Jūgo

111 13 19
                                    

"Mau apa ya kira-kira," kata Aldi sambil menyeringai.

"Ya mau baca buku lah," mukanya kembali datar seperti sedia kala. Nisa mendengus kesal. Sepertinya mereka akan melewati kelas anak baru itu. Karena di koridor sudah banyak anak laki-laki yang berdesak-desakkan.

Aldi melewatinya dengan wajah datar. Sedangkan Nisa, tentu saja tertarik ingin melihat anak baru itu. Apalah daya, ia tidak bisa kabur dari Aldi. Jika ia kabur, masalahnya dengan Aldi akan semakin besar.

***
"Jadi sebenernya mau ngapain sih kita ke sini Di? Nisa bosen nih," belum ada 15 menit, Nisa sudah bosan berada di perpustakaan. Apa gunanya ia menontoni Aldi yang sedang serius membaca?

"Shhtt, berisik. Ganggu konsentrasi," Aldi kembali melanjutkan bawaannya.

Perpustakaan sepi sekali. Hanya mereka berdua dengan seorang pustakawan.

Nisa sudah mati kebosanan, ia menyerah dan izin kepada Aldi untuk balik ke kelas. Ternyata Aldi juga ingin kembali ke kelas.

Kembali mereka keluar perpustakaan bersama-sama.

***
"Hai ka, namaku Maura. Salam kenal," ucap seorang gadis berwajah asing sambil mengulurkan tangannya, menatap Aldi.

Tentu saja Aldi tidak peduli dengan gadis itu. Dengan cepat ia pergi dari situ sambil menyeret Nisa agar berjalan cepat.

"Menarik," seringai terlihat jelas menghiasi wajahnya.

***
"Kamu ga kasian sama anak itu Di?" Kelas masih agak sepi, hanya beberapa yang ada di kelas. Ada Reyhan, Andi, Fita, Ulan, dan Diva.

"Buat apa kasian? Lagian dia juga ga kenapa-napa," Aldi menduduki kursinya. Buku yang tadi ia baca—dan ia pinjam, ditaruhnya di atas meja.

"Ya ga gitu juga kali. Sopan sedikit sama orang lain," kata Nisa sambil berjalan ke kursinya yang tak jauh dari Aldi. Saat Nisa membuka tempat pensilnya, penghapusnya sudah berubah menjadi potongan-potongan kecil.

Apalagi pensil kayu nya, sudah tidak jelas bentuknya.

"Ini kerjaan siapa lagi sih? Ga cape apa ngerjain Nisa mulu?" Nisa mengeluarkan semua potongan penghapus dan pensil kayu yang sudah hancur itu.

"Loh ini apaan?" sebuah kertas terjatuh dari tempat pensil Nisa. Nisa mengambil dan membukanya. Tanpa Nisa ketahui, Aldi sudah berada di belakangnya.

"Apaan itu?" tanya Aldi sambil menunjuk kertas tersebut. Nisa memberikannya pada Aldi. Fita melihat mereka sinis sekali.

"Ini baru permulaan, kamu harus berpikir lebih dalam untuk tahu siapa pengirimnya. Tertanda, Dua Satu? Apaan sih maksudnya?" komentar Aldi saat membaca isi dari kertas itu. Nisa menggelengkan kepalanya tidak tahu.

"Mungkin orang yang dendam sama Nisa kali," jawab Nisa cuek. Sedangkan Aldi mengernyit tidak mengerti.

"Ngapain juga dendam sama lo? Kurang kerjaan banget," balas Aldi sengit. Nisa memutar matanya malas.

"Ya urusan dia lah kalo mau dendam apa enggak sama Nisa. Kok Aldi yang repot sih?" seketika Aldi terdiam. Dirinya seperti menyadari sesuatu.

"Di? Ko diem?" Nisa menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Aldi.

"Bukan urusan lo," Aldi segera balik ke kursinya meninggalkan Nisa yang sedang bertanya-tanya.

***
"Permisi, Ka Aldi nya ada?" tanya seseorang gadis berwajah asing kepada salah satu teman sekelas Nisa.

Nisa mendengar percakapan itu dan Nisa pun menghampiri gadis itu.

"Maura ya?" tanya Nisa melihat gadis itu. Gadis itu hanya tersenyum simpul. Sedangkan teman sekelas Nisa yang tadi membantu Maura mencari Aldi sudah pergi.

"Iya ka. Omong-omong, ada Ka Aldi?" tanya Maura sangat-sangat sopan.

"Ada, emang mau ngapain?" Nisa bertanya dan hanya dijawab dengan cengiran oleh Maura.

"Mau nembak Ka Aldi."





###
GIMANA NIH CHAPTER INI? ( ͡° ͜ʖ ͡°) WAHAHAHAH. Maap kalo saya sering ngegantungin, tapi seru juga si :v sorry for typo, jangan lupa VOTE dan COMMENT nya ya😉

23Sept17-25Sept2017

Piano dan CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang