Casualty

67 13 0
                                        

Milo

"Prof?" sebuah suara mengagetkanku. "Saya mengganggu Prof?" tanya Elly yang melongok di ambang pintu. Memangnya dia sudah ketuk pintu ya tadi? Kok aku tidak dengar apa-apa? Atau aku yang melamun?

"Ada apa?" 

"Ada telepon, Prof, sudah saya sambungkan. Sejak tadi berdering, apa Prof tidak ingin menjawab? Sementara ini saya hold," Elly tampak ragu mengatakannya. Aku jarang menolak telepon, dari musuh sekalipun. 

"Dari siapa?"

"Lagya"

Aku terdiam mendengar nama itu. Sudah beberapa minggu ini aku tak bertemu dengannya, tidak berkomunikasi, atau melakukan kontak apapun. Tapi aku selalu tahu kabarnya. Mungkin lebih tepat kalau aku selalu tahu kabar kemajuan studinya. Bagaimana tidak, semua pengujinya adalah teman-temanku. Salah satu dari mereka bahkan sudah curiga kalau Lagya itu kekasihku. Tapi aku hanya diam. Biar mereka berspekulasi. 

"Tanya dia ada di mana dan katakan aku akan menemuinya," kataku sambil membereskan mejaku. Aku harus bertemu Lagya. Aku butuh bertemu dengannya. 

Lagya mengatakan untuk bertemu di perpustakaan, dia tahu kalau aku punya ruangan khusus yang bisa kugunakan sewaktu-waktu untuk bimbingan. Tempatnya tenang dan menyenangkan. Aku minta Elly untuk mendaftarkan pertemuan kami selama dua jam agar tidak ada yang mengganggu kami selama itu. Semuanya lancar.

Aku memilih untuk menunggu Lagya masuk sebelum aku sendiri masuk. Menunggu Lagya di ruangan itu akan semakin membuatku senewen. Orang boleh bilang kalau aku tak pernah punya ekspresi, tapi mereka sama sekali tak tahu apa yang kurasa dalam hatiku.

"Siang, Lagya," sapaku dingin ketika aku masuk ke ruangan. Lagya mengangguk sopan. Dan tersenyum. Melihatnya terasa seperti diguyur. Lalu ekspresinya berubah agak terkejut, mungkin aku tanpa sadar juga tersenyum. Hal yang jarang kulakukan. Termasuk padanya.

"Prof Andrew menyarankan untuk memberitahu Prof Park kalau sekitar bulan depan saya bisa defense," katanya tampak senang. Tapi aku tidak. Dia menjadi ahli basa-basi lagi.

"Apa kau lupa bagaimana cara kita berkomunikasi, Lagya?" tanyaku. Aku tidak suka. "Lama ya kita tidak berbincang, sampai kau lupa bagaimana memanggilku."

"Hmm, maaf Milo, mungkin aku bingung karena terlalu senang.."

"Senang karena defense-mu? Atau senang karena bertemu denganku?" Aku tak sabar untuk berdiri dari kursiku dan mendekat padanya. Lagya memang tidak duduk sejak tadi, ia tampak sangat excited untuk mengabarkan defense-nya hingga lupa untuk duduk.

Lagya tertegun dengan pertanyaanku. Mungkin juga itu bukan respon yang ia prediksi. Dan ekspresinya melemparku pada kenyataan bahwa aku pernah menciumnya.

Lagya tiba-tiba mundur. Aku paham karena kemudian aku sadar bahwa tubuhku sudah condong ke depan.

"Milo, please.." ujarnya. "Jangan membuat keadaan menjadi rumit. Masih ada hal-hal yang harus kau selesaikan." Bahasanya yang tidak formal terdengar jujur. Aku jadi curiga.

"Aku selesaikan? Apa maksudmu? Soal apa?" tanyaku. Lagya menunduk seakan enggan menjawab.

"Kupikir kita tidak punya cukup alasan untuk berpura-pura di sini. Aku memberitahu kabar yang menurutku menggembirakan karena kamu pernah punya andil dalam kegembiraan itu. Dan sandiwara kita tidak diperlukan di sini. Lagipula mungkin kau harus menyelesaikan urusan pribadimu sendiri..."

Jawaban Lagya terdengar menggantung. Ia ingin memberikan isyarat yang sebenarnya tak ingin ia singgung hari ini. Aku semakin penasaran.

"Urusan pribadi?" Lagya mengangguk menjawab pertanyaanku. "Apa Kay menghubungimu?" Emosiku terpancing.

"Dia menemuiku dan berkisah. Tapi aku tidak menggubrisnya sama sekali. Aku hanya bilang kalau ia perlu menyelesaikannya denganmu, bukan denganku."

"Apa lagi yang dia lakukan?" tanyaku. Lagya diam, tapi tidak berani menatapku. "Katakan padaku, apa lagi yang dia lakukan padamu?"

"Dia mengirimkan beberapa email dan pesan.. sedikit membuatku tak nyaman di awal, tapi sekarang aku tak peduli."

Kay tampaknya benar-benar putus asa sampai mendekati Lagya dengan caranya. Aku tidak pernah menyangka dia berani melakukan hal seperti ini. Aku juga merasa bersalah terhadap Lagya. Kupikir Kay akan mundur mendengar aku serius dengan seorang perempuan, tapi ternyata jiwa kompetitifnya belum surut. Kini aku hanya membawa korban yang tak perlu. Artinya aku harus melindungi Lagya lebih baik lagi.

BerbedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang