Nisa, Naila, dan Irfan langsung membereskan barang-barangnya setelah mendengar teriakan Aldi. Saat di ambang pintu, Nisa kembali meminta maaf kepada Aldi namun Aldi hanya mengacuhkannya. Nisa pun segera pamit untuk pulang.
***
Setelah Nisa sampai di rumah, ia langsung membersihkan tanggannya yang sudah berlumuran darah lalu ia perban. Kakinya mulai terlihat kebiru-biruan. Lalu ia mengoleskan salep ke kakinya yang membiru. Sesudah itu ia segera pergi ke kamar karena ibu nya belum pulang.
Sudah jam 7, dan ibu nya belum pulang. Sepertinya pengajian belum selesai. Begitu pula dengan kakak nya, Irbah. Kakaknya sibuk karena ia sudah mulai masuk semester 7. Sampai-sampai jarang berkumpul dengan keluarganya. Ayahnya, Fattah, kerja di tempat yang cukup jauh dari kota tempat mereka tinggal. Namun setiap 2 minggu sekali ayahnya akan pulang. Oleh sebab itu ia terbiasa berdua di rumah bersama ibunya. Namun sampai saat ini ibunya belum pulang.
"Assalamualaikum," sahut seseorang dari luar.
"Iya, Waalaikumussalam," jawab Nisa. Lalu ia segera keluar dari kamarnya dan melihat siapa yang bertamu malam-malam begini.
Ternyata itu adalah Naila. Naila datang dengan membawa sebuah tas tenteng berwarna coklat.
"Hai Nis," sapa Naila dengan cengiran khasnya.
"Ha-hai juga," jawab Nisa sambil tersenyum tipis. Lalu Nisa mempersilahkan Naila masuk. Mereka pun duduk di kursi ruang tamu. Tiba-tiba Naila menyodorkan sebuah kotak pada Nisa. Nisa pun menerimanya dengan ragu-ragu.
"Ini apaan Nel?" tanya Nisa sambil mengangkat kotak itu.
"Coba aja buka," kata Naila sambil tersenyum.
Nisa pun membuka kotak itu secara perlahan. Dan ternyata, isi kotak itu adalah senar.
"Senar? Tapi buat apa?" kata Nisa sambil memandang heran kepada Naila.
"Lo mau Aldi marah terus sama lo?"
Perkataan itu membuat Nisa tertegun. Ada benarnya juga perkataan Naila, katanya dalam hati.
"Oh iya gimana keadaan tangan sama kaki lo? Udah sembuh?" tanya Naila sambil menunjuk tangan Nisa yang diperban.
"Ya kali udah sembuh Nel. Cuma masih sedikit sakit aja. Kakiku juga udah dioles salep kok," katanya sambil memperlihatkan tangannya yang diperban.
"Ooh, ya udah Nis, gue balik dulu. Semoga Aldi ga marah lagi sama lo ya," kata Naila sambil berdiri. Bersiap-siap untuk pulang.
"Ehh, ga mau minum dulu Nel?" tanya Nisa mencegah Naila yang sudah di ambang pintu.
"Ga usah lah, udah malem. Nanti ibu gue nyariin lagi," katanya sambil melambaikan tangan pada Nisa. Nisa mengikuti Naila sampai keluar pagar rumahnya.
"Assalamualaikum, Nis."
"Waalaikumussalam, Nel," Nisa menunggu Naila hilang dari pandangannya setelah itu ia kembali masuk ke rumah.
***
Pagi hari di depan pintu kelas, Nisa menunggu Aldi datang dengan perasaan campur aduk. Namun rasa takut mendominasi perasaannya.
Sudah jam 06.45 namun masih belum tampak batang hidungnya. Padahal kelas sudah ramai. Bahkan kursi sudah penuh semua. Tentunya kecuali kursi Aldi. Nisa menjadi kesal karena sampai sekarang Aldi belum datang. Kepalanya menoleh ke kanan kiri untuk mencari sosok itu.
"Awas."
Terdengarlah suara dari seseorang yang sedari tadi Nisa tunggu. Namun nadanya terdengar dingin. Nisa segera memalingkan wajahnya ke arah orang itu dan segera bergeser untuk memberi jalan.
"Tu-tunggu Di," cegah Nisa sebelum Aldi masuk ke kelas.
"Apa?" nadanya masih terdengar dingin.
"Ma-maaf Di," kata Nisa pelan.
###
SORREH FOR TYPO!!! HELLO GAIS. KEMABALI LAGI DENGAN SAYA. LAH SAYA SIAPA? OKE OKE LANJUT. EHEM EHEM. JADI.... MAAFKAN SAYA KARENA NGARET KETERLALUAN 😷. SAYA BANYAK TUGAS SIP 👌 #alibi. Mana besok PAT lagi-_- saya ga punya ide untuk ceritanya makanya saya ngaret #alibi2 Jadi tuh ya, kisi-kisi PAT nya poeanjang jadi saya harus ngerangkum walaupun sebenernya saya males :v #curhat Demi cerita ini up (labil) saya berusaha lanjutin ceritanya #curhat2. Oke oke balik ke topik. Ciaaa ceritanya gantung. Ada yang penasaran ga nih? Pendek ya? Pendek Ya? PeNdEk Ya? PENDEK YA? PENDEK YA?! Serius, gue makin alay-_- (edit) saya mewakili Nisa dan Aldi (bukan yang asli ye:v) mengucapkan, Selamat Berpuasa Bagi Yang Menjalankan🙏
Salam pusing,
Rylia30Apr17-29May17

KAMU SEDANG MEMBACA
Piano dan Cinta
Teen FictionAldi adalah seorang pecinta piano. Cintanya pada piano melebihi cintanya pada segala sesuatu. Aldi selalu memberi perhatian lebih pada pianonya. Ia tidak mengizinkan siapapun menyentuh pianonya kecuali dirinya. Pada suatu hari, Nisa yang berkunjung...