14.

1.1K 51 1
                                        

Rafa turun dari motornya berjalan dengan langkah lemas menuju dalam rumah.

Sebelum masuk ke dalam rumah Rafa melihat dua mobil yang berderet rapih disamping rumahnya.

Rafa tak menghiraukan dua mobil itu dan langsung masuk ke dalam rumah.

Cklek..

Suara pintu berhasil membuat tiga orang yang ada disana menoleh ke arah Rafa.

Rensa mamanya Rafa menghampiri dan mengajaknya untuk bergabung.

"Rafa kenalin ini Vian anaknya Tante Karlina dan Om Gilang, kamu masih inget?" Tanya Bio papanya Rafa.

"Lupa, tumben mama sama papa pulang?" Rafa balik nanya.

"Iya mama dan papa ingin mengingkatkan kamu saja sama sepupu kamu ini," Rensa mengelus rambut Rafa.

"Oh... yaudah Rafa mau ke kamar dulu mah, pah."

"Kamu gak sekolah?" Tanya Bio menatap Rafa.

"Rafa izin pah," Rafa berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.

"Rafa kenapa, mah?"

"Gak tau mungkin lagi capek kali pah, yaudah Vian kamu masuk kamar gih." Ucap Rensa lembut.

"Iya mah, aku masuk kamar dulu ya," Vian berjalan ke kamarnya yang berada disamping kamar Rafa.

***

Rafa membaringkan tubuh ke kasur empuknya.

Menatap sendu langit-langit kamarnya sambil mengingat perkataan Ryan yang membuatnya sakit hati.

"Pergi anjing..." sahut Ryan kasar.

"Coba aja kalo bisa, pergi sana jangan bikin gue ngeluarin kata-kata kotor lagi nantinya." Sahut Ryan sinis.

Rafa mengusap wajahnya kasar mengingat perkataan Ryan lagi.

"Apa salah gue yan sampe-sampe lu ngomong kayak gitu?" Rafa mengeluarkan hpnya dari saku celananya.

Cklek..

Rafa menoleh ke arah pintu kamarnya yang menampakan Vian diambang pintu.

"Boleh gue masuk?" Tanya Vian sopan.

"Boleh, masuk aja lagian juga udah lu buka kan pintunya?" Tanya Rafa sinis.

"Iya juga sih," Vian berjalan ke sofa yang ada disana.

"Ngapain kesini?" Tanya Rafa sewot.

Vian duduk disofa dan menyenderkan pundaknya disana merasa sudah nyaman dia membuka suaranya.

"Gue bakal jadi kakak angkat lu nanti," ucap Vian sambil memainkan hpnya.

"Apa?" Tanya Rafa sambil duduk dikasurnya dan menatap Vian.

"Gue bakal jadi kakak angkat lu, Rafa." Jawab Vian jengkel.

"Kenapa bisa?"

"Ya gitu dah, intinya mama sama papa lu bakal sayang banget ama gue."

"Serah mau mereka sayang banget ke lu kek apa kek bodo amat," Rafa menarik selimutnya sampai kepala.

"Raf..." panggil Vian.

"Apaan lagi?" Tanya Rafa geram.

"Boleh gue meluk lu?"

Rafa mengernyitkan keningnya bingung.

"Raf, lu tidur?"

"Kagak."

"Boleh gak?"

"Kagak," Rafa membuka selimutnya menatap Vian.

"Oh yaudah kalo gitu gue ke kamar yak," Vian bangkit dari sofa berjalan perlahan keluar kamar.

"Kak..." panggil Rafa membuat Vian nengok kebelakang.

Rafa langsung menerjang tubuh Vian yang hampir saja kehilangan keseimbangan.

"Gue terima lu jadi kakak angkat gue," Rafa mengeratkan pelukannya memberikan sedikit bebannya ke Vian.

Vian langsung mengelus pundak Rafa lembut.

"Kita gak beda jauh kok umurnya jadi panggil aja Vian."

"Kagak, pokoknya gue manggil lu kakak yah?" Rafa memundurkan tubuhnya.

"Makasih lu udah mau nerima gue jadi kakak angkat," Vian mengacak rambut Rafa.

***

Sekolah...

Deon memasuki ruang kepala sekolah meminta pengertian untuk Kiki tetep memakai kursi rodanya.

Setelah 20 menit berlalu Deon keluar menghampiri Kiki yang menunggunya didepan ruang kepala sekolah.

"Gimana gue boleh masuk kan?" Tanya Kiki.

"Boleh kok, tapi kita tungguin Leon dulu katanya dia mau dateng jam segini," Deon duduk dibangku panjang.

"Leon jadi bagian kita sekarang?" Tanya Kiki lagi.

Deon hanya mengangguk.

"Kenapa?" Tanya Kiki lagi dan lagi.

"Bacot udah diem aja deh kaya pembantu baru lu nanya terus." Jawab Deon.

"Lama nih dia," Kiki memainkan hpnya.

"Kok gak muncul-muncul sih tu anak," Deon celingak-celinguk.

"Woi, sorry telat," Leon menghampiri Deon dan Kiki.

"Lama lu ayok udah bantuin gue bawain kursi roda Kiki." Ucap Deon.

"Terus Kikinya jalan gitu?" Tanya Leon bingung.

"Kiki gue gendong sampe kelas," Deon berjongkok membelakangi Kiki dan Leon.

"Lu mau gendong gue, yon?" Tanya Kiki heran.

"Iya, udah GC keburu gue berubah pikiran."

Leon pun membantu Kiki untuk berdiri dan menaiki pundak Deon.

"Udah?" Tanya Deon yang berasa sedikit berat dipundaknya.

"Iyaa." Jawab Kiki.

"Bawain nih sekalian tas gue, Le," Deon melempar tas selempangnya ke Leon.

"Oke, tapi serius lu mau gendong Kiki ampe kelas?" Tanya Leon ragu.

"Iya emang kenapa?" Deon mulai berdiri menyeimbangkan tubuhnya.

"Kelas kita dilantai dua loh?" Tanya Leon tak percaya.

Deon hanya diam sambil berjalan duluan.

Kiki yang berada digendongannya merasa tak enak.

Banyak murid-murid yang menatap ke arah Deon dan Kiki.

Terutama murid wanita yang memandang mereka dengan tatapan menjijikan.

"Apa lu liat-liat?" Tanya Deon sengit sambil menaiki anak tangga perlahan.

Leon yang dibelakangnya hanya bisa geleng-geleng.

"Makasih yon lu udah mau nanggung malu kayak gini gara-gara gendong gue." Kata Kiki tulus.

"Santai aja sih, kita kan solmed." Sahut Deon.

"Mata tuh tolong kondisikan." Teriak Deon.

"Iri kan lu pada kagak ada yang gendong?" Tanya Kiki.

Mereka akhirnya bubar ke kelas masing-masing.










Haiii gaess.....
Balik lagi nih dengan lanjutan cerita yang makin absurd tapi masih dilanjutin yah karena ini karya saya jadi hak saya lah, wkwkwk.....

Oh iya btw besok kalau ada waktu luang aku akan mempublish cerita AFRA, iya cerita pengganti Sahabat Sejati...

Yang mau baca syukur yang gak mau baca juga gak papa.

Dan aku juga mau ngasih tahu cerita "ARTHAYA" iya cerita temen aku, kalian bisa langsung cek di worknya Lita16_ ....

Ok makasih semuanya😘😘😘😘

BROKEN HOMETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang