ya? Uang ada di atas meja mama. Jangan lupa makan. Nanti mama bawain sesuatu ( kalo sempet ) Hati-hati di rumah.
Erza tersenyum tipis membaca pesan itu. Bukan, bukan karena ia bahagia ditinggal sendiri. Melainkan kepedulian mama yang sejak dahulu tak pernah berubah. Ia benar-benar menyukai hal itu. Padahal umurnya sudah menginjak 17 tahun. Uang? Apa mama tak tahu kalau setiap anak lelaki selalu menyisihkan uangnya. Mama benar-benar. Wanita terbaik yang sampai saat ini ia temui.
Hati-hati kalian juga. Makasih banyak, Ma.
Setelah mengetikkan hal tersebut. Erza segera mengirimnya. Kemudian meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja. Lalu segera berjalan ke arah kamar orangtuanya.
***
"Banyak banget," gumam Erza saat menemukan uang yang mama simpan di atas meja.
Tanpa sadar pandangannya beralih ke sebuah benda yang membuat matanya menyipit. Di dekat jam weker, ada sebuah kotak kaca yang isinya bubuk berwarna merah berkilau. Namun ada sebagian kecil yang membentuk batuan.
Kristal?
Ya, itu benar-benar kristal. Erza tak mungkin salah lihat. Sebuah kristal yang tampak hancur. Ah, mungkin kalimat yang tepat ialah kristal yang benar-benar hancur. Kristal apa pula?
"Palingan bandul kalung," katanya tanpa sadar.
Di sisi lain, hatinya merasa ada yang janggal. Iya ini sebuah kristal. Tapi, kenapa bisa sehancur ini? Demi apapun, Erza bukan seseorang yang bodoh. Kristal kalau sebatas jatuh tak akan sehancur ini. Kecuali tertimpa benda yang sangat berat.
Lagipula, kenapa mama masih menyimpannya? Seingat Erza ini bukanlah hadiah dari papa. Cincin pernikahan, kalung, dan semuanya yang ada hubungannya dengan papa selalu mama pakai sampai saat ini.
Perlahan, tangan Erza terulur mengambil kotak itu. Demi apapun, rasa penasarannya sudah melewati batas. Ia mulai membuka kotak kaca itu. Kemudian menyentuh kristal itu dengan perlahan.
"Tuh kan, cuma kristal biasa," gumamnya sambil terus memerhatikan kristal di tangannya.
Pikiran lo aja yang kelewatan, batinnya.
Namun tanpa Erza sadari. Tangannya mulai bercahaya. Ah, tepatnya kristal yang ada di tangannya. Cahaya itu mulai meluas. Semakin terang dan si empu tubuh yang melihat tak bisa melakukan apapun, ia terlalu kaget. Perlahan, cahaya itu menyelimuti tubuh Erza.
Ini apa, suaranya tercekat. Tak ada suara keluar dari bibirnya. Erza benar-benar panik dengan semua ini. Tapi ia tak bisa melakukan apapun. Tubunya seolah beku. Perlahan, matanya terpejam. Dalam hati ia sudah wanti-wanti. Mengucap selamat tinggal pada keluarganya. Meminta maaf atas segala kesalahannya. Ia takut mati saat ini. Ia benar-benar takut.
Tanpa cowok itu sadari, cahaya itu mulai meredup. Kemudian menyisakan sosok Erza yang terduduk lesu di lantai. Ia seolah punya beban di punggungnya. Namun yang ia tahu, ia tidak mati dan bersyukur akan hal itu.
Perlahan ia bangun dari tempatnya. Menatap kaca seukuran tubunya yang kini ... membuatnya membelalakan matanya. Matanya belum rabun. Perlahan ia memutar lehernya ke belakang. Mendapati sesuatu yang tak bisa ia percaya saat ini.
Itu ... sepasang sayap.
***
"Gimana ngilanginnya?!" Erza frustrasi saat berulang kali menyadari keberadaan benda itu yang ... nyata. "Demi apapun, gue bisa gila."
Sekarang ia sedang ada di kamarnya. Jendela ia tutup rapat-rapat. Ia tak mau orang-orang mengiranya siluman siang bolong ala sinetron salah satu saluran TV swasta. Siapa yang akan percaya ia manusia saat ini?!
Selama 17 tahun―lebih―ia hidup. Kesalahan apa yang telah ia buat sampai-sampai ada benda―yang katanya sayap―nyangkut di punggung miliknya. Bahkan ia tak bisa tidur siang saat ini. Bagaimana bisa?!
"Gue dosa apa ya ampun," gumamnya.
Ini tak seperti Erza yang biasanya. Monolognya terhitung panjang dibanding―dialog―kehidupan biasanya. Kena juga ia jadi bawel dan banyak ngoceh seperti ini?!
Pikirannya mulai melantur kemana-mana. Bagaimana kalau nanti mama, papa, dan Naira tahu? Apa ia kan diusir dari rumah karena dianggap siluman. Rasanya ia menyesal telah menyentuh kristal milik mama itu. Ia ingin mati.
Set, ia mencoba menggerakkan sayap―miliknya―itu. Benda itu bergerak. Kemudian ia menyentuhnya, membuatnya merinding sampai ke punggung-punggung.
"Ini asli anjir," rutuknya pada diri sendiri, "Mama, Erza takut!"
Oke, sifat kekanakannya ternyata bisa kembali di saat-saat seperti ini. Seorang Erza yang katanya tak punya rasa takut, tak pernah panik. Mendadak jadi sosok yang seperti ini.
***
"Lapar~" keluhnya.
Dengan sangat terpaksa ia berjalan ke dapur sambil menyeret benda itu. Ia tak berani menggunakannya padahal sudah―mencoba―yakin kalau itu nyata. Ia takut.
Ting tong
Hell, bukan saat yang tepat buat kedatangan tamu. Erza memutuskan tuli mendadak dan sekarang menenggak habis susu cokelat yang tersisa di kulkas. Lalu mengambil beberapa kue yang tampaknya stok karya harian mama.
Ting tong
Lagi, bel itu berbunyi. Erza masih menulikan telinganya. Ia tak mau cari mati dengan menunjukkan hal itu pada orang lain. Bisa-bisa ia dijadikan pameran dadakan. Ingat seberapa gilanya negeri ini saat menemukan hal-hal baru nan aneh seperti ... ya, ini.
Ting tong
Erza mengembuskan napasnya. Bagaimana ini? Ia harus melakukan apa?
"Erza!" panggil suara yang akhir-akhir ini seringkali Erza dengar. "Lo masih idup, kan?"
"Erzanya mati, balik aja!" Tanpa sadar ia menjawab. Kemudian membekap mulutnya sendiri. "Bangke, ngapain lo jawab, Za!" rutuknya pada diri sendiri.
"Gue masuk, ya?" suara itu tak terdengar Erza. Hingga tanpa sadar cewek itu sudah ada di hadapan Erza. Dengan jinjingan kresek yang sudah jatuh.
"Sial."
***
Bogor, 24 Maret 2017
I hope you like this, thanks for your support ^^
Regards
Nari
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Life a Reincarnation Couple [END]
Fantasy[ WARNING! Jangan Berekspetasi Terlalu Tinggi. ] Sequel Love Life an Enemy Couple. *** Kelahiran membuat ia lupa akan segalanya. Yang ia tahu, ia hanya manusia normal. Ya, siapa yang tahu dengan kehidupannya di masa lalu. Seiring berjalan...
![Love Life a Reincarnation Couple [END]](https://img.wattpad.com/cover/94916059-64-k100213.jpg)