Kini sang fajar telah datang. Matahari nampak masih malu-malu untuk keluar dari tempatnya. Derikan malam telah berganti dengan kicauan burung. Mereka yang masih terhanyut dalam mimpi masing-masing, enggan untuk memulai hari yang cerah ini.
Begitu pun wanita cantik yang masih bergelung dengan selimut hangatnya dan pria yang sedari tadi masih setia dengan kegiatannya. Pria itu bukan sibuk dengan aktivitasnya sebagai seorang Raja, namun ia tengah sibuk mengamati Ratu nya yang masih terlelap di dalam dekapan dada bidangnya.
Sesekali sang Raja tersenyum simpul mendengar permaisurinya mendengkur kecil.
"Aku mencintaimu, chagi." bisik Lee parau di telinga Luna, turun ke leher jenjang nan putih itu.
Cup!
Lee mengecup lembut leher jenjang milik Luna. Di mulai dengan kecupan lembut, sekarang berganti menjadi lumatan dan sesekali Lee menggigitnya pelan. Luna memekik pelan atas perbuatan Lee dan itu membuat Lee menginginkan lebih.
Lee sekarang beralih ke bibir merah cherry itu dan meninggalkan jejak merah di leher Luna. Walaupun Luna tak membalasnya, namun tetap saja sekarang ini Lee menginginkan lebih dari itu.
Luna membuka matanya. Gadis itu merasakan sedikit perih di bagian lehernya dan kini sesuatu yang lembut dan basah membelai lembut bibirnya.
Ice cream.
Mata hazel itu membulat. Lee menciumnya?!
Luna memejamkan matanya lagi berharap jika yang tadi ia lihat hanya mimpi. Namun harapannya pupus sudah. Ini memang nyata dan bukan fatamorgana.
Luna mendorong tubuh Lee agar ia menghirup udara walau sejenak. Lee yang merasa terganggu melepaskan tautannya. Luna mengatur deru nafasnya yang masih tersenggal-senggal, begitupun dengan Lee.
Mereka bertatapan cukup lama, sampai akhirnya Lee membuka suara dan membisikan sesuatu di telinga kanan Luna dengan lembut.
"Aku menginginkannya," bisik Lee terdengar parau. Dan setelah itu terserah mereka.
_O_
Di lain tempat , gadis berhanfu merah muda tengah menatap nanar ke arah sel penjara. Gadis cantik itu menatap miris keadaan kakaknya. Ia mendekat walau terhalang oleh jeruji besi yang kokoh.
"Kakak," panggilnya terdengar pedih. Mata bengkak sehabis menangis itu mendongkak ke arah sumber suara.
"Sulli," imbuh Tiffany lemah.
"Kakak, bagaimana bisa seperti ini?" tanya Sulli yang ternyata adik kandung dari Tiffany sendiri.
Lengan tiffany terulur untuk menangkup salah satu pipi sang adik. Namun seketika itu juga tubuhnya terpental ke sudut ruangan, mulutnya mengeluarkan darah kental cukup banyak. Satu hal yang ia lupakan. Barier.
Sulli berteriak histeris melihat keadaan kakaknya. Tiffany mencoba bangkit sembari memegangi dadanya. Perih.
"Kakak," air mata itu sudah tak bisa di bendung lagi. Sungguh malang nasib kakaknya.
"Kau tak usah kuatirkan aku. Aku tak apa," ucap sang kakak tersenyum perih.
"Tapi kakak, aku kesini un-"
"Pulanglah," potong Tiffany pelan.
"Aku akan pulang bersama kakak!" tegas Sulli sembari mengusap kasar air matanya.
"Aku akan pulang, tapi bukan ke rumah melainkan surga. Ah! Tidak! Neraka lebih tepatnya," tatapan kosong dari Ratu Kerajaan Angin itu ia pancarkan.
"Tidak! Kakak akan pulang bersamaku! Aku akan bicara pada Yang Mulia Lee," Sulli beranjak pergi namun langkahnya tertahan dengan suara langkah yang menuju ke tempatnya.
Lee dan Luna.
"Hormat hamba, Yang Mulia." tunduk Sulli dengan sopan.
"Ada apa kau datang kemari?" tanya Lee to the point.
"Hamba ingin menjemput kakak hamba, Yang Mulia." jawab Sulli yakin.
"Kakakmu takkan pergi kemana-mana," ucap Lee datar. Sulli langsung mendongkak tak percaya ke arah Lee.
"Siang ini kakakmu akan di hukum atas perbuatannya," Luna hanya menunduk tak berani berkata apa-apa.
"Hamba mohon, Yang Mulia. Maafkan kesalahan kakak hamba pada permaisuri," isak Sulli dalam tangisnya. Luna menatap iba ke arah Sulli.
Lee menghela nafas beratnya. Sebenarnya, Lee juga tak tega melihat Sulli menatapnya seperti itu apalagi Lee sudah menganggap Sulli sebagai adiknya.
"Keputusan sudah di ambil! Dan jangan pernah mempersulitku!" ucap Lee tegas lalu meninggalkan tempat itu.
Sulli menangis lagi. Gadis itu roboh di tanah. Luna mendekat dan membungkuk di depan Sulli. Luna menarik dagu lancip Sulli agar menatapnya lalu Luna menghapus air mata itu dengan lembut.
"Ratu, kau tau di dunia ini aku tak punya siapa-siapa lagi. Aku hanya hidup dengan kasih sayang dari kakakku. Ibuku meninggal saat melahirkanku. Semua membenciku, mereka menganggap aku adalah penyebab kematiannya termasuk ayahku. Tapi kakakku.. Kakak ku tak seperti itu. Ia menyayangiku, ia menjagaku layaknya seorang ibu. Jika ia mati, aku juga pasti akan ikut bersamanya. Walaupun aku hidup, itu percuma saja karena rasaku telah mati," tutur Sulli.
Luna menggeleng cepat, ia juga ikut larut dalam kesedihan Sulli. Luna menarik Sulli ke dalam pelukannya. Luna sangat tak tega melihat gadis kecil itu sudah sangat di benci banyak orang.
Update nya kecepetan yah??,😁
KAMU SEDANG MEMBACA
The King Element And I #Wattys2017
Fantasía(SEDANG DI REVISI) Aku wanita biasa, manusia biasa dan tak pernah membayangkan jika aku akan menjadi Ratu dari Dunia Fantasy. Yang kupikir, Dunia Fantasy itu tak ada dan tak pernah ada. Tapi sekarang aku sendiri berada dalam Dunia Fantasy itu.
