chapter 11 : kecemburuan

9.1K 457 3
                                        

Chika menahan napasnya. Ia memilih untuk menunduk. Menyerahkan semua nasibnya selama bertahun tahun kepada Farel.

Chika melirik Arin yang wajahnya memerah. Menahan emosi, kekesalan, dan rasa malu akibat kata kata tajam Farel yang menunjukan bahwa Farel memihak Chika sepenuhnya.

Arin menghentakkan kakinya berkali kali. Memancing Farel mendengus kesal sekaligus jiji. "Udah deh Rel, biar dia jalanin hukumannya" Arin menunjuk Chika menggunakan jari tengahnya.

Farel menurunkan tangan Arin dengan kasar. "Lo terlalu bolot untuk ngerti perkataan gue" ketus Farel. Arin mengerjapkan matanya berkali kali.

Arin mengibaskan tangannya yang mulai gemetar. "Terserah deh--dan lo, balik ke gugus sekarang juga" Arin berucap tajam.

Chika mengangkat kepalanya. Menatap mata Arin yang masih melebar kearahnya. Setelah Arin mengacungkan jari tengah ke arah Chika, Arin berlalu pergi tanpa menoleh.

Farel berdecih melihat kelakuan Arin. Ia menoleh kearah Chika, lalu merangkuk bahunya. "Ga niat bilang makasih, gitu?"

Chika melepaskan rangkulan Farel. Namun tangan Farel malahan memeluk lingkaran perut Chika. "Buat apa?" ketus Chika.

Farel melepaskan pelukannya. Ia menoleh kearah Chika. "Gue udah belain lo tadi" Kata Farel tak percaya.

Chika mengangkat bahunya masa bodo. Ia berjalan duluan meninggalkan Farel.

***

Farel menyusul langkah Chika yang baru sampai di lorong. Setelah langkahnya sejajar, Farel kembali merangkul bahu Chika.

Dari arah berlawanan, segerombolan siswi saling bercanda ria. Saat mereka hanya terpisah beberapa langkah, salah satu siswi menyapa Farel dengan centil. "Hai Farel!"

Mata mereka memperhatikan Farel dengan mata menggoda, lalu beralih ke tangan Farel yang merangkul Chika. Mereka bersama sama melihat Chika dengan pandangan tidak suka.

Salah satu siswi yang memakai jam tangan berwarna kuning memelintir rambutnya. "Ngapain Rel, berduaan sama anak bau kencur" ia menekankan kata bau kencur.

Farel berhenti melangkah. Melirik mereka semua tajam, "Masih mending. Daripada lo semua, bau tanah"

Mereka berhenti tertawa. Farel ini?!

Chika menunduk saat mendapat tatapan tajam dari gerombolan siswi tersebut, yang Chika yakini kakak kelas.

Farel melirik Chika yang kembali menunduk. Dengan kesal, Farel melangkah kearah siswi yang masih menatap Chika. "Lo ngeliatin cewek gue, gue colok mata lo".

Chika mengangkat kepalanya spontan. Cewek dia katanya?.

Salah satu siswi teriak. "CEWEK LO, REL?" mata siswi itu dan beberapa siswi lainnya melebar tidak percaya.

Farel menarik rambut siswi tersebut kesal, "Berisik lo"

***


Chika menahan kakinya agar tidak ikut terbawa oleh langkah Farel. "Kak, lepasin!" Chika memberontak. Ia mencoba melepaskan genggaman Farel.

Farel menoleh dengan kesal. Ia melepaskan genggaman tangannya. Beralih berjalan kebelakang tubuh Chika. Dengan pelan, tapi sedikit kuat, Farel mendorong tubuh Chika agar berjalan.

Mata Chika melotot. Ia tetap berjalan agar tidak terdorong Farel, lalu berakhir dengan mencium lantai. Di belakangnya, Farel tertawa terbahak bahak mendengar teriakan Chika.

***

Disisi lain, seseorang mengepalkan tangannya kesal melihat tawa Farel. Selama bertahun tahun ia kenal Farel, ia tidak pernah mendengar Farel tertawa lepas seperti saat ini.

Chika masih saja berjalan--bahkan hampir berlari. Kakinya mulai sakit. Ia sudah meminta agar Farel berhenti, namun sepertinya telinga Farel mulai tidak berfungsi.

"Kak... Udah!!" Chika teriak. Ia mulai kesal karena Farel tidak berhenti tertawa sejak tadi.

Saking kesalnya, Chika menangis. Ia sampai susah bernapas karena kelelahan juga napas yang tersendat karena menangis.

Farel berhenti saat mulai mendengar isakan Chika. Ia membalikkan badan Chika, dan matanya melebar saat pipi Chika sudah basah akibat tangisannya sendiri. "Chika...sorry" Farel mulai merasa bersalah.

Ia menyesal. Ia menarik tangan Chika menajuh dari koridor sepi itu.

•••

Punya Instagram? Follow oke.  (at : sherina.mp)

Look at Me! [ New Version ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang