Jam istirahat belum lama berbunyi. Aya yang sedari tadi melihat Ruri belum makan langsung mengajaknya ke rooftop yang berada dekat gudang belakang. Ya, kalau rooftop lain pasti sudah ditempati beberapa orang. Setidaknya tak ada yang mengetahui keberadaan Ruri―selain Erza―sekarang.
"Kamu pake nyeplos depan Erza segala," kata Aya sambil menuntun Ruri menaiki tangga.
Bocah itu sepertinya tak peduli. Ia berjalan dengan santainya sambil bersenandung sebuah lagu yang tak Aya paham artinya. Bahasa makhluk-makhluk sana mungkin.
Sesampainya di atas, Aya langsung duduk bersandar pada pagar pembatas. Cahaya matahari pun tak luput menemani mereka. Setidaknya keangkeran tempat ini seolah menghilang. Ya, walau Aya cuma mendengarnya dari rumor saja.
"Makan dulu," kata Aya sambil menyerahkan roti cokelat kepada Ruri.
Ruri mengangguk. "Makasih, Ma."
Tanpa sadar Aya mengulas senyumnya tipis. Lalu ikut makan roti yang sudah disiapkannya tadi pagi. Roti cokelat yang sama dengan milik Ruri.
"Papa nggak kesini?" tanya Ruri yang bibirnya sudah belepotan cokelat.
"Tadi 'kan Mama udah bilang," kata Aya pasrah.
Sejujurnya ia bingung mau berkata apa pada Erza. Terlalu banyak yang ia sembunyikan dari cowok itu. Kalau semuanya ia ketahui secara bersamaan. Bukan tak mungkin Erza memilih bunuh diri. Walau Aya yakin Erza tak akan melakukan hal itu.
"Ruri mau ketemu sama papa," katanya sambil merengut.
Dia mulai lagi, batin Aya kemudian menarik napasnya panjang. "Tadi 'kan di kelas ketemu. Entar juga pas masuk ketemu lagi."
Bukannya mengangguk. Ruri malah mengeluarkan bulir air dari matanya. Ia sudah siap menangis seperti tadi pagi.
Ruri menundukkan kepalanya. Mengusap air mata yang perlahan mengalir di pipinya. Alih-alih berhenti menangis, wajahnya kini malah memerah kemudian....
"Ruri mau bicara sama papa! Bukannya ketemu doang sambil diliatin sinis sama papa! Ruri mau sama papa, Ma!"
Bocah emang bocah, rutuk Aya dalam hati.
Tapi untuk alasan apapun ia tak tega melihat muka bocah itu jadi seperti ini. Di sisi lain ia tak mungkin bilang kalau Ruri adalah anaknya dengan Aya. Bisa mati ditempat karena malu. Terlebih kalau ingat perasaan lamanya sebagai Glow.
"Ru--ri...."
"Ruri mau sama papa, Ma!"
"Ru―"
Tiba-tiba sayap Ruri sudah membantang. Sosoknya sudah berubah tanpa Aya sadari. Kemudian dikepakannya sayap itu dan....
"Ruri, kamu mau kemana?!" pekik Aya yang kini mengejar bocah yang sudah berada di antara angin bertiup.
"Jangan cari Ruri!" teriaknya sambil berbalik menatap Aya.
Semantara gadis itu terdiam mematung di antara pagar pembatas. Tak bisa mengejar. Ia tak membawa kristal miliknya ke sekolah. Terlebih...
Aku gak mungkin berubah di sini, batinnya.
***
Aya kembali ke kelas dengan lesu. Sepanjang jalan kembali ke kelas Aya tak menemukan bocah itu. Bahkan di langit atau pohon yang Aya kira bisa jadi tempat kaburnya.
Di kelas, Erza yang sudah duduk di bangku menatap Aya yang baru datang khawatir. Juga mempertanyakan keberadaan bocah yang tadi pagi memanggilnya papa itu. Gadis itu terlihat lesu dan seperti kehilangan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Life a Reincarnation Couple [END]
Fantasy[ WARNING! Jangan Berekspetasi Terlalu Tinggi. ] Sequel Love Life an Enemy Couple. *** Kelahiran membuat ia lupa akan segalanya. Yang ia tahu, ia hanya manusia normal. Ya, siapa yang tahu dengan kehidupannya di masa lalu. Seiring berjalan...
![Love Life a Reincarnation Couple [END]](https://img.wattpad.com/cover/94916059-64-k100213.jpg)