Langit biru tampak begitu cerah hari ini. Sang mentari tanpa ragu memberikan cahayanya ke bumi ini. Rasanya terlalu damai untuk ukuran bumi kali ini.
Sampai, sebuah portal cahaya muncul dari balik awan. Seolah menghentikan waktu. Sesosok makhluk seperti anak kecil keluar dari sana.
Sayapnya terbentang sangat indah. Cahaya hanya menyorot padanya. Lalu ia mengepakkannya dengan lembut sebelum terbang menembus langit yang kembali cerah.
***
Kota saat senja. Tapi jalanan masih saja ramai. Klakson menjerit dimana-mana. Ini jam pulang kantor sebenarnya. Murid sekolahan sudah tak tampak. Hanya ada beberapa yang terlihat. Salah satunya adalah gadis yang tengah berjalan di sepanjang trotoar. Itu Aya.
Aya sengaja pulang terlambat. Pasalnya, ia dipastikan akan bertemu Erza kalau pulang di jam normal. Entahlah, ia tak mengerti kenapa ia jadi menjauhi Erza setelah kesimpulan waktu itu. Ia hanya tak ingin Erza merasa bersalah kembali.
Brak
Sesuatu jatuh dari langit. Refleks Aya langsung membuat tubuhnya mundur selangkah. Saat menoleh ke depan. Ia mendapati sesosok makhluk ... bersayap. Ia mirip anak usia 7 tahun.
Imutnya, batin Aya tanpa sadar.
"Ssh, kenapa jadi seperti ini, sih?" Makhluk itu meringis kesakitan. Ya, tentu saja. "Ah ya, terima kasih. Aku memang imut."
Aya terdiam di tempat. Memastikan apa yang di ada di hadapannya bukan sebatas ilusi. Padahal hal-hal aneh seperti ini sudah biasa baginya. Dan ... apa katanya tadi?!
Sekarang, Aya malah merasa khawatir pada makhluk itu. Bukannya apa. Masalahnya ia anak kecil loh. Walau ia punya sayap tapi kan...
"Kamu gak apa?"
"Gak apa kok," katanya, "maaf membuatmu kaget. Harusnya gak seperti ini."
Aya mengangguk pelan. Syukurlah. Juga tak ada orang yang terlalu―oke, tampaknya mulai ada yang menoleh ke sini. Dan bisa Aya pastikan kalau ia dianggap gila.
"Pindah ke tempat lain, yuk!" pinta Aya diiringi anggukan makhluk imut itu.
Hell, harusnya Aya ketakutan saat ini. Harusnya ia pergi sejauh mungkin saat menemui makhluk seperti ini yang ia kira tak ada hubungannya dengan reinkarnasi insiden belasan tahun lalu. Tapi kenapa ia bisa semudah ini percaya?! Apa karena ia imut? Aya, kau sudah gila.
Dari belakang, makhluk itu mengikuti Aya. Seperti anak kecil sedang mengikuti ibunya. Ya, walau perumpamaan itu sedikit tak mengenakan.
Setelah jalanan cukup sepi dari orang-orang. Aya menoleh ke belakang. Makhluk itu langsung berhenti berjalan.
"Ah, bisakah kau ubah bentukmu? Atau ... tidak?"
Makhluk itu memasang tampang polos. Kemudian mengangguk.
"Ada orang nggak?" tanyanya sebelum ia mengeluarkan sebuah benda dari saku kecilnya. Mirip dengan kristal miliknya. Hanya saja ini warna ungu.
Aya menggeleng. Ya, tempat ini benar-benar sepi sekarang. Adapun hanya mobil yang lewat dengan kecepatan penuh.
Makhluk itu sekarang mulai memejamkan matanya. Mulutnya seolah merapalkan sesuatu. Mirip dengan yang biasa ia ucapkan. Namun berbeda.
Sampai sebuah cahaya keunguan keluar dari kristal itu. Benar, cara kerjanya mirip dengan kristal miliknya. Hanya berbeda warna dan mantranya. Sekarang, cahaya itu mulai meredup. Menyisakan sosok anak kecil yang sedang tersenyum.
"Salam kenal, Ma." Ucapannya membuat Aya menegang. "Aku Bright."
***
Erza sedang duduk manis di jendela kamarnya. Dari sana ia bisa melihat orang-orang yang lewat di jalanan. Juga, kamar Aya yang sekarang masih gelap.
Dia belom balik, batinnya.
Tak lama, orang yang baru saja melintas dalam benaknya lewat. Masih dengan seragam dan... menggandeng anak kecil. Hei, siapa dia? Setahu Erza, Aya merupakan anak tunggal. Sepupunya kah?
Merasa diawasi. Anak itu mendongak ke atas. Sontak Erza membulatkan matanya. Sementara anak kecil itu tersenyum. Sambil mengucapkan sesuatu yang tak bisa Erza dengar. Yang ia pastkan ada dua kali vokal 'a' karena anak itu mangap-mangap.
Apa?
Tak ingin menambah pikiran. Erza langsung menutup jendelanya. Kemudian menarik gorden sampai tertutup. Sebelum akhirnya menekan lampu sebagai penerangan.
***
Aya menghela napas sebelum masuk ke rumah. Apa yang harus ia katakan pada mamanya saat membawa anak ini ke rumah? Tapi Aya tak bisa membiarkannya di luar begitu saja. Terlebih, Aya pastikan kalau ia bukanlah manusia.
Dan lihat sekarang, kenapa anak itu malah lihat-lihat ke atas. Sambil mengulas senyumnya berukang kali pula. Lebih parahnya ke arah kamar Erza.
Cklek
"Aya pulang."
Terdengar suara langkah kaki dari arah dapur. Itu mama. Tanpa wajah kaget saat melihat Bright yang sekarang ada di gandengan Aya.
"Ah, kamu lama ya nunggu Kak Aya?" kata mama pada ... tunggu! Mama bicara pada Bright?! Apa yang sudah makhluj itu lakukan.
Ia tersenyum. "Enggak apa, tadi aku diajak main sama Kak Aya."
"Ma―kok?" Aya kehabisan kata-kata. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Mama kenal sama Bright? Artinya mama tahu kalau ia bukanlah manusia.
"Ruri harus kuat, ya?" kata mama membuat makhluk itu mengangguk. Dan lagi ... Ruri? Siapa dia?!
Aya menoleh bingung. Matanya melotot seolah minta penjelasan pada bocah yang kini sedang nyengir-nyengir itu.
"Mulai sekarang, dia tinggal sama kita," kata mama membuat Aya membelalakan matanya.
"Ini ada apa, sih?" tanya Aya pada akhirnya.
"Papa sama mamanya Ruri meninggal karena kecelakaan pesawat. Ruri udah gak punya keluarga. Dia satu-satunya yang selamat di insiden itu," jelas mama.
Gak mungkin, batin Aya.
Karena bagi Aya. Bagaimanapun juga. Kecelakaan pesawat itu tak pernah meninggalkan seorangpun yang selamat. Terkecuali... makhluk itu punya sayap. Juga, sepertinya bocah itu tak ada tampang kehilangannya.
"Ajak Ruri ke kamar kamu. Karena mama gak mungkin biarin dia sendirian," titah mama yang membuat Aya ingin protes.
"Tapi, Ma. Dia cowok!"
"Tapi, Ya. Dia anak kecil. Kamu tega?"
"Kenapa gak sama mama?"
Aya ngotot. Sementara mama sudah nyengir tidak jelas. Oh, Aya sekarang tahu arah pembicaraan mama.
"Kamu tega, bikin anak kecil dewasa sebelum..."
Tanpa mendengar kalimat itu secara lengkap. Aya langsung menyeret Bright ke lantai dua. Wajahnya memerah. Sementara anak itu malah cekikikan tidak jelas.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Life a Reincarnation Couple [END]
Fantasy[ WARNING! Jangan Berekspetasi Terlalu Tinggi. ] Sequel Love Life an Enemy Couple. *** Kelahiran membuat ia lupa akan segalanya. Yang ia tahu, ia hanya manusia normal. Ya, siapa yang tahu dengan kehidupannya di masa lalu. Seiring berjalan...
![Love Life a Reincarnation Couple [END]](https://img.wattpad.com/cover/94916059-64-k100213.jpg)