"Aku yang akan mengajarimu." Daniel langsung memegang wajah Talina dan mencium bibirnya tanpa ragu.
Hey! Ciuman memabukkan ini, dia mungkin akan jatuh ke .....
Talina mengeluarkan sedikit desahan, dan dia juga tidak rela membuka matanya yang tertutup.
Mata topaz hijau milik Daniel juga memancarkan pandangan kalau dia benar-benar terpesona dan tidak rela melepaskan ciuman ini dari Talina.
"Tunggu kepulanganku, ok?"
Suara Daniel seperti secangkir anggur dengan konsentrasi tinggi, yang bisa membuat orang merasa mabuk dan kecanduan.
Mata Talina terfokus pada bibir Daniel, biarpun bibir itu sebentar terbuka sebentar tertutup tapi tidak ada kata-kata Daniel yang masuk ke telinga Talina.
Daniel tersenyum puas, dia mengelus pipi Talina, lalu berbalik dan pergi dengan tidak rela.
"Dad, kamu pasti menggodai Talina kan?" tanya Lowie dengan marah.
"Tidak." Daniel membantahnya dengan suasana hati yang baik.
"Ya!"
"Tidak."
"Pasti ada, kamu sudah terlalu lama di dalam!"
"Cepat naik, kalau tidak bisa-bisa kamu terlambat."
"Dad, jangan sengaja mengalihkan pembicaraan!" Lowie menutup pintu mobil itu dengan kuat.
"Talinalah yang menggodaku." Pintu yang lain juga ditutup.
"Kamu berbohong....." Mobil itu dihidupkan lalu mobil itu pun pergi dengan cepat.
Kesadaran Talina sudah kembali, wajahnya saat ini sangatlah merah.
"Pria itu..." Dia mengeluh pahit, tapi dia tidak tahu bahwa raut wajahnya sekarang sangatlah manis dan bahagia.
Pada jam empat sore, Talina mengenakan gaun biru muda yang baru dia beli, dia terlihat sangat gugup tapi bersemangat sambil sesekali melihat ke arah jam.
Sangat jarang Daniel mengusulkan untuk makan di luar, dan bahkan dia pun juga ikut diundang.
"Sepertinya aku terlalu cepat selesai bersiap-siap."
Lihatlah situasinya saat ini, padahal itu bukanlah ajakan kencan untuknya, kenapa dia bisa merasa sangat gugup?
Biarpun Talina berpikir seperti itu, tetapi dia masih tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap waktu di dinding. Setiap menit dan setiap detik rasanya seperti satu abad.
Waktu berlalu, dan hanya satu jam tersisa hingga sampai ke pukul tujuh.
Dia menolak usulan Daniel untuk menjemputnya di rumah, dan mengusulkan padanya kalau mereka sebaiknya berkumpul di perusahaan saja, sedangkan Lowie akan dijemput olehDaniel sendiri.
"Ah! Sudah waktunya untuk keluar, kalau tidak bisa-bisa aku terlambat."
Dia bergegas ke cermin untuk memeriksa gaunnya lagi.
Gaun biru muda yang sederhana, dia melepaskan dua kepangan rambutnya, dan untuk acara makan kali ini dia juga sengaja memakai sedikit makeup, secara keseluruhan, Talina terlihat sangat cantik hari ini.
"Baiklah, aku akan keluar sekarang!" dengan hati senang dia mengambil tas kecilnya dan berjalan ke pintu depan.
Tiba-tiba telepon di ruang tamu berdering.
Talina berbalik dan berjalan ke ruang tamu untuk mengangkat telepon.
"Halo, dengan keluarga Aris..."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Bride
RomanceRingkasan cerita: Menghangatkan kasur seperti inikah yang dimaksud olehnya? Baiklah kalau begitu, dia pasti akan menurutinya. Dia membungkus dirinya erat dan sangat menginginkan dia sesegera mungkin naik ke kasur. Tapi! Jahat sekali! Dia sama sekali...
