RE 29: With(out) Good Bye [END]

222 36 18
                                        

Sekitar Jam setengah lima dini hari, Erza terbangun dari mimpinya. Mimpi janggal yang membuatnya terbangun sepagi ini. Entahlah bisa disebut masih pagi atau tidak, pasalnya ia lebih sering dibangunkan sang mama. Tapi mimpinya ... terasa nyata sekaligus tak masuk akal.

Ini, pertama kalinya ia bermimpi sesuatu yang berbau khayalan. Nggak, batinnya. Ini bukan pertama kalinya ia bermimpi seperti itu. Kemarin, atau entah kapan itu. Ia yakin kalau kejanggalan yang ada di mimpinya saling terhubung. Meskipun ia lupa apa mimpi sebelumnya. Tapi ia yakin.

“Maksudnya apaan, sih.”

Pertama, ada 4 orang yang tengah berkumpul, 2 orang yang tampaknya merupakan pasangan, seorang kakek tua, dan seorang anak kecil, berada di suatu tempat yang entah di mana. Tapi, satu hal yang ia tahu. Mereka dikelilingi bintang-bintang.

Ke dua, entah kenapa suasananya terkesan menyedihkan, padahal Erza tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ke tiga, Erza tak dapat melihat jelas wajah mereka, hanya saja suara yang terdengar sangat familiar.

Ke empat, mereka memiliki sepasang sayap. Terakhir, mereka berpisah tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Dan entah kenapa, ia merasa kehilangan yang amat besar.

***

“Erza berangkat,” kata Erza setelah bersalaman pada papa dan mamanya. Omong-omong, langkahnya ke sekolah entah kenpa terasa lebih ringan dari biasanya. Seolah sesuatu telah menunggunya.

Dan begitu ia sampai di depan rumah, ia mematung saat matanya bertumbukan dengan sosok di seberang sana. Sesosok gadis yang Erza tahu tinggal di depan rumahnya beberapa—tunggu dulu. Rasanya ada yang aneh.

“A—Aya....” Bibirnya bergerak tanpa sebab. Erza tak tahu tapi ia yakin kalau apa yang diucapkannya adalah sebuah nama. Nama gadis itu.

“Erza....” Dan, balasan dari gadis itu adalah pertanda kalau mereka memang saling mengenal.

Erza menghela napas dan berjalan ke arah Aya. “Maaf,” kata Erza membuat Aya sedikit bingung. Kemudian, ia menarik tangan gadis itu. “Ga tau kenapa, tapi kita harus bolos hari ini.”

Salah. Aya tahu hal itu salah. Tapi pada akhirnya, ia hanya mengikuti hatinya, ia tahu ada yang belum ia akhiri di sini. Ia hanya ingin sesuatu yang berat dalam hatinya menghilang. Entah karena mimpi anehnya semalam, atau karena orang yang kini tengah menariknya.

Hanya itu. Atau, mungkin tidak.

***

Pada akhirnya, yang mereka datangi adalah sekolah. Rasanya Aya ingin sekali mengutuk cowok yang ada di sebelahnya. Apa katanya tadi? Bolos? Ah, Aya jadi yakin kalau anak ini memang bukan tipe orang yang berani bolos. Meski samar, dalam ingatannya sesuatu yang mengatakan kalau cowok ini paling takut dengan ibunya. Ya, kelemahannya itu.

“Sinting,” tukas Aya tiba-tiba. Membuat cowok itu mendelik.

“Gue mana berani bolos elah,” katanya, “nanti sebelum ketauan sekolah, mama pasti datengin guru BK duluan terus bilang gue bolos.”

Mamanya, hebat.

Tanpa mereka sadari, pembicaraan-pembicaraan yang mereka lalui di tempat ini, begitu familiar. Mungkin, mereka memang sudah lama melakukan hal-hal seperti ini.

Hanya saja, ada sesuatu yang menghambat ingatan mereka—yang seharusnya tak sejauh ini.

Sampai akhirnya Erza berkata, “Gue tau Lo ngerasain hal yang sama dari tadi, bukan?”

Tak tahu perasaan yang mana yang sama. Tapi Aya seketika menguk ludahnya, jantungnya yang sebelumnya tengah berdetak amat kencang tanpa ia sadari ... semakin menjadi.

Ia tak tahu kenapa. Tapi ... ada sesuatu antara dirinya dan orang ini.

“Mu—mungkin gitu,” balas Aya terbata-bata. Refleks, ia juga mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Di sisi lain, bukan cuma perasaan kita yang sama,” tambah Erza yang kemudian menarik tangan gadis itu menuju dadanya. Membuat Aya tergeming seketika. Ingin berkata kasar, namun akhirnya ia hanya bisa mengumpat dalam hati.

Maksudnya, bagaimana mungkin manusia di depannya secara terang-terangan menunjukkan jantungnya yang berdetak gila sama seperti—oh, ia tak tahu apa yang otaknya simpulkan benar atau salah.

Tapi apa mungkin orang ini....

“Ga tau hubungan kita sebelum ini apa,” katanya, “tapi gue yakin semua ini penting.”

Aya tahu apa yang Erza ucapkan benar, seperti itulah kenyataannya. Terlebih, entah apa yang membuat mereka berdua seperti tidak saling mengenal banyak namun merasakan bahwa waktu yang pernah mereka lalui bukan sekadar hal yang sepele. Ada yang menghilang, yang mungkin tak boleh mereka ingat.

“Rasanya lega.” Akhirnya Aya berani membalas. “Tapi, rasa sesaknya sama seperti mimpi semalam.”

Iya, rasa sesaknya semalam masih menjalar. Ah, mungkin ini karena mimpi yang terjadi semalam itu belum lama berakhir. Karenanya, rasa sesaknya masih mendekap dalam dadanya. Mungkin terkesan berlebihan saat membayangkan mimpi yang bahkan tak mungkin terjadi di dunia normal ini. Akan tetapi...

“Tetap ada sesuatu yang hilang,” tambah Aya.

Rasanya seperti.... “Sebuah perpisahan tanpa ucapan selamat tinggal.”

END

***

Bogor, 8 Juni 2018
00:13

Tarik napaaaaaas, buang. Plis jangan bunuh aku karena chapter terakhirnya pendek. Maaf kalau ini gantung―nggak, semua emang udah selesai. Dan untuk selanjutnya, silakan scroll epilog mwehehe. MAKASIH BANYAK UDAH NEMENIN NARI SAMPAI SINIIIII. Aaaaah, Nari sayang sama kalian. Maaf kalau cerita ini gak memuaskan dan bikin ekspetasi kalian hancur total. Maaf aja, Nari ga bisa kasih kepastian kayak doi /dilempar. Pokoknya sekian. Makasih udah sayang sama Erza sama yang lainnya. Dari jaman LLaEC sampai LLaRC yang kebanyakan ngayal ini. Pokoknya makasiiiiiiiih /peluk satu-satu/

See you in another story! 💕💕💕

Regards

Nariiiiiiii💕💕💕

Love Life a Reincarnation Couple [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang