RE 13: Flash

290 52 7
                                        

"Lo bawa kristal merah yang kemaren, kan?"

Erza dengan cepat mengangguk. Semenjak pecahnya tangis mama saat itu. Ia selalu membawa pecahan dari kristal itu. Karena sebagian hatinya mengatakan kalau ada hal yang selama ini tersembunyi dan bagaimana pun juga harus ia ketahui.

Kemudian, Erza merogoh saku celananya. Mengeluarkan pecahan kristal merah yan baru saja Aya minta. Entah kenapa ia tak pikir panjang kala gadis itu memintanya untuk mengeluarkan benda penting itu.

"Ini," kata Erza seraya mengulurkan benda itu.

"Lo merem. Terus ikutin apa yang gue bilang," jelas Aya, "sepenuh hati."

Erza mendadak bungkam. Pikirannya kembali terbang pada kejadian itu. Bohong kalau ia tak takut.

"Ga ada waktu lagi," desak Aya, "cepet merem."

Mau tak mau Erza melakukan hal itu. Satu yang pasti. Aya bukanlah gadis biasa. Ia mungkin tahu hal-hal yang selama ini mulai tertanam dalam pikirannya. Juga, alasan seorang Aya menjauhinya―beberapa waktu lalu.

"Flash ... change," ucap Aya.

Erza memejamkan matanya. Mencoba meresapi kata-kata itu. Sebelum pada akhirnya mengucapkannya dalam hati.

Flash ... change.

Pandangannya mendadak buyar. Cahaya merah mulai keluar dari pecahan kristal itu. Mengelilingi dirinya sama seperti waktu itu. Namun kali ini rasa takutnya mendadak menghilang. Sampai, ia merasakan sebuah benda melekat di punggungnya―sama dengaj hari itu.

"Flash," panggil Aya membuat cowok itu menoleh.

Di sisi lain, ada suatu dengungan yang mendesak telinganya. Sangat keras hingga ia memejamkan matanya menahan rasa sakit. Namun perlahan, suara itu menghilang dan menyisakan...

"Selamat pagi warga bumi~ Flash datang!"

Dan saat itu juga. Organ di balik dada kirinya menyentak kuat.

***

Setelah penerbangan mendadak yang diperintahkan Aya pada Erza. Cowok itu kini tengah berada di atas rooftop lain yang masih ada di lingkungan sekolah. Dan satu hal yang ia pikirkan saat ini.

Gimana keadaan Aya sekarang?

Tadi, setelah Erza berubah menjadi seperti saat itu dan sekarang―ya, ia masih belum kembali. Aya langsung mendorongnya untuk pergi dengan cara mendorongnya jatuh dari atas rooftop. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi saat itu juga, mau tidak mau Erza menggunakan sayapnya agar selamat.

Ya, walau pada awalnya hampir menabrak gedung perpustakaan yang ada di sebelah kiri dan takut ada yang melihat. Tapi intinya, ia selamat dan saat ini masih kaget dengan apa yang tadi terjadi. Maksudnya, ia terbang sangat tinggi tanpa bantuan teknologi masa kini yang tentu saja pada awalnya sangat mustahil.

Tapi itu nyata, batin Erza.

Sambil menatap langit, ia kembali membayangkan hal tadi. Dua kata yang mampu membuat dirinya berubah menjadi sosok lain. Satu pertanyaannya...

Flash itu apa?

Baru saja mempertanyakan hal itu. Namun warna langit mendadak berubah. Mirip dengan tanda hal itu akan terjadi seperti biasanya. Ya, benar ternyata, hal itu terulang lagi. Kali ini...

Erza berada di sebuah ruang kelas. Dan yang ia sadari, ini adalah salah satu ruang kelas yang ada di sekolahnya. Ah, yang jadi kelasnya sekarang, bukan?

Dari tempatnya berdiri―di pojok kelas―ia dapat melihat sesosok siswa yang wajahnya mirip dengan pria yang waktu itu mendekap mama di rumahnya. Satu hal yang pasti, ia siswa baru.

Love Life a Reincarnation Couple [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang