Warning: Tidak disarankan untuk yang lemah roman kayak aku. Selamat membaca~
🌹🔔🔔🔔🌹
"Sekarang ... mau kemana?"
Aya menatap heran sosok di hadapannya. Benar, akhir-akhir ini Erza berubah menjadi lebih hangat. Mirip dengan Erza di masa lalu. Ya, mungkin kalau ia tidak salah ingat.
"Papa," panggil Ruri. Erza melirik ke arah bocah itu. Kemudian tersenyum.
Sementara Aya yang ada di dekatnya langsung tertegun. Sialnya lagi, ini berefek pada benda yang tengah berdetak dalam tubuhnya.
"Ya?" tanya Erza membuat Ruri mengembangkan senyumnya dua kali lipat. Bocah itu benar-benar bahagia. Itulah yang Erza tangkap dari tatapannya. Lalu, bagaimana mungkin ia tega padanya. Ia terlalu menggemaskan. Terlebih, statusnya sebagai ... ya, papanya, kan?
"Papa ganti baju dulu," kata Ruri membuat ekspresi Erza berubah seketika. Demi apapun, ia mirip sekali dengan Ruri saat ini. Hanya saja versi dewasanya. Dan lagi, Aya yang menangkap ekspresi itu hanya bisa mematung.
Tak lama, Erza mengulas senyumnya kembali. Kemudian mengelus kepala Ruri dengan lembut. Hingga bocah itu tersenyum kesenangan.
"Mau ikut papa?" tanya Erza dan langsung diiringi anggukan dari Ruri. Polos tanpa dosa.
Aya yang sejak tadi terjebak dalam lamunannya langsung mengerjap. Menyadari bahwa Ruri sudah lepas dari genggamannya. Ikut bersama sosok yang tak lain adalah ... pasangannya secara tak langsung. Ya, memang menggelikan saat ia sendiri tahu akan hal itu. Tapi, itulah kenyataannya.
"Lo duduk dulu aja," kata Erza pada Aya. Sementara Ruri sudah senyum-senyum dalam gendongan Erza. Ugh, padahal ukuran tubuh bocah itu sudah lumayan.
Aya menurut, ia tak banyak protes karena tak ingin berbasa-basi. Baiklah, ia akui kalau ia sudah tak sabar pergi bersama kedua orang itu. Dua orang yang terikat dengannya secara tidak langsung.
Sementara di sisi lain. Erza tengah membuka lemari pakaiannya. Mencari pakaian yang sekiranya pantas untuk keluar. Well, tak biasanya ia seperti ini. Tapi ya, sesekali bukan masalah.
"Alry," panggil Erza pada Ruri.
Bocah yang tengah mengayunkan kakinya berulang-ulang itu langsung menghentikannya. Kemudian menatap Erza yang hanya terlihat punggungnya saja.
"Ada apa?" tanya Ruri. "Eh, papa panggil Alry, ya?" timpanya.
Erza menoleh dengan cepat. Kemudian mengangguk seraya memakai kaos oblong berwarna navy kesukaannya.
"Mama kamu siapa?"
***
Erza turun sambil menggenggam tangan Ruri. Bocah itu masih saja setia dengan senyumannya. Seolah kebahagiaannya takkan pernah pudar dan akan abadi selamanya.
Aya yang menunggu di sana hanya menatap dengan tatapan kaget. Ah, sudah berapa kali ia tertegun seperti saat ini. Kenapa seorang Erza jadi punya pesona sekuat ini. Ayolah, ini lebih menggelikan lagi.
"Ma, ayo berangkat!" ajak Ruri.
Aya hanya mengulas senyum tipis. Tak menyadari bahwa panggilan itu sebenarnya sangatlah sensitif dan bisa membuat Erza tahu akan segalanya. Kecuali kalau ia memang sudah tahu akan hal itu. Tapi kan... sudahlah. Pada akhirnya Erza tahu akan hal itu, bukan?
Ruri mengamit tangan Aya. Kini bocah itu sudah berada di antara Erza dan Aya. Benar-benar mirip keluarga kecil. Ah, ini membuat Erza teringat akan adegan dalam salah satu cerita. Entah cerita apa itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Life a Reincarnation Couple [END]
Fantasía[ WARNING! Jangan Berekspetasi Terlalu Tinggi. ] Sequel Love Life an Enemy Couple. *** Kelahiran membuat ia lupa akan segalanya. Yang ia tahu, ia hanya manusia normal. Ya, siapa yang tahu dengan kehidupannya di masa lalu. Seiring berjalan...
![Love Life a Reincarnation Couple [END]](https://img.wattpad.com/cover/94916059-64-k100213.jpg)