R.E.E

3.9K 385 26
                                        

Happy Reading Guys!!!

***

"Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah tentang bagaimana aku memilih cara untuk mencintaimu."

***

"Selamat siang, saya mau bertemu dengan Bapak Leonard." Aku menyapa petugas resepsionist di kantor Leo dan menyampaikan tujuanku datang ke kantor itu.

"Selamat siang Ibu, sudah membuat janji sebelumnya dengan Bapak Leonard?"

"Belum." Aku meringis mengingat jika aku memang datang tanpa memberi tahu Leo sebelumnya.

Petugas itu hanya tersenyum ramah mendengar jawabanku. "Maaf sekali Bu, jika anda belum membuat janji apapun dengan Bapak Leonard maka anda tidak bisa menemui beliau langsung hari ini. Silahkan datang lagi ketika Ibu sudah membuat janji terlebih dahulu."

Aku menghembuskan nafas panjang. Sia-sia sekali rasanya jika aku tidak bisa menemui Leo siang ini. Padahal aku sudah berniat untuk memberi dia sedikit kejutan dengan membawakannya makan siang. Mengingat selama ini dia sudah bersikap sangat baik padaku. Lebih tepatnya setelah pengakuan panjang lebarnya di pantai seminggu lalu, aku jadi semakin merasakan jika semua sikapnya padaku memang mencerminkan perasaannya seperti yang dia katakan waktu itu. Jadi tidak ada salahnya kan, kali ini aku yang bersikap lebih baik pada Leo.

Aku mencoba memikirkan cara lain untuk tetap dapat menemui Leo, sampai aku teringat dengan sekretarisnya yang memang sudah mengenalku. "Bisa tolong hubungi sekretaris Bapak Leonard? Katakan jika saya ingin menemui Bapak Leonard."

Petugas itu awalnya nampak ragu mendengar permintaanku, meskipun akhirnya dia tetap melakukannya walau masih dengan wajah yang tidak yakin. "Bisa sebutkan nama anda?"

"Audrey." Setelahnya petugas itu mulai berbicara lewat teleponnya.

Tidak sampai dua menit aku sudah mendapatkan izin masuk untuk menemui Leo dan menggunakan lift khusus yang langsung menghubungkan ke lantai ruangan Leo berada.

Sapaan ramah dari sekretaris Leo langsung menyambut ketika aku berjalan menghampiri mejanya yang aku perkirakan tepat di depan ruangan Leo. Langsung saja dia menyuruhku masuk sementara dia undur diri untuk mebuatkankan minum.

Aku mendapati ruangan Leo kosong begitu aku membuka pintunya. Untuk sesaat aku hanya mengamati ruangan itu. Tidak ada terlalu banyak barang di ruangan yang bernuansa putih dan abu-abu itu. Simple namun terlihat berkelas dengan barang-barangnya yang aku yakin bernilai cukup fantastis. Benar-benar mencerminkan seorang Leo.

Pandanganku terhenti pada sebuah figura kecil di meja kerja Leo, sambil meletakkan bekal yang aku bawa aku mengambil figura itu yang ternyata berisi foto pernikahan kami. Sepertinya foto itu diambil secara candid. Aku dan Leo sama-sama tidak melihat kamera. Namun yang jelas aku tersenyum di foto itu sambil melihat ke arah lain dan Leo yang juga tersnyum, tapi sambil menatapku.

Kedua sudut bibirku tertarik melihat itu. Dengan sendirinya ada perasaan hangat yang menyusup dalam hatiku, melihat Leo menjadikan foto itu sebagai teman kerjanya setiap hari. Seakan dia memang merasa moment itu penting untuknya.

Selajutnya aku melangkah mendekati pintu yang sedikit terbuka tidak jauh dari meja kerja Leo. Sepertinya pintu itu langsung menghubungkan ke balkon ruangan ini. Sayup-sayup aku mendengar orang sedang berbicara di sana, seiring dua siluet yang kini tertangkap mataku. Dua orang itu tampak sedang serius berbicara sambil melihat pemandangan kota yang terlihat jelas dari lantai ini sampai tidak menyadari kehadiranku.

Aku semakin mendekat sampai di ambang pintu hingga semua yang dibicarakan dua orang itu bisa aku dengar dengan jelas.

"It's ok, Cla. Semuanya akan baik-baik aja." Leo merangkul pundak Clara yang sepertinya sedang menangis, terlihat dari punggungnya yang bergetar.

Your, Mine, UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang