"Aku sayang kamu. Tapi hanya sebatas sahabat"
Ada kalanya ketika silaunya matahari terasa sangat redup. Atau redupnya cahaya bulan dapat menyinari teras rumahku. Disinilah aku berdiri, beratapkan bintang malam yang bersinar dengan terangnya malam ini. Didepan sana, aku menatap suatu harapan yang selama ini ku genggam erat, dan tak ada kata 'takut kehilangan' yang entah mengapa sejak kejadian siang tadi, mulai goyah.
Tanganku menggegam besi horizontal sebagai batas teras ini. Aku sengaja meminta papa membuatkan teras tepat di samping kamarku, karena aku suka bulan. Sangat. Dan kini, wanita bulanku semakin meredupkan cahayanya untukku.
Dia, wanita bulanku, A--
Drrrrt
Lamunanku seketika terbuyar, karena getaran handphone dalam saku celanaku.
Ashla : "Lo lagi sibuk?"
"Kenapa?"
Ashla : "Ketemu gue sekarang di cafe deket rumah lo"
Aku menautkan kedua alisku tak paham. Tak biasanya, gadis ini ingin bertemu, apalagi sekarang jam menunjukkan pukul 7.15. Yang harusnya dia tahu, itu bukan waktu yang tepat untuk menemui seorang laki-laki.
Baiklah, aku turuti apa maunya. Toh mungkin membicarakan perasaanya. Huhh! Cewek, terlalu mendramatisir semua hal. Kusambar jaket hitam yang tergantung di samping kasurku. Kemudian melengang keluar. Bukan Dika namanya bila harus ijin mama dan papa. Di depan sana sudah ada mobil merah yang siap untuk ku kemudikan. Baru saja melangkah meninggalkan pintu, pekikan tajam dari orang yang sangat aku hapal itu. Siapa lagi kalau bukan? Mama...
"Mau kemana malam begini?", ujar mama mendekat ke arahku.
"Masih sore kali ma", kulirik jam tanganku yang melingkar di pergelangan tanganku. "Tujuh lewat 25 menit"
"Ngeles mulu kamu! Mau kemana sih?"
"Ketemu orang", jawabku malas.
"Ketemu orang? Siapa? Adelle yaa?"
Ck
"Apa sih ma, bukann"
"Waduh, banyak banget gebetan kamu. Dika dika, gebet mulu, kapan pacarannya?"
"Udahlah maa, aku berangkat dulu", desahan pelan keluar dari mulutku saat berbalik membelakangi mama. Tanpa pikir panjang, segera aku memasuki mobil dan mengendarainya cepat.
Tak butuh waktu lama, kini aku sudah sampai di cafe yang Ashla minta karena jaraknya yang memang tidak terlalu jauh. Bisa saja aku menggunakan motor, tapi, berkendara dengan motor di malam hari seringkali membuatku pusing. Memasuki ruangan cafe yang tidak terlalu luas memudahkanku mencari cari Ashla. Ohh disana, aku melihatnya memakai baju warna merah dan rambutnya yang tergurai. Dengan ringannya, kulangkahkan kakiku menuju ke arahnya. Tapi, mendadak langkah kaki ini menjadi berat. Selain Ashla ada.. Cowok itu?
Mungkinkah dia teman dekat Ashla? Hingga Adelle mengenalnya? Apakah yang tadi aku lihat hanya sebuah kepedulian seorang sahabat? Memapah Adelle? Ahh tidak, mungkin aku saja yang terlalu posesif dengan Adelle, pacar saja buka.

KAMU SEDANG MEMBACA
Adelle
Teen FictionDijodohkan sejak SMP tanpa tahu menahu siapa dia? Ini adalah kisah Aldric Azka Riandika yang sudah memperhatikan gadis manis sejak mendengar perjodohan dengannya. Si gunung es yang bisa luluh karena kecantikan dan sifatnya yang baik. Ia berani memb...