Prilly menghela nafas lelah saat ia menghempas tubuhnya pelan di soffa ruang keluarga. ia baru saja selesai hang out bersama Mami Gia dan mentraktir wanita bertubuh gempal itu makan siang lalu menuju ke tempat karaoke menghabiskan waktu berdua.
Prilly mengistirahatkan tubuhnya sejenak dengan tidur disoffa panjang sambil memainkan handphone nya. sesekali ia akan tertawa melihat postingan Mami Gia di instastory nya.
Tiba-tiba saat sedang asik dengan handphone nya, sebuah teh hangat tersaji di meja sebelah prilly. gadis itu mendongak lalu kemudian menatap malas orang yg ada didekatnya itu
"kamu capek?"
"hmm" gumam prilly pelan dan kembali fokus pada handphone nya
Ali beralih ke kaki prilly di ujung soffa panjang yg ia tiduri. ia pun lalu melepas pelan sepatu prilly serta kaos kakinya. prilly sedikit tersentak oleh sikap ali yg mendadak perhatian seperti ini
"lo ngapain sih?"
"gak papa, kan kamu capek" ali lalu duduk di soffa, memangku kaki prilly dan memijatnya pelan
Prilly dengan kasar menurunkan kedua kakinya dari atas paha ali lalu ia mengambil tas nya dan bangkit meninggalkan ali.
"hey!" ali ikut bangkit dan mengejar prilly lalu menarik satu tangan gadis itu agar berhenti
Tapi prilly dengan sekuat tenaga menghempas genggaman tangan ali
"hey, kamu kenapa?" tanya ali mengikuti langkah prilly menaiki tangga
"jangan tanya gue! tanya aja sama diri lo sendiri!" prilly berjalan lebih dulu meninggalkan ali
"iya oke, aku minta maaf sama kamu. bisa bicarain ini pelan pelan?"
Prilly memutar tubuhnya menatap ali tajam "gue udah coba buat percaya sama lo!" prilly menunjuk dada ali "tapi ujung ujungnya lo malah membuat gue kembali ragu! sekarang terserah lo aja deh. lo mau apa juga gue akan coba untuk nggak perduli, walaupun dalam hati perasaan itu mulai ada. tapi tenang, gue bukan type orang susah move on"
"aku bisa jelasin soal semua yg kamu denger tadi malem"
"dan gue gak butuh penjelasan lo!"
"tapi setidaknya kamu menghargai aku"
Prilly meringis "kurang menghargai apa lagi gue sama lo? gue bahkan membiarkan lo masuk ke hati gue dan ngacak semua isinya, dan sekarang kata lo gue gak menghargai lo? bagaimana sama lo yg seenaknya mainin perasaan gue dibelakang gue?"
Ali terdiam, ia kalah telak.
"kenapa? kok diem?" prilly tersenyum meremehkan "udah tau kesalahan lo dimana?"
"aku minta maaf sama kamu"
"gue maafin. udah?" prilly kemudian berbalik badan dan masuk kedalam kamarnya, tapi saat prilly hendak menutup pintu, ali menahan handle pintu hingga menyisakan sedikit celah
"dia hima. gadis yg aku temui di taman dengan sejuta kesederhanaannya. pencinta hamster, anak gadis baik baik yg punya tatapan selembut kamu, yg ngebuat aku semakin rindu sama kamu saat pertama kali ketemu dia. aku selalu berharap dia itu kamu waktu itu, aku mendekati dia karna aku terlalu rindu sama kamu. aku mendekati dia karna terbayang sama kamu, anggap saja aku ini jahat, mempermainkan hati 2 gadis tapi kalian gak pernah tau rasanya jadi aku"
Prilly mendengar semua penjelasan itu, ia tertawa sumbang dari dalam kamarnya
"dan lo fikir semua tindakan lo itu menandakan lo yg paling tersakiti disini?"
"yg paling tersakiti itu kalian, diberi harapan oleh seorang lelaki yg bahkan tidak bisa memastikan pilihannya sendiri"
"bagus deh kalau lo sadar diri"
"maaf"
"gue nyesel. nyesel harus percaya lagi sama cowok. nyesel di khianati untuk yg kesekian kalinya saat gue udah bener bener membuka hati. apa gue memang gak pantes untuk di cintai?"
"aku yg salah, bukan kamu"
"kita berdua salah. lo salah karna gak bisa menentukan pilihan lo sedangkan gue salah sudah terlalu percaya sama lo padahal harusnya gue gak secepat ini jatuh cinta dan mencoba kembali mengingat siapa lo" suara prilly mulai bergetar, sekuat tenaga ia menahan air matanya.
Prilly bisa melihat bayangan itu lagi, bayangan sebuah perpisahan dan air mata antara 2 orang dalam sebuah keramaian. prilly yakin itu adalah bayangan perpisahannya dengan ali
"aku cinta sama kamu, maaf"
"kalau lo cinta, harusnya lo gak jadiin gue pilihan" setetes air mata prilly jatuh, tapi prilly menghapusnya
"tapi aku memilih mencintai kamu daripada hima. dari awal aku deket sama hima pun karena aku selalu terbayang sama kamu. selama 4 tahun, aku harus mimpi buruk karena rasa bersalah aku ke kamu, dan setelah ketemu dia semua sedikit membaik sampai aku bisa ketemu kamu lagi, aku merasa hidup kembali"
"dan cara lo salah! lo gak mikirin gimana rasanya jadi hima? lo gak mikirin perasaan dia disana? dia nungguin lo sedangkan lo malah bahagia disini sama kebohongan lo. apa lo gak mikirin itu?"
"oke, aku akan kembali ke Paris, menyelesaikan semuanya untuk kamu"
"dan gue harap lo gak akan kembali kesini lagi"
Lirih, sangat lirih, tapi mampu menggores hati ali cukup dalam. tidak berdarah, tapi sangat sakit.
"asal kamu bahagia, aku akan pergi. aku rasa setelah kita jauh, kamu memang lebih bahagia tanpa aku. iya kan?"
"iya, gue memang lebih bahagia tanpa lo" air mata prilly terjatuh lagi, bibirnya mulai tidak sejalan dengan hatinya sehingga memaksa air mata nya terjatuh karena melawan gejolak antara bibir dengan hatinya
"baiklah" ali tersenyum getir "aku akan pergi, sesuai janji ku ke kamu, aku akan pulang minggu besok. jadi masih ada 4 hari lagi waktu untuk kita sebelum kita benar benar berpisah lagi. selamat beristirahat" ali melepas pelan genggamannya pada handle pintu kamar prilly kemudian berlalu darisana.
Sedangkan prilly, meluruh di balik pintu kamarnya yg sudah tertutup. menangis lagi dan menyesal atas ucapan terakhirnya yg menyakiti perasaannya maupun ali.
Ali menyusuri trotoar sambil menatap kearah ujung sneackersnya. Fikirannya melayang entah kemana. Hatinya masih berdenyut nyeri mengingat pertengkarannya dengan prilly tadi. ali terlalu bodoh untuk jujur dan inilah hasilnya.
Hubungan yg baru saja hendak ali bangun, harus retak lagi karena ulahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sendiri - 2
Fiksi RemajaTernyata kamu juga cinta sama aku. Jadi kemarin aku menetukan pilihan yg salah untuk pergi? Ijinin aku untuk minta maaf, sekalipun harus berjuang sampai mati. Karena akhirnya ada kamu yg mencintai aku selain aku mencintai kamu.
