“Cinta bukan tentang bagaimana rasa itu jatuh, melainkan bagaimana dia tetap bisa hidup di dada yang rapuh.” - Boy Chandra.
Bambam terbangun dengan sisa-sisa mimpi, pastinya sebagian mimpinya telah terlupakan begitu saja saat ia terbangun. Yang tersisa hanyalah bagaimana wajah sembab Lisa dengan sisa-sisa jejak air mata yang terpatri jelas dalam ingatannya.
"Hiks."
Tangis sesenggukan mendadak tercipta dari sang pemuda. Ia merasa ada yang sesak, terasa begitu menyakitkan di dalam dadanya.
Yugyeom spontan terbangun, masih dengan setengah nyawa, ia menatap linglung pada Bambam di tempat tidur sebelah. "Kenapa lo?"
Cepat-cepat Bambam menyeka tangis dan segera mengalihkan pandangan. Namun pengalihan itu malah membuatnya semakin sesak kala matanya kini tengah menatap pada deretan bingkai foto berisikan fotonya dan Lisa.
Tangis itu kembali, kian menyesakkan. Hingga membuat Yugyeom meloncat dari tempat tidur dan langsung berdiri di samping Bambam.
"Ey, lo kenapa?"
Tak ada jawaban untuk beberapa saat, sampai akhirnya Bambam berujar di tengah isakan. "Gue salah, Gyeom."
Yugyeom menepuk pelan pundak Bambam. "Hm, udah sadar?"
Anggukan lemah terlihat, disusul dengan suara lirih Bambam. "Apa semua ini sudah terlambat? Terlambatkah kalau minta maaf ke Lisa?"
"Kata orang-orang, lebih baik terlambag dari pada enggak sama sekali," ujar Yugyeom.
"Gyeom, apa Lisa bakal maafin gue?"
Yugyeom terdiam, ia jelas tak tahu. Karena dirinya bukan Lisa dan ia juga bukan seseorang yang bisa membaca pikiran orang lain.
Pemuda itu mengangkat bahu, namun mencetus satu anggapan. "Mungkin bakal maafin, tapi tetap dia gak bisa melupakan rasa kecewanya."
Mendengar penuuran Yugyeom, rasanya ada yang semakin meremas dadanya. Semakin menyesakkan saja, namun membuatnya tersadar bahwa gadisnya juga di sana lebih sesak lagi.
Lisa lebih kecewa lagi.
Dia yang bersalah di sini, dia yang mencoba mencari sesuatu yang baru saat kejenuhan datang. Bukannya bertahan, namun berniat untuk pergi.
Bambam mengacak rambut frustrasi. Penyesalan kini benar-benar menghinggapi dirinya, bersarang di lubuk hati terdalam.
Namun segala kesakitan itulah yang membuatnya tersadar, bahwa ia ingin bertahan. Tersadar bahwa Lisa adalah satu-satunya dan satu-satunya adalah Lisa.
Gadis itu adalah rumah, dimana doa dan harapannya tinggal.
***
Berterima kasihlah kepada hujan yang membuatku tak melanjutkan langkah menuju kampus, hingga akhirnya terduduk di dalam kamar. Memilih menyatukan hati dan pikiran, hingga jemari bermain di dunia oranye ini.
Wkwkwk, author's notenya anjer, drama banget.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Bambam, Untuk Lisa
Fan-Fiction[Book 1: Dari Lisa, Untuk Bambam] [Book 2: Dari Bambam, Untuk Lisa] . . . Bersamamu adalah suatu kebahagian yang tak pernah terkira nilainya.
