Nijuugo

24 1 1
                                    

Aldi sudah siap-siap untuk pergi ke rumah Arkan. Penting katanya. Katanya. Ia pun berpamitan pada ibunya dan mengendarai motor ke rumah Arkan.

Dia sedang menunggu lampu merah. Bentar lagi sih. Karena bosan menunggu padahal ga lama lagi juga lampu hijau, Aldi sok sibuk menoleh-noleh ke kanan kiri. Saat melihat kirinya, Aldi melihat sosok yang menurutnya ia kenal sedang berada di dalam mobil. Raut wajahnya terlihat sedih mungkin?

Itu adalah Nisa. Awalnya Aldi mau nyapa soalnya kayaknya Nisa ga sadar kalo ada Aldi di sampingnya. Tapi ga jadi karena udah keburu diklaksonin sama yang belakang.

Nisa mau kemana ya?, tanyanya dalam hati.

Apa gue ikutin aja ya? Eh tapi nanti Arkan marah. Ya udah deh nanti gue tanya langsung aja.

Mobil Nisa sudah berjalan lurus, sedangkan Aldi berbelok ke kanan.

***

"Lo lama amat sih? Ditungguin juga." Arkan sudah menyambut Aldi di depan rumahnya.

"Maaf sih, lagian lo tiba-tiba manggil gue. Emang ada apaan sih?" Aldi masuk dan menaruh helmnya.

"Lo buruan ke kamar gue ntar gue nyusul." Akhirnya dengan malas Aldi pun menurutinya.

"Paan si cuy?" Setelah menunggu beberapa saat, Arkan pun muncul.

"Gue keterima di Universitas Z." Dengan ga nyelo nya Arkan berkata.

"Tak kira penting banget. Dah ah gue mau pulang." Baru mau Aldi berdiri, ia sudah ditarik duduk lagi.

"Tunggu dulu, yang pentingnya ini nih." Aldi mengangkat salah satu alisnya, penasaran.

"Gue denger Nisa masuk situ juga."

Akhirnya Aldi diem gaes.

"Oh, gitu." Mukanya sok-sok ga peduli gitu. Padahal, Arkan mengharapkan reaksi yang lain.

"Masa begitu doang si Di? Lo ga kaget atau apa gitu?" Arkan emosi jadinya.

"Ga, b aja." Pret.

"Padahal udah mateng-mateng gue latihan, lo mah ga apresiasiin gue. Jahat." Sekarang Arkan mojok pura-pura nangis.

"Oke-oke. WHAT? GUE KAGET!"

"Ga ikhlas lo. Ga gue terima."

***

15 menit lagi pesawat Nisa akan lepas landas. Ia pergi bersama Irbah yang kebetulan lagi pengen jalan-jalan.

Setelah acara peluk-pelukan bareng kedua orang tuanya, mereka pun bergegas masuk ke pesawat.

"Gimana Nis? Udah kangen?" Nisa yang sedang melihat keluar jendela pun menoleh.

"Hah?"

"Ga ada siaran ulang." Muka Nisa kebingungan.

"Kangen? Sama siapa?" Irbah tertawa kecil.

"Ga usah pura-pura ga tau deh."

Tolong ini mah ya. Nisa tuh orangnya ga peka pas orang lain ngode. Jadi Nisa tuh ga ngerti.

"Tolong ini mah ka, Nisa ga ngerti."

"Tunggu aja, nanti pasti ngerti."

***
Akhirnya Nisa pun sampai di tempat tujuan.

Australia.

Sesaat setelah Nisa dan Irbah keluar dari bandara, ada seseorang yang menepuk pundak Nisa.

"AAA MAMAAA."

Karena teriakan Nisa yang kekencengan itu, banyak orang yang melihat ke arahnya. Irbah pun membungkukkan badan meminta maaf.

"Woi Nis, ini gue." Nisa pun menoleh dan ternyata manusia yang menepuk. /bodo/

"Ish Ri, ngangetin aja." Sedangkan yang di panggil Ri itu, hanya terseyum simpul.

Namanya Suri, temennya Nisa yang tinggal di Australia. Dia cewek yang sangat receh yang kalau ketawa suaranya mirip kuntilanak.

"Sori sih, halo ka!" Suri melambaikan tangannya ke Irbah. Irbah membalasnya dengan tersenyum.

"Kuy pergi. Mo jalan-jalan apa langsung istirahat ni?" Suri menggandeng tangan Nisa dan Irbah dan menyeretnya untuk berjalan.

"Terserah kamu aja."

"Oke. Kita jalan-jalan."

###
Tetew, cerita ini makin gaje? Emng iy.

Wah udah berapa tahun ni cerita, ehe.

17May18-6Jul18

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 23, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Piano dan CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang