"Oi." Seseorang menepuk bahu Erza dengan cukup kencang. Namun orang yang dituju hanya menolehkan kepalanya. Memandang orang itu dengan wajah datar. "Kaget napa, sih? Senengin gue."
"Sori," balas Erza, "nyenengin diri sendiri aja susah."
Resa yang mendengar jawaban spontan Erza langsung tergelak. Sementara sang pemilik kalimat hanya memandang heran orang itu. "Ada yang lucu?" tanya Erza.
Resa menetralkan tawanya menjadi sebuah senyuman. "Kagak ada, sih. Tapi ya ... pengen aja ketawa."
Erza mengembuskan napas panjang, ia lagi-lagi berpikir terhadap hatinya yang seolah mati pada siapapun. Sebenarnya apa yang menyebabkan dirinya seperti ini, sih? Waktu itu, saat ini, dan entah kapan ia akan bersikap seperti ini terus-menerus. Masalahnya ia manusia yang harus punya rasa. Ya, ia manusia.
"Lo padahal orang baik, Za," kata Resa tapi tak membuat Erza bereaksi sedikitpun. Ia hanya terlarut dalam pikirannya. "Cuma Lo-nya aja yang ngejauh dari orang-orang. Lagi, lo juga lumayan tenar di kalangan anak cewek."
"Tenar?" ulang Erza, "gak ada kamus gitu dalam hidup gue."
"Tapi-" Belum selesai bicara, seseorang menyela ucapan Resa.
"Cowok kek dia tenar?" Resa langsung menoleh, Erza juga tanpa sadar melakukan hal itu. "Gempar alam semesta, ahahaha." Ia tertawa.
Sialan!
"Eh, Tasha," ucap Resa tanpa sadar.
Sementara Erza memutar kedua bola matanya malas. Merutuki keberadan makhluk yang mendadak datang ke hadapanya. Tapi tunggu dulu! Tadi Resa bilang siapa? Tasha?
"Tuh kan, Za. Tasha aja ampe kenal sama lo."
Untuk ke sekian kalinya, Erza memutar kedua bola matanya malas. Apa sih yang dipikirkan oleh otak Resa yang―katanya―cukup pintar di sekolah ini. Berpikir hal yang seperti ini saja tidak benar.
"Sebangku," jawab Erza lirih, "Lo jangan pura-pura bego."
Mendengar hal itu, Resa hanya nyengir kuda. Sementara Erza sudah memasang wajah sengit terhadap gadis itu. Entah kenapa cewek yang satu itu sangatlah menyebalkan. Ada saja yang membuat ubun-ubunnya kepanasan dan rasanya ingin meledak. Oke, ini berlebihan.
"Ga usah bawel, Ayakan!" tukas Erza kemudian pergi meninggalkan kedua tokoh lainnya.
Sementara Yaka―gadis itu―tengah mengangkat salah satu sudut bibirnya. Mirip orang monyong sebelah.
"Apa katanya tadi?" gumamnya, "Ayakan?!"
***
Erza membereskan peralatan sekolahnya dengan cepat. Bel keluar baru saja berbunyi sekitar ... 5 menit yang lalu. Ia bertekad pulang cepat untuk menghindari cewek yang kini sedang ucang-angge alias mengayun-ayunkan kaki di bangku sebelah.
Erza tak mau kepalanya tambah panas setelah omelan cewek itu pasal nama panggilannya yang Erza ganti saat istirahat. Ia ingin tenang! Apa lagi hal itu sering terjadi akhir-akhir ini. Lebih buruknya, durasinya lebih panjang, dan semakin tak masuk akal.
Sekarang, Erza sudah berdiri dan mengangkat tasnya dengan sebelah bahu. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan.
Set ... Tak!
"Sakit!" pekik seseorang membuat Erza sempat memjamkan matanya. Ah, alamat keleyengan lagi ini mah.
Erza menarik napasnya dalam. Kemudin mengembuskannya secara perlahan. Rasanya ingin mati saja kalau terus-menerus seperti ini..
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Life a Reincarnation Couple [END]
Fantasy[ WARNING! Jangan Berekspetasi Terlalu Tinggi. ] Sequel Love Life an Enemy Couple. *** Kelahiran membuat ia lupa akan segalanya. Yang ia tahu, ia hanya manusia normal. Ya, siapa yang tahu dengan kehidupannya di masa lalu. Seiring berjalan...
![Love Life a Reincarnation Couple [END]](https://img.wattpad.com/cover/94916059-64-k100213.jpg)