Sebab yang aku ingin hanya dia
Bukan dua
*
Bambam melihat ke sekitarnya lagi, mencari apa kiranya yang belum ia masukkan ke dalam koper. Ia tak mau uring-uringan saat sudah tiba di Thailand untuk libur tahun baru nanti.
"Charger," peringat Yugyeom tanpa sedikitpun beralih dari ponsel.
"Udah," sahut Bambam. "Apa lagi ya?"
"Kolor?"
"Udah, goblok," sungut Bambam. "Punya temen goblok banget sih, heran."
Yugyeom hanya terkikik geli, melihat betapa kesalnya Bambam dengan candaan kecilnya. Maklum, pria patah hati. "Mina gak mau dibawa?"
"Fuck!" teriak Bambam, seiring dengan lemparan sandal rumah yang melayang pada Yugyeom.
"Galak banget, takut ah gue. Mau main di luar aja ah," pekik Yugyeom, pemuda itu sudah berlari keluar sambil menahan tawanya.
Yugyeom ingat bagaimana Bambam bercerita bahwa ia berbicara dengan Mina, perihal semua yang katanya adalah kesalahpahaman. Lalu Mina yang berbicara pada Lisa.
Dan berakhir, Bambam ingin berbicara. Namun gadis itu tak pernah merespon apapun padanya, juga tentangnya.
Pemuda itu mengambil ponselnya, menatap deretan chat yang ia kirimkan pada gadisnya itu. Semua chat yang hanya dibaca, tanpa ada balas.
Bambam:
Lisa
Bambam:
Saya rindu
Bambam:
Akhir tahun nanti saya sudah di Bangkok
Bambam tidak peduli, apakah Lisa akan membaca atau tidak sama sekali. Yang dia tahu hanyalah, rindu itu mendalam.
"Woi."
Hampir-hampir, Bambam melempar ponsel yang sejak tadi dipegangnya. Ia menatap kesal ke ambang pintu kamarnya. Jackson tengah melongokkan kepala di sana. "Apa sih?"
"Lisa pulang ke Thailand."
Mendelik sambil memasukkan dua kaus sekaligus ke koper. "Mana gue tahu!"
"Ya Tuhan...." Jackson tampak frustrasi dengan lelaki yang lebih muda darinya itu. "Yang gue bilang barusan itu pernyataan, bukan pertanyaan."
"Hah?" Bambam melongo.
Jackson mendengus, menepuk dahi tak habis pikir. "Wah dirimu ternyata bodoh ya, pantes diputusin Lisa," usai berucap Jackson langsung meninggalkan Bambam. Tak peduli, pemuda itu mau mengerti maksudnya atau tidak.
Sedetik kemudian, barulah Bambam tersadar. Iya. Lisa akan pulang juga akhir tahun nanti. Dia pulang, ke rumah sesungguhnya. Mereka pulang.
Mereka pulang, ke tempat di mana banyak kenangan dihabiskan bersama. Tempat di mana segala sesuatu dimulai. Tempat yang ia harap dapat mempersatukan.
Besar kemungkinan untuk bertemu.
Besar kemungkinan tak akan ada gangguan.
Tapi... sebesar apa kemungkinan untuk kembali?
***
Dan kayaknya aku yang kembali aja deh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Bambam, Untuk Lisa
Fanfiction[Book 1: Dari Lisa, Untuk Bambam] [Book 2: Dari Bambam, Untuk Lisa] . . . Bersamamu adalah suatu kebahagian yang tak pernah terkira nilainya.
