Sinb POV
Sudah jam 12 malam, tengah malam. Aku sama sekali tidak bisa tidur, pipiku memanas bahkan pendingin ruangan tidak bisa menghilangkan rasa gerahku.
Beberapa kali aku merubah posisi tidur tapi tidak berpengaruh, mataku sangat susah di atur malam ini. Insomnia lagi? Ayolah besok aku harus tampil.
Menghela nafas panjang, aku menyerah. Membuka balkon dan membiarkan udara malam yang dingin menembus kulit.
Menatap lurus ke depan, kamar yang tadi ku datangi. Jeon Jungkook, aku tidak bisa menghilangkan wajahnya itu. Tanpa sadar senyuman tersungging di wajahku.
Apa yang kulakukan tadi benar? Apa dia mendengarnya? Kuharap tidak, bisa-bisa aku mati kutu bila bertemu dengannya. Tapi ada rasa lega setelah beberapa kata yang kuucapkan beberapa saat yang lalu itu.
Akhirnya mataku mulai berat, pukul setengah satu aku bisa tertidur. Tentunya dengan senyuman yang belum bisa ku lepaskan.
Jam wekker ku berbunyi, sudah beberapa hari tidak mendengar suara nyaringnya. Aku langsung bangkit dan segera sarapan. Ada gladi yang harus kuikuti.
Ini masih pukul 5, ya aku hanya tidur kurang lebih empat jam. Sudah ada sarapan di atas meja tapi aku tidak melihat eomma ataupun appa.
"eomma masih mengantuk, jadi habiskan sarapanmu, hati-hati dijalan dan Semoga berjalan lancar. Fighting nyonya Hwang, dan jangan lupa kunci pintunya" gumamku membaca sticky notes di kulkas.
Karena acara ulang tahun yayasan yang terbuka eomma dan appa mungkin akan menyusul jika sempat, aku tidak mengharap mereka datang. Lagi pula ini hanya acara ulang tahun.
Kulihat keadaan diluar masih sepi, rumah Jungkook juga masih tertutup rapat. Apa ini? Dia tidak mau gladi apa?
Menutup dan mengunci pintu, aku bergegas menuju halte. "Ya! Hwang Eunbi! Kau tidak menungguku?" mendengar suaranya saja bisa membuatku begidik, astaga aku sudah berusaha agar tidak bertemu dengannya.
"kenapa berangkat duluan? Dasar jahat" katanya saat sudah di sampingku.
Kami sudah duduk di bus, seperti biasa aku memakai earphone. Tidak berniat melihat wajahnya dan memilih memejamkan mata. Sampai lagu habis aku sudah melihat Jungkook yang menatapku. "kamchagia! W.. Weo?"
"apa kau melupakan sesuatu?" aku baru sadar bahwa Jungkook tampan juga melihatnya sedekat ini padahal ini sudah biasa, tapi entah kenapa hari ini terasa berbeda. Sekejap aku menggeleng kuat. Ini pasti efek kurang tidur.
"weo?"
"kau lupa? Semalam kau menembakku!! Apa sekarang kau mau menyangkalnya?" ucapnya dengan nada yang lebih tinggi, untung penumpang bus tidak sedang ramai. "apa maksudmu?" aku tidak pernah mengatakan itu!" elakku.
"apa kepalamu pusing? Biasanya kalau habis minum.... "
"lihat, kau mengkhawatirkanku.. Ahhh sudah kuduga kau pasti terpesona dengan wajah tampan ku ini" memang ku akui itu benar, tapi mendengarnya bicara seperti itu sedikit membuatku ingin memukulnya.
"percaya dirimu itu memang sepertinya tidak akan bisa hilang ya".
Kami sudah turun dari bus, berjalan menuju tempat gladi. Sedikit sunyi. Aku bingung mau bicara apa dengan Jungkook. Yang jelas aku tidak ingin membahas kejadian semalam.
Perlahan tangan Jungkook menyentuh dan menggenggam tanganku. Apa lagi ini! Aku memang tidak mengelak, hanya menuruti apa yang diinginkan hatiku.
Aku mencoba melihat wajahnya dan ia menoleh. "bogosipheo Sinb-yah" jantungku sakit bersamaan dengan kata yang di lontarkannya. Aku segera memalingkan wajah, pipiku memanas. Yaampun ini terjadi lagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
High School Love (SinKook)
Fanfiction[Complete] 13 Mei - 5 Juni "aku tidak mungkin merebutnya dari sahabatku sendiri" -Sinb 🌦 "haruskah aku jujur? Atau menerima orang yang sudah jelas menyukaiku?" -Jungkook 🌥 "aku menyukainya dan ini pertama kalinya" -Eunseo 🌈 "dia adalah seseorang...