"When you arrive where you thought you wanted to be, you'll just begin a new journey so enjoy each step along the way." ㅡ Wayne Dyer.
*
"Kita bisa mulai sesuatu yang baru di tahun yang baru ini gak?"
Di bawah langit gelap dan sisa-sisa residual kembang api di udara bebas, keduanya duduk di bangku taman. Lisa menatap pada ke dalaman mata Bambam, mencari sesuatu di sana.
Yang ia temukan hanya ketulusan. Juga rasa penuh pengharapan, yang berlabuh seutuhnya dalam bentuk harap-harap cemas.
Bambam saat ini hanya bisa berjanji pada dirinya sendiri. Dua janji yang akan ia pilih salah satunya, usai Lisa menjawabnya.
Pertama, janji ia akan menjaga gadis itu sampai akhir. Kedua, janji tak akan mengusik kehidupan gadis itu, jika Lisa memang mengatakan tidak untuknya.
"Aku kenal kamu dari masih kecil, Bam," Lisa tertawa kecil. "Dari kamu masih manggil aku kakak, karena aku lebih tinggi. Sampai hari ini, saat semua jadi rumit begini."
"Bagaimanapun, kamu adalah orang yang paling aku kenal, Bam," lanjut Lisa.
Usai mendengar itu Bambam meraih tangan kanan Lisa, menggenggam erat memberi hangat. "Aku benar-benar minta maaf atas apa yang udah terjadi, atas semua kesalahan aku ke kamu, Lis."
"Aku tuh udah maafin kamu sejak dulu," sahut Lisa, tanpa sedikitpun menepis genggaman tangan pemuda itu.
"Aku dimaafin beneran, Lisa?" tanya Bambam, seakan tak puas mendengar penuturan Lisa tadi.
Gadis itu mengangguk-angguk gemas, gemas melihat tingkah Bambam dan wajah polos penuh pengharapan itu.
Tak ada kata, tak ada kalimat, yang ada hanya sebuah pelukan tiba-tiba. Pelukan hangat yang menepis semua udara malam.
Lisa agaknya terperanjat, namun sesaat kemudian ia menghela napas, lega. Semua beban berat dalam hatinya seakan hilang perlahan, hangat menjalar mengisi hatinya kini.
Malam selalu dingin, tapi hatinya kini tidak begitu.
Diam, pelan, kedua tangan gadis itu melingkar membalas pelukan Bambam. Di wajah Bambam, senyum otomatis tertarik membentuk simpul sempurna. Meski ini malam, namun ia merasa hangat mentari masuk melalui celah-celah hatinya.
Terang, hangat, mengusir semua gelap di sana.
Beberapa saat kemudian, dilepasnya pelukan tersebut. Berganti menatap Lisa dengan senyum yang seakan tak lagi bisa sirna.
Digenggamnya kedua tangan gadis itu. "Lisa would you be mine, again?"
Lisa terdiam sejenak, menatap Bambam dengan mata berbinarnya. Gadis itu tiba-tiba terkiki geli. "Bambam kecilku, gak boleh pacaran dulu."
Bambam melotot tak percaya, namun Lisa sudah berdiri. Masih dengan tawanya, gadis itu mulai melangkah. "Hahaha, ayo pulang, Bam. Dingin banget tau ini! Aku gak mau masuk angin lho nanti!"
"T-tapi, jawabannyaㅡ"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Bambam dibuat mendengus dengan Lisa yang sudah berlari-lari kecil sambil terus tertawa dan menyuruhnya ikut pulang.
Bambam mendesah, kini ikut tertawa pelan. Rasanya ia tak butuh jawaban, tingkah Lisa barusan membuat ia mengerti. Tawa bahagianya adalah jawaban, langkah cerianya adalah kepastian.
Di depan sana, wajah Lisa memerah. Tak menyangka anak kecil itu, lagi-lagi sukses membuat hatinya kembali berdegup kencang.
"LISA KAMU KALAU KETANGKEP, AKU CIUM LOOOH!" Bambam berteriak, sembari berlari kencang menyusul gadis itu.
"IH ENGGAK BAKAL YAAA!" Lisa menambah kecepetan larinya, tawanya masih awet di sana.
Malam itu penuh tawa, malam itu penuh bahagia, malam itu adalah awal dari perjalan baru.
***
Sumpah ya, aku kalau nulis story ini harus bener-bener nyaman dan punya mood yang bagus.
Gak bisa banget asal-asalan, walau hasil nulis saya sebenarnya gak seberapa bagusnya sih.
Gatau ini masih ada yang baca apa enggak.
This is maybe will be last chapter, but if you guys stilk want to read..... maybe i will writer sooner or later.
Thank you.
Btw gue nangis woi Taeyang ama Hyorin akhirnya nikah!!!! Kayak gue tuh bahagia, terharu, sedih juga semua-semuanya huhu
Langgeng ampe tua ya bang yebe ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Bambam, Untuk Lisa
Fanfiction[Book 1: Dari Lisa, Untuk Bambam] [Book 2: Dari Bambam, Untuk Lisa] . . . Bersamamu adalah suatu kebahagian yang tak pernah terkira nilainya.
