"Shut...." Masih dengan keadaan mendekap keduanya. "Sorry, ya?"
Egois. Cowok itu memang egois sejak dahulu. Tapi kenapa selalu saja membuatnya seperti ini? Sekalipun kehidupannya telah berbeda. Sekalipun sikapnya jauh berbeda. Tapi kenapa ... selalu ada sisi seorang Erza yang seperti ini?
Aya tak mengerti. Aya tak pernah paham akan takdir yang sama egoisnya dengan sosok di hadapannya. Jawaban yang sudah pasti itupun. Entah kenapa tak bisa ia percaya untuk saat ini. Lebih tepatnya tak bisa ia terima.
Flash, batin Aya, kau memang egois.
"Ya," panggil Erza.
Panggilan yang membuat rongga pernapasannya seolah tertutup. Walau ia tak tahu alasannya apa. Jatuh cinta? Tidak, tidak mungkin hal itu kembali terulang. Walau kenyataannya tak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
"Glow siapa?"
***
Glow siapa?
Kadang Aya beruntung. Sikap keingintahuan seorang Erza masih bisa terkontrol. Setelah pertanyaannya yang satu itu. Ia hanya diam. Mungkin menganggap Aya tak tahu apa-apa, atau ... menunggu waktu yang tepat untuk kembali bertanya.
Tapi kautahu? Setelah itu sikapnya kembali menyebalkan. Kau ingin tahu apa yang ia katakan tadi? Oke, tapi jangan menyesal mendengarnya. Karena jujur, Aya ingin membunuh cowok itu di tempat. Detik itu juga. Sekali lagi, hanya ingin.
Mungkin lain kali gue nyari tau siapa orang yang jadi istri gue.
Ingat, itu sangat menyebalkan. Bodohnya lagi, ia tersenyum amat lebar. Sampai-sampai jantung Aya menjadi arena pacuan kuda tanpa izin terlebih dulu.
Siapa sangka gue udah punya pasangan, uhuy!
Kalimat selanjutnya itulah yang membuat nafsu untuk membunuhnya meningkat berkali lipat dari sebelum. Dan hell, Aya tak bisa membayangkan kalau sosok yang Erza maksud adalah dirinya. Walau ia tak tahu sama sekali. Tapi ayolah, kesehatan jantungnya dipertaruhkan saat ini.
"Geez, dia balik lagi ke sikap lamanya," gumam Aya.
Namun, hal itulah yang kini mampu mengukir senyum di bibir Aya. Senyuman haru yang entah kenapa datang tiba-tiba. Mungkinkah karena ia rindu? Aya menepisnya kuat-kuat. Kemudian menatap sosok Ruri yang kini tengah tertidur pulas dalam dekapannya.
Kamu ... bakal nyelamatin papa, kan?
***
Beberapa waktu, bahkan sampai saat ini. Mungkin terlalu banyak hal yang terjadi. Tapi siapa sangka kalau semua ini terus saja berkaitan. Mengikat dalam suatu hal yang disebut takdir. Terlebih, katanya ia seorang malaikat takdir―di kehidupan sebelumnya.
Inikah yang menjadi jawaban pertanyaannya sejak dulu? Tentang dirinya yang tak punya perasaan seperti manusia biasa. Mungkin karena kenyataannya ia bukan sekadar manusia. Sekalipun terlahir dari manusia. Tapi tetap saja, darah malaikatnya mengalir berhubung kehidupan yang sebelumnya sebagai makhluk itu.
Sambil terus berbaring di kasurnya. Pikiran Erza terus saja berputar pada hal-hal yang menjadi satu kesatuan itu. Sesekali hatinya bertanya, mengapa hal ini terjadi? Lalu kalau ia tahu mengapa? Akankah ada hal yang terjadi? Terus saja seperti itu. Sampai, pikirannya berhenti lagi pada jati dirinya.
"Lalu ... apa yang sebenernya terjadi setelah Flash ngelanggar aturan?" tanya Erza pada diri sendiri. Namun tetap menggunakan nama Flash sebagai orang ke tiga.
Yang namanya hal terlanggar. Pasti ada konsekuensinya, bukan? Apa hanya sekadar reinkarnasi? Toh setelah itu hidupnya berjalan lancar saja. Bukannya ia ingin hukuman lebih. Tapi, kenapa hal itu terjadi kalau tak ada tujuannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Life a Reincarnation Couple [END]
Fantasy[ WARNING! Jangan Berekspetasi Terlalu Tinggi. ] Sequel Love Life an Enemy Couple. *** Kelahiran membuat ia lupa akan segalanya. Yang ia tahu, ia hanya manusia normal. Ya, siapa yang tahu dengan kehidupannya di masa lalu. Seiring berjalan...
![Love Life a Reincarnation Couple [END]](https://img.wattpad.com/cover/94916059-64-k100213.jpg)