RE 28: Pure Tears

203 38 51
                                        

Warning: Don't be angry to me!

***

Namun pada akhirnya, semua keinginan bocah kecil itu hanya sebatas angan. Mereka tak akan pernah sampai ke Brilliance Heaven.

“Kenapa?” kata bocah itu sambil mencoba menembus sesuatu seperti batas, sebuah portal penuh kilauan, “Kenapa papa sama mama gak bisa masuk....”

Erza dan Aya yang melihat bocah itu hampir menangis ikut merasakan kesedihan. Mereka tak tahu apa penyebabnya. Tapi di sisi lain, mereka menyadari sesuatu.

Karena mereka adalah manusia. Bahkan meski sayap nan kokoh itu masih menempel di punggung mereka. Mereka tetaplah manusia. Berebeda dengan sosok yang ada di hadapan mereka.

“Kenapa, Ma...,” kata Ruri mulai terisak. “Kenapa harus kayak gini....”

Isakkan bocah itu membuat sesuatu dalam diri mereka teriris. Entah kenapa rasanya menyakitkan, rasanya ... mereka tak rela akan kepergian bocah itu. Dan Ruri, ia tak rela harus berpisah dengan Erza dan Aya.

“Padahal baru kemarin-kemarin Ruri bisa ketemu kalian,” kata Ruri, “tapi kenapa cepet banget, ya? Kenapa juga Ruri masih cengeng. Kenapa Ruri gak bisa tepatin janji sama diri Ruri sendiri buat nggak nangis. Padahal—”

Entah Erza maupun Aya tak dapat menjawab semua itu. Bahkan sepatah kata pun tak bisa mereka lontarkan. Rasanya, air mata akan segera pecah kalau sepatah kata yang entah apa itu keluar nanti.

Mereka hanya bisa membekap mulut, mengalihkan pandangannya ke arah langit berbintang yang mengelilingi mereka, dan perlahan terisak.

Bagaimana mungkin hal ini terjadi pada makhluk kecil nan suci ini. Bukankah ini terlalu berlebihan? Apakah ini akibat kesalahan mereka? Apakah....

Sebuah portal kehijauan tiba-tiba muncul, membuat pikiran mereka teralihkan sejenak. Dari dalam sana, keluar sesosok pria paruh baya yang mereka kenali—Light.

Walaupun begitu, dengan sekejap pandangan mereka kembali pada Ruri yang sudah terisak. Anak kecil yang begitu rapuh, harus kehilangan orangtuanya untuk kedua kalinya.

“Light-san....” Erza membuka suaranya dahulu.

Pria Tua itu tersenyum sendu, sesaat melirik ke arah Ruri yang kini mendekap Aya kuat-kuat. Rasanya tak akan ada yang tega memisahkan kedua orang itu.

Tapi kenyataannya, takdir tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mereka harus berpisah di tempat ini. Karena ... mereka berbeda.

“Maafkan aku sebelumnya,” kata Light. “Tapi kupikir kalian sudah tahu apa tujuanku ke sini.”

Mereka enggan menjawab. Lagi dan lagi, mereka enggan menyadari semua itu. Meski tahu apa itu, mereka tak bia membiarkan bibirnya terucap begitu saja. Mereka tak akan rela kehilangan lagi.

Walaupun begitu....

“Ruri,” panggil Light sambil mendekati Ruri. Sementara Aya menguatkan dekapannya. “Kau tahu kan aku tak punya niat untuk memisahkan kalian?”

Ruri terdiam, memejamkan mata dan membuat air matanya mengalir. Perlahan ia mengangguk. “Tapi kenapa?”

Light menghela napasnya sejenak. “Aku tahu Kau anak yang pintar, bahkan ketika kujawab alasannya, Kau pasti sudah tahu jawabannya terlebih dulu.”

“Ta—tapi Light-san....”

Erza mencoba bicara, namun akhirnya ia hanya bisa mengepalkan tangan dengan rahang yang tampak mengeras. Pandangannya tertunduk dalam. Ia ... kembali menahan rasa pedih yang menghujam.

Love Life a Reincarnation Couple [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang