Ini lanjutan nya yah all..
Semoga kalian suka😊
Happy Reading!
"Lee, tidakkah kau merasa kasihan kepada Sulli?" tanya Luna yang masih berusaha membujuk sang suami agar mencabut hukuman yang akan di jatuhi pada Tiffany.
"Tidak!" jawab Lee tanpa menoleh sedikitpun ke arah istrinya.
"Ayolah, Lee. Aku tau Ratu bersalah.. tapi, kau lihatkan? Aku tak apa, aku masih hidup dan-"
"Dan semalam kau masih bisa melayaniku," potong Lee yang langsung mendapat tinjuan dari Luna.
"Rasakan itu!" hardik Luna sambil mengangkat dagunya.
Lee terkekeh melihatnya, "Tapi aku benar bukan?" Luna menyipitkan matanya seolah menantang pria yang kini tersenyum menyebalkan.
Lee mengambil nafasnya dalam. "Jangan mempersulitku, Luna." ucap Lee memelan. Luna yang mendengar itu langsung beranjak mendekat ke arah Lee.
"Maaf. Tapi, aku sudah berjanji pada Sulli bahwa Tiffany akan dibebaskan dari hukumannya, dan janji adalah hutang. Aku akan merasa bersalah jika sampai tak bisa menepati janjiku," imbuh Luna sendu.
"Sulli sangat menyayangi Tiffany. Ia bilang padaku bahwa hanya kakaknya saja yang menyayanginya. Ibunya meninggal saat ia akan melihat dunia, sejak kejadian itu ayahnya mulai membencinya. Ia hidup dengan kasih sayang yang Tiffany berikan. Kau tau, Lee? Tiffany berbuat seperti itu karna ia sangat mencintaimu. Cinta yang membuatnya seperti ini. Tiffany gadis yang baik, ia berhati lembut. Cinta Tiffany padamu sangat besar,"
"Apa cintamu juga sangat besar untukku?"
Luna mencebik kesal.
"Dengarkan dulu!"
"Mungkin jika kau lebih memilih Tiffany dibandingkan aku, aku juga akan melakukan hal seperti itu. Aku akan melakukan apapun agar kau menjadi milikku dan Tiffany pun berbuat hal seperti itu. Maafkanlah Tiffany, cabut hukumannya, bebaskan ia, biarkan ia memulai hidupnya yang baru. Aku yakin Tiffany akan berubah,"
Lee tercenung dengan apa yang barusan Luna ucapkan. Ia tak menyangka jika Luna bisa berbicara hal tentang cinta seperti itu.
Sejak kapan ia mendalami tentang cinta?
"Kau benar, Luna. Harusnya aku tak menghukum Tiffany seperti itu. Bukan Tiffany yang salah, tapi ego yang membuatnya seperti ini. Hmm, baiklah. Aku akan mencabut hukumannya," Lee menyunggingkan senyumannya ke arah Luna dan menarik Luna agar duduk dipangkuannya, lalu membelainya mesra, dan berakhir dengan kecupan hangat di kening Luna.
_O_
Kasih sayang yang diperlihatkan Sulli pada Tiffany, membuat Luna meluluh. Hatinya ikut sakit saat melihat gadis remaja itu masih terisak di luar sel sang kakak. Seperti saat ini, gadis itu masih terisak melihat keadaan sang kakak yang masih meringkuk di dalam penjara.
"Kau masih di sini?" tanya Luna. Sulli membalikkan tubuhnya ke sumber suara lantas membuatnya tertunduk hormat. Luna mendekat ke arah Sulli dan membelai pipi lembut itu dengan pelan.
"Jangan menangis, kakakmu akan terbebas. Jadi, kau jangan menangis," ucap Luna dengan mata yang berkaca-kaca. Secercah harapan terlihat di wajah mungil Sulli.
"Yang Mulia," Luna mengangguk yakin.
"Yah. Kakakmu akan segera bebas,"
"Terimakasih, Yang Mulia. Terima kasih,"
Sulli langsung besujud untuk memeluk kaki Luna sembari terisak haru. Luna membulatkan matanya. Ia sungguh tak menyangka bahwa Sulli akan melakukan hal itu. Pasalnya, di dunia manusia orang-orang tidak pernah melakukan hal seperti itu.
"Jangan seperti itu. Berdirilah," Luna memegang bahu Sulli dan memeluknya untuk memberikan kehangatan seorang kakak kedua pengganti Tiffany.
_O_
Sekarang Sulli mengulum senyum cerahnya. Gadis itu terus menggenggam kedua lengan wanita yang berdiri di samping kanan-kirinya.
"Sulli, aku ingin berbicara berdua dengan permaisuri. Mm.. boleh kau tinggalkan kami sebentar?" tanya Tiffany pelan .
Sekarang wanita itu berpenampilan layaknya seorang Ratu, bukan tahanan atau apapun. Sulli mengangguk meng'iya'kan permintaan sang kakak.
"Luna, Ah! Maksudku Permaisuri,"
"Ratu tak usah memanggilku seperti itu. Panggil saja Luna,"
"Ratu?" tanya Tiffany bingung. Luna mengangguk cepat.
"Kau kan seorang Ratu. Jadi sudah seharusnya aku memanggilmu seperti itu," jelas Luna. Tiffany menghembuskan nafasnya.
Benar-benar gadis manusia polos.
"Aku memang seorang Ratu, kau juga seorang Ratu. Kau menyuruhku memanggilmu Luna, maka aku juga akan menyuruhmu untuk memanggilku Fany. Setuju?" tanya Tiffany mengangkat sebelah alisnya. Luna menatap Tiffany tak mengerti.
"Maksudmu kita teman?" tanya Luna balik.
"Mm.. teman ya? Baiklah. Tak terlalu buruk," ucap Tiffany tersenyum manis.
"Teman?" tanya Luna menunjuk Tiffany dengan satu telunjuknya.
"Teman," balas Tiffany, menyatukan telunjuk mereka. Mereka tertawa lepas dengan kelakuan yang mereka lakukan.
Kau gadis yang baik Luna. Pantas saja Lee memilihmu. Kau memiliki sejuta kepribadian yang menarik, kau pantas bersanding dengan Lee. Hatimu yang murni membuat semua orang mengagumimu, termasuk aku.
Huh! Author seneng banget akhirnya Tiffany sama Luna temenan. Mudah-mudahan Tiffany nya ngga jahat lagi sama Luna. Amin!
N
ah buat kalian, tetap jaga pertemanan kalian ya? Jangan sampe pertemanan kalian hancur yah ,apalagi cuman gara2 cowok.
Oke bye-bye👋
KAMU SEDANG MEMBACA
The King Element And I #Wattys2017
Fantasía(SEDANG DI REVISI) Aku wanita biasa, manusia biasa dan tak pernah membayangkan jika aku akan menjadi Ratu dari Dunia Fantasy. Yang kupikir, Dunia Fantasy itu tak ada dan tak pernah ada. Tapi sekarang aku sendiri berada dalam Dunia Fantasy itu.
