139 12 16
                                    

"Makasih ya Rey udah nganterin Nisa pulang. Jaketnya entar Nisa cuci dulu ya," kata Nisa yang sekarang sudah berada di depan pagar rumahnya.

"Iya, sama-sama Nis. Kalo ternyata mereka masih buat ulah, bilang aja ke Rehan biar mereka tau rasa," kata Reyhan bersemangat.

"Iya Rey. Mau masuk dulu nggak?" tawar Nisa dengan sopan.

"Enggak usah Nis, bentar lagi sore. Nanti mama marah sama Rehan gara-gara pulang telat," jawabnya sambil tersenyum manis.

"Oh ya udah. Makasih ya Rey udah mau nganterin pulang dan maaf kalau mobil Reyhan jadi bau gara-gara Nisa," ia tertunduk.

"Iya gapapa kok. Rehan pulang dulu ya, dah," Reyhan kembali masuk ke mobilnya dan melambaikan tangan. Setelah itu, ia langsung pergi dari rumah Nisa. Nisa membalas lambaian tangannya itu.

***
Nisa berjalan pelan ke arah kamar mandi. Ia takut ibunya tau kalau ia pulang dalam keadaan kacau seperti itu.

"Nisa?"

DEG. Duh ketauan. Ia berbalik badan dan mendapati ibunya dengan raut wajah khawatir.

"Eh ibu," kata Nisa sambil cengengesan.

"Kamu darimana aja sih? Ibu telponin dari tadi ga diangkat. Terus kenapa badan kamu bau gini? Ini jaket siapa pula?"

"I-itu tadi Nisa kepeleset pas mau nyuci pel-an," kata Nisa sambil melihat kelantai.

"Ga usah boong Nisa. Masa kepeleset satu badan kena semua. Kamu dibully siapa?"

"Fita."

"Ya udah, kamu mandi dulu sana. Nanti jaketnya ibu yang cuci," Qila mengambil jaket Reyhan yang masih Nisa pakai.

"Iya bu."

***
Setelah Nisa mandi, ia dipanggil Qila untuk makan malam. Lalu ia kembali ke kamarnya.

Seketika ia ingat sesuatu. Bagaimana Reyhan bisa tau rumahnya. Padahal selama ini hanya kedua temannya yang tau di mana rumahnya. Ia harus menanyakannya besok.

***
Bel tanda istirahat baru saja berdering. Nisa segera menghampiri meja Reyhan dan menanyakannya.

"Eh i-itu," Reyhan gelisah saat ditanyai Nisa. Sedangkan Nisa hanya kebingungan.

"Re!"

"Eh Nis gue dah dipanggil Fayyaz tuh. Gue duluan ya," ia melambaikan tangannya.

Nisa pun cemberut dan langsung menghampiri kedua temannya.

***
Nisa buru-buru berlari ke parkiran agar cepat pulang. Ia lupa kalau hari ini ia piket.

Saat bel tadi, ia pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Sudah hampir setengah jam ia berada di perpustakaan. Hanya tinggal 3 orang lagi di sana ditambah dirinya.

Tiba-tiba Firda menghampirinya dan dengan ngos-ngosan ia berkata bahwa Nisa melupakan piket. Firda juga meminta maaf kepada Nisa kalau ia tidak dapat menunggu Nisa piket karena ada urusan mendadak. Diva juga sedang diburu pr sehingga tidak dapat menemani Nisa piket. Jadilah sekarang Nisa baru akan pulang ke rumah.

Nisa menghela napas lelah saat ia sudah sampai parkiran. Kembali sepedanya dikerjai oleh seseorang. Sepedanya dipenuhi oleh ulat bulu dan cacing.

Nisa yang benar-benar jijik dengan kedua hewan itu segera berlari kembali ke lapangan. Ternyata masih ada seseorang di sana yang sedang memasukkan bola basket ke dalam ring. Itu adalah Aldi.

Duh, cuma tinggal Aldi lagi. Gimana nih. Kalo Nisa minta tolong takutnya dia marah lagi. Ya udah deh, Nisa coba aja.

"Di!"

Aldi pun menoleh dan mendapati Nisa yang sedang berlari menghampirinya.

###

Hello gais, kembali lagi dengan saia 🕵 sang detektif dari pdc :v sori por typo dan jangan lupa vote serta tinggalkan comment :)

22Ags17-28Ags17

Piano dan CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang