Yugyeom bergerak resah di kursi yang ia duduki, topinya ia turunkan menutupi wajah sekalipun malam ini sudah sangat sepi. Ia melirik arloji di tangan kiri, pukul sebelas malam dan Lisa belum juga datang.
Pemuda itu mendadak takut, kalau terjadi apa-apa di jalan pada Lisa. Namun kekhawatirannya lenyap begitu ia melihat sosok gadis tinggi yang baru saja memasuki cafe.
Rambut blonde pendeknya diikat asal, ditambah topi hitam dan pakaian serba hitamnya.
"Lama ya? Maaf," ucap Lisa begitu ia sampai di depan Yugyeom, gadis itu duduk sambil melempar senyum.
"Gak apa-apa, Lis. Itu diminum dulu," Yugyeom menunjuk hot chocolate yang kini kepulan asapnya hanya sedikit.
Lisa mengangguk, selanjutnya ia menyesap hot chocolate yang sudah tak begitu panas itu. Ia menatap Yugyeom sesudahnya. "Aku gak ngerepotin kamu kan? Minta ketemu begini?"
Yugyeom menggeleng pelan. "Emang Lisa ada perlu apa?"
Gadis itu terdiam, menunduk tatapan hot chocolate di meja. Ingin bicara, tapi ada begitu banyak yang ia pertimbangkan. Masih ada ragu, juga pilu.
"Cerita aja, Lis. Siapa tahu bisa sedikit melepas beban?" ujar Yugyeom, seraya tersenyum lembut.
Lisa mendongak, membalas dengan senyuman kecil. Namun masih tetap diam dalam keraguan.
Melihat itu, Yugyeom berinisiatif untuk menyanyi kecil. "Just tell me why," pemuda itu tersenyum lebar pada Lisa setelah menyanyikan potongan lagu I Wish milik WJSN.
Nyanyian itu sukses membuat Lisa terkekeh geli, ia memukul pelan bahu Yugyeom. Selanjutnya sudah tertawa. "Yugyeom lucu."
"Hehe makasih," sahut Yugyeom dengan menaruh kedua telunjuk di kedua pipinya. "Jadi ... Lisa mau ngomong apa?"
Lisa menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata. "Gyeom, bisa tolong jagain Bambam?"
"Hah?" Yugyeom dibuat bingung dengan permintaan gadis itu.
"Aku gak mau dia sedih, aku gak mau dia terus-terusan merasa terpuruk. Tolong jadi teman yang baik buat dia ya?" pinta Lisa.
Ada raut sedikit menyesal di wajah karena telah mengutarakan permintaan bodoh itu, namun sudah terlanjur basah hingga Lisa memutuskan melanjutkannya.
"Gyeom, Lisa masih sayang sama Bambam."
Pengakuan itu membuat hening tercipta dalam sekejap saja, sampai Yugyeom berujar. "Bisa ya? Kamu disakitin tapi malah masih sayang?"
Gadis itu mengedikkan bahu. "Iya masih sayang, tapi aku gak bakal mau kembali untuk dia saat ini."
"Gimana? Sebenernya aku agak gak ngerti, Lis," pemuda itu meringis sambil mengaduk hot chocolatenya.
Ia memang tak mengerti, lagipula mengapa cinta harus serumit ini?
"Otak aku udah berusaha ngusir dia, tapi gak bisa," Lisa tersenyum tipis. "Mungkin aku bisa aja nemuin yang lebih segala-galanya dari dia. Tapi sialnya, cuma dia yang hati aku mau."
Hati Yugyeom mencelos mendengar kalimat gadis itu. Bukan apa-apa, hanya saja ia belum pernah menemukan seseorang setulus Lisa. Atau mungkin, Lisa terlalu naif?
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Bambam, Untuk Lisa
Fanfiction[Book 1: Dari Lisa, Untuk Bambam] [Book 2: Dari Bambam, Untuk Lisa] . . . Bersamamu adalah suatu kebahagian yang tak pernah terkira nilainya.
