"Gue takutnya kita bakalan--" Farel menggantungkan ucapannya. Matanya memancarkan sorot menggoda.
Chika melotot. "Bakalan apa?!" tak Chika sadari, nada suaranya naik beberapa oktaf sehingga Farel terbahak bahak. Chika mengernyit, Farel ini humornya rendah, ya?.
Farel mengacak acak rambut Chika. "Bakalan disuruh nikah, gitu" Farel kembali terkekeh saat membayangkan dirinya menikah bersama Chika.
Mata Chika melebar. Ia bergidik jijik. "Ini udah pagi kali. Jangan ngimpi mulu" Ketus Chika. Ia menampar pelan pipi Farel, menyebabkan Farel terkekeh.
Farel menoel dagu Chika. "Lo juga pasti mau, kan?" sebelah matanya berkedip menggoda.
Chika berdecih. "Of course, not" Chika Melirik Farel sinis.
Farel mengangkat bahu dan kedua tangannya. Ia kesal saat Chika berdecih. "Oke, gue gak mau tau. Apapun yang udah gue akuin sebagai milik gue. Bakalan jadi milik gue" Farel meninggalkan Chika sendiri.
Napas Chika memburu. "Gue tetep gak mau. Gunain telinga lo untuk denger ini" Chika berteriak. Ia yakin, Farel pasti mendengar.
Chika jatuh terduduk. Ia semakin terisak, "Kak Braam--Chika takut."
***
Chika terlalu lama bengong dan berdiam diri di rooftop sekolah. Tangisannya sudah reda 10 menit yang lalu. Tapi Chika terlalu malas untuk turun dan bertemu dengan si pembuat masalah di hidupnya.
Chika memutuskan untuk turun setelah beberapa menit, dan akan berani menghadapi apapun nantinya. Chika baru teringat, jika ia adalah murid baru tadi pagi di sekolah ini.
Chika melangkah dengan mata mengantuk sehabis menangis. Ia turun dengan keadaan buruk. Terutama mata dan hidungnya yang perlu di kompres.
***
Chika menarik perkataannya saat di rooftop sekolah tadi. Keberanian menguap entah kemana saat ia berdiri sendiri di depan pintu coklat dengan papan bertuliskan gugus tujuh.
Ini menakutkan.
Chika meniup telapak tangannya beberapa kali, lalu saling menggesekkan telapak tangannya. Ia merasa sedikit dingin.
Dengan jantung yang berdetak melebihi ritme biasanya, Chika mengangkat tangannya yang sudah berbentuk kepalan. Chika mengetuk daun pintu di depannya tiga kali.
Setelah mendapat suruhan masuk dari dalam, Chika membuka pintu tersebut. Ia melangkah ragu kedalam. "Err--Permisi, kak?" ucap Chika.
Chika tidak memandang wajah Osis pembimbing dan teman temannya. Namun, ia tahu bahwa mereka semua memandangnya aneh.
"Maaf kak, saya--terlambat" Chika mengusap tengkuknya saat merasakan hawa berbeda. Bulu kuduknya tiba tiba saja berdiri tegak saat ia tidak mendapat jawaban.
Chika mengkat kepalanya. Namun ia menjadi menyesal karena tatapan aneh yang Osis dan teman temannya berikan.
Arin mengangguk. "Saya tau kamu terlambat. Terus?" Arin bertanya menjebak.
Chika bergumam dalam hati. Menimbang nimbang jawaban yang pas. "Saya boleh duduk?" tanya Chika penuh harap.
"Hmm--" Arin bergumam. "Kayanya ngga deh. Kamu lari, ngelilingin lapangan. Baru duduk" Arin menggerakkan jarinya membentuk lingkaran.
Mata Chika melebar. "Seriusan kak?" tanyanya.
Arin mengangguk yakin. "Iya. Kenapa ngga?"
Chika menelan salivanya kasar. "Berapa putaran, kak?" mata Chika berbinar penuh harap, agar Arin tidak menyebutkan angka yang besar
Arin ngangguk ngangguk. "Lima putaran aja, kayanya cukup" Arin tersenyum manis. Namun, Chika sangat kesal melihatnya.
Chika menarik napasnya, "Oke"
Chika melangkah dengan berat hati. Ia mengutuk dalam diam. Tak berani bersuara keras. Takut ada yang mendengar, dan ia terkena masalah di hari pertamanya sekolah.
***
Punya Instagram tidak?
Follow aku yak (at : sherina.mp)
KAMU SEDANG MEMBACA
Look at Me! [ New Version ]
Teen Fiction[Completed]√ Chika Bramasta Rogiliur. Gadis manis yang terlahir dalam keluarga yang serba ada, menjadikan Chika sosok yang cerewet namun juga cengeng. Menurut Chika, perasaan adalah urusan belakangan, ia membiarkan semuanya berlalu seperti aliran s...
![Look at Me! [ New Version ]](https://img.wattpad.com/cover/107970032-64-k294577.jpg)