Nana

117 15 6
                                    

"Div, maaf ya udah ngeliat ponsel Diva," Diva yang awalnya memperhatikan ponsel kini tengah memperhatikan Nisa.

"It's ok. Tapi lain kali jangan gitu lagi ya," kata Diva sambil mengelus kepala Nisa.

"Siap kaka," jawab Nisa dengan cengiran khasnya. Diva pun menurunkan tangannya lalu tersenyum penuh arti.

Diva kembali memainkan ponselnya sedangkan Nisa masih menunggu Firda yang sampai sekarang belum balik. Merasa canggung datang, Nisa kembali angkat bicara.

"Div, Didi itu siapa?" Diva menoleh ke arah Nisa.

"Hmm, seorang teman. Mungkin?" jawab Diva sambil menaikkan kedua bahunya.

Nisa mengernyit, "Kok jawabnya ga yakin gitu Div?"

Diva menghela napas, "Gini loh Nis. Diva temenan sama dia. Tapi lama kelamaan Diva jadi punya rasa sama dia. Tapi dia masih nganggep Diva temennya padahal Diva berharap lebih. Walaupun Diva berharap lebih, biar ga canggung Diva anggep aja dia sebagai temen Diva."

"Ooh, jadi semacam friendzone gitu ya?"

"Yaa begitulah," Diva menghela napas berat. Diva dan Nisa tidak terlalu dekat. Sejak Nisa mengenal Diva, ia memang terkesan cuek. Jadilah Nisa lebih dekat dengan Firda ketimbang dengan Diva.

"Hehehe, halo man-temanku yang cantik jelita. Terima kasih sudah mau menunggu Firda yang imut ini. Baru kali ini ada orang yang rela nungguin Firda padahal Firda tinggal lama. Syedih daku, eh terharu deng hehehe," ucap Firda dengan senyuman lebar sambil menggaruk tenguknya yang tidak gatal.

Diva langsung berdiri dan menjitak kepala Firda keras. Nisa pun ikut-ikutan mencubit lengan Firda.

"Sakit ih," Firda langsung mengusap-usap kepala dan lengannya bergantian.

"Abis dari mana aja lo? Ditungguin dari tadi. Gue kira lo udah dibawa sama pemulung depan komplek," kata Diva sadis.

"Hehehe," Firda kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Tadi Firda nyari makanan di deket counter pulsa sebelah sono. Eh Firda malah kesasar. Tapi Firda malah nemu banyak kios makanan. Ada batagor, siomay, cilok, cireng, cimol, sate, soto, masih banyak lagi deh pokoknya. Abis itu Firda borong semua. Eh ga semuanya juga si. Nih Firda beliin juga buat kalian. Tapi tapi Firda nyomot dikit punya kalian. Jangan marah ya, hehe. Abis itu Firda nanya ke satpam deh. Selesai," jelas Firda panjang lebar sambil memperlihatkan bungkusan yang ia bawa dengan satu tangan. Lalu ia menyerahkan beberapa bungkusan itu pada Diva.

"Lain kali kalo mau kesasar bilang dulu. Kalo udah kesasar telpon, biar kita bisa nyusul. Lagian lo juga bawa telpon kan? Kenapa gak nelpon kita?" Diva mengambil bungkusan yang Firda beri.

"Awalnya Firda mau nelpon kalian. Tapi Firda lupa kalo pulsa Firda abis. Jadinya Firda ga bisa nelpon kalian deh."

Diva menepuk jidatnya kesal, "Kan lo tadi lewat counter pulsa, kenapa kagak beli pulsa sih?"

"Abis Firda nya udah laper, jadi Firda males belinya." Diva langsung menjewer telinga Firda dengan kesal. Nisa hanya tertawa melihat pertengkaran kecil mereka.

"Eh udah yuk, bentar lagi mau malem. Nanti Nisa dimarahin ibu," kata Nisa setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.

"Masih jadi anak ibu ya Nis," komentar Firda sambil menjenggut rambut Diva. Diva membalas menjenggut rambut Firda. Akhirnya mereka menjadi pusat perhatian karena perbuatan rusuh mereka.

"Udah-udah, nanti di tangkep pa satpam loh," kata Nisa sambil merangkul kedua lengan mereka. Firda di sebelah kanan dan Diva di sebelah kiri. Nisa berusaha memisahkan mereka walaupun mereka masih sempat mencuri-curi cubitan.

Mereka digiring Nisa keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Tak lupa, Nisa kedua tangan Nisa juga memegang bungkusan yang tadi Firda beli karena Diva sukses melupakannya berkat pertengkaran tadi.

###

Helo-ω- jangan bosen ya ketemu saya😂, part khusus mereka bertiga🎉 jadi tuh ya, mereka tuh pulangnya siang sekitar jam 1 an, jadi.... ya begitulah. Asiq bentar lagi masuk sekolah😆, jadi ada alibi untuk ngaret. Eh, ups keceplosan ehe😅 becanda ih. Jangan lupa tinggalkan vote dan comment. Dadah👋

21Jun17-22Jun17

Piano dan CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang