Xiang Wen Fei mengambil sendoknya, dia sedang ragu haruskah dia menyampingkan paprika, wortel dan kacang polong di piringnya.
"Tuan Xiang biasanya sangat sibuk dan tidak mempunyai waktu untuk makan, jadi harus banyak memakan makanan bergizi saat sarapan!" kata Hua Jun Tong.
Mendengar kata-kata wanita itu, Xiang Wen Fei tiba-tiba teringat percakapan putranya dengan Hua Jun Tong tentang kebencian Yu Ao pada paprika.
"Yu Ao saja sudah menghabiskan semua paprikanya" kata Hua Jun Tong sambil melihat ke arah Xiang Wen Fei, dengan maksud bahkan putranya saja berani memakan paprika, masa Xiang Wen Fei sebagai ayah tidak berani memakannya?
"Baiklah."
Xiang Wen Fei tidak mengerti kenapa harus mendengarkan kata-kata wanita itu, tapi dia bisa merasakan ketulusan Hua Yu Tong.
"Dad, sup jagung buatan Tong Tong sangat enak lo."
Yu Ao tiba-tiba mengeluarkan suara dan meingatkan daddynya.
"Iya, aku tahu."
Tadi saat dia memasuki ruang makan, dia melihat putranya meminum sup jagung itu dengan buru-buru.
"Aku sudah kenyang Tong Tong, aku akan menunggumu sambil memakai sepatu, kamu yang cepat ya." Yu Ao turun dari kursinya dan berjalan menuju rak sepatu.
"Baiklah." Hua Jun Tong menganggukkan kepalanya, dengan cepat dia menghabiskan sarapannya.
"Oke, inilah saatnya...." kata Xiang Wen Fei dalam hati.
Pria itu sudah merencanakan untuk diam-diam membuang semua sayuran dalam piringnya itu.
Xiang Wen Fei kaget dengan rencananya tadi, dia merasa bahwa pemikirannya saat ini benar-benar sangat kekanak-kanakan.
"Oh iya, Tuan Xiang. Mengenai pengeluaran untuk rumah..."
Hua Jun Tong bermaksud untuk membeli beberapa macam sayur setelah dia mengantarkan Yu Ao ke sekolah, tapi dia sama sekali tidak memiliki uang.
Sayuran yang dibeli beberapa hari ini semua dibeli dengan uang jajan Yu Ao.
Blm selesai kalimat Hua Jun Tong, Xiang Wen Fei sudah bergerak menuju ruang bacanya.
Kemuadian pria itu kembali dengan beberapa lembar uang di tangannya.
"5 juta per bulan cukup tidak?"
Ba...banyak sekali!!!
Hua Jun Tong kaget dengan jumlah yang diberikan pria itu, dia hanya mengambil setengah dari yang diberikan.
"Ini sudah cukup, saya akan membuat list belanjaan, dan uang sisa setiap bulannya akan saya kembalikan."
"Tidak apa-apa, itu bukanlah hal penting, kamu simpan saja sisanya untuk bulan depannya."
"Ka..Kalau begitu, apakah masih perlu membeli alat penghangat?" tanya Hua Jun Tong hati-hati.
"Tidak perlu."
Xiang Wen Fei merasa ekspresi wanita itu sekarang sangatlah menarik. Dia menyadari kalau wajah wanita itu akan memerah kalau sedang merasa gugup.
"Kalau begitu saya akan keluar sekarang." balas Hua Jun Tong sambil menundukkan kepalanya.
"Nona Hua.." kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Xiang Wen Fei.
"Ya, tuan?" Hua Jun Tong menoleh ke arah pria itu, lagi-lagi dia merasa gugup.
Xiang Wen Fei kembali ke meja makan dan mengambil sendoknya.
"Apakah aku juga bisa mendengarkan cerita sebelum tidur jika aku menghabiskan paprika ini?" tanyanya sambil tersenyum, matanya memandang ke arah muka Hua Jun Tong yang merah karena malu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Bride
RomanceRingkasan cerita: Menghangatkan kasur seperti inikah yang dimaksud olehnya? Baiklah kalau begitu, dia pasti akan menurutinya. Dia membungkus dirinya erat dan sangat menginginkan dia sesegera mungkin naik ke kasur. Tapi! Jahat sekali! Dia sama sekali...
