Kakak itu ngeselin
Tapi, ngangenin.
***
Tek.. Tek.. Tek..
Suara detik jam sudah lelaki itu dengar semenjak ia menduduki dirinya di sofa single ruang keluarga rumah ini. Namun, matanya tetap tak bisa ia alihkan dari ponsel di tangannya.
Ia mengetik beberapa pesan singkat untuk temannya. Lalu, membaca ulang sebelum ia tekan tombol kirim.
Setelah terkirim, ia memperhatikan sekali lagi. Namun, balasan belum ia dapatkan. Dengan berat hati, ia matikan HP nya dan mengangkat jam tangan yang ia pasang di tangan kirinya.
05.55
Matanya melebar. Menandakan ia sangat terkejut akan deretan angka di jam tangan pintar miliknya. Ia berdiri, menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai atas.
Ia berdiri di depan pintu kamar yang di cat warna putih untuk menyesuaikan dengan warna dinding rumah ini.
Ia mengepalkan tangannya, lalu mengangkat dan mengetuk daun pintu di depannya ini sebanyak tiga kali.
Ia menunggu sahutan dari dalam. Namun, setelah 5 detik berlalu. Ia tak mendengar apapun.
Ia mengulanginya lagi. Kali ini disertai dengan panggilan.
"Dek?" katanya. Jika ia kira membangunkan seorang yang baru tidur pukul 1 dini hari adalah hal yang mudah. Maka, ia salah besar.
Ia berdecak malas dan menghembuskan napasnya kesal serta jengkel. Jika adiknya sesusah ini di bangunkan, mungkin ia tak akan membiarkan adiknya memiliki suami sebelum bisa bangun sendiri walau tidur pukul 5.
Jika ketukan halus tak bisa membangunkan, maka akan ia coba ketukan kasar.
TOK TOK TOK
Jika ketukan halus, ketukan kasar, dan panggilan halus tak dapat membangunkan. Maka jangan salahkan dia jika...
"DEEEK?!!!! BANGUN ELAH. JAM BERAPA INI. LO KEBO YA!!"
...Setelah ini ia akan diamuk oleh para tetangga karena teriak di pagi hari.
**
Suara ketukan yang ia dengar dari luar kamar. Malah membuatnya semakin menarik selimut dan semakin erat memeluk guling.
Dalam hati ia berjanji.
5 menit lagi.
Baru saja ia berniat mengunjungi dunia para kurcaci lucu dan mencoba membangunkan putri tidur. Ia malah mendengar suara yang mirip seperti setan. Why ghost? Karena, setan itu pengganggu. Dan orang di luar sana pengganggu tidurnya.
"DEEEK?!!!! BANGUN ELAH. JAM BERAPA INI. LO KEBO YA!!"
Ia tersentak kaget. Ia langsung duduk dan memegangi dadanya. Jantungnya berpacu cepat, seakan berdemo ingin keluar. Dan kepalanya seketika pusing.
"IYA IYA.. ini aku udah bangun dari tadi kok" sahutnya malas malas.
"10 menit lagi lo harus turun!" balas orang di luar sana yang ia yakini bernama Bramasta Rogiliur. Kakaknya.
Ia berdecak kesal, "Iya, nanti Chika turun" jawab Chika. Namanya, Chika Bramasta Rogiliur. Adik satu satunya yang Bram miliki.
Dengan jantung yang belum stabil. Ia menuruni kasur yang seakan penuh magnet untuk menariknya kembali tertidur.
Chika berjalan sedikit sempoyongan menuju kamar mandi yang memang berada di setiap kamar rumah ini.
Ia mengunci pintu kamar mandi, lalu mulai mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin agar ia tidak kembali mengantuk.
Setelah selesai dengan ritual hariannya. Ia keluar kamar mandi dengan menggigil. Handuk tebal berwarna merah jambu dengan gambar pinguin di salah satu sisinya tidak bisa membuat ia merasakan hangat.
Ia mematikan air conditioner yang membuatnya semakin menggigil. Lalu, mulai mengeringkan tetesan air di tubuhnya.
Setelah cukup kering, ia mulai memakai helaian pakaian sesuai dengan ketentuan yang sudah di tetapkan sekolah barunya.
***
Bram menuruni anak tangga dengan cepat setelah ia selesai bersiap siap untuk menempuh ilmu.
Ia berjalan cepat menuju meja makan, yang hanya terdiri oleh Vany. Ibu dari Bram dan Chika.
Bram duduk di salah satu kursi meja makan tersebut, dan mulai melahap sandwich yang Vany sediakan sebagai sarapan. Setelah habis, ia segera minum susu yang Vany siapkan juga.
"Chika dari tadi belum turun?" tanya Bram setelah sekian lama diam. Ia melirik jam tangannya, sudah lewat 15 menit. Mana 10 menit yang adiknya itu janjikan?
Vany tersenyum, "belum bang. Masih make sesuatu mungkin. Udah, kasian dia keribetan" ucap Vany dengan nada keibuannya yang kental.
Bram mengangguk angguk seraya berucap 'oh' dengan panjang. Matanya memperhatikan pergerakan tangan Vany yang sedang mengoleskan roti dengan selai kacang.
Vany tersenyum, "abang mau roti lagi?" tanya Vany memberikan dua lembar roti yang sudah di olesi selai kepada Bram.
Bram nyengir dan mengambil roti yang Vany berikan, "Hehe".
Vany terkekeh kecil. Ia memang sudah hapal sifat dan prilaku kedua anaknya yang sekarang beranjak dewasa.
Bram memang memiliki nafsu makan tinggi. Berbanding terbalik dengan Chika yang hanya makan bila ingat.
Vany tidak pernah mengeluh akan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Ia selalu tampil cantik dam anggun dengan wajah yang mulai keriput.
Rambut sebahu yang ia biarkan tergerai seolah tak pernah menutupi cantik alami yang Vany pancarkan.
•••
Edisi Revisi
Instagram @sherina.mp
KAMU SEDANG MEMBACA
Look at Me! [ New Version ]
Dla nastolatków[Completed]√ Chika Bramasta Rogiliur. Gadis manis yang terlahir dalam keluarga yang serba ada, menjadikan Chika sosok yang cerewet namun juga cengeng. Menurut Chika, perasaan adalah urusan belakangan, ia membiarkan semuanya berlalu seperti aliran s...
![Look at Me! [ New Version ]](https://img.wattpad.com/cover/107970032-64-k294577.jpg)