Part 20

581 55 9
                                        

Talina duduk di depan Daniel sambil melihatnya memakan masakannya, biarpun dalam bekal itu ada sayur yang tidak disujai Daniel. Tetapi memikirkan ekspresi sedih Talina, mau tidak mau dia tetap memasukkan semua sayuran itu ke dalam mulutnya.

"Oh, iya. Tadi pagi saat aku mengantar Lowie ke sekolah, gurunya mengingatkan bahwa akan ada seminar tentang kenaikan kelas Sabtu ini, seminar itu diadakan khusus untuk murud-murid yang lompat kelas."

"Sabtu ini?"

"Eng, jam 9 pagi."

Daniel menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah Talina dengan perasaan maaf.

"Aku lupa memberitahukanmu bahwa aku harus ke London sabtu ini untuk rapat."

"Ha? Kamu mau ke London? Berapa hari?" nada Talina terdengar sedikit kecewa.

"Sekitar 5 hari."

Pertama kalinya Daniel membenci kesibukkannya, apalagi kali ini dia pergi selama 5 hari, itu artinya dia tidak bisa memakan masakan Talina dan juga..... tidak bisa merasakan kehangatan keluarga.

"Apakah kamu harus pergi? Padahal kamu sudah mulai akrab dengan Lowie....."

Sebulan ini, hubungan Daniel dengan Lowie sudah mulai akrab. Biarpun masih kurang cukup untuk hubungan ayah dan anak pada umumnya, tapi setidaknya mereka sudah bisa nonton bersama dan berkomunikasi dengan leluasa.

"Rapat kali ini menyangkut produk baru perusahaan, jadi....." kekecewaan muncul dari raut wajah Talina, Daniel yang melihatnya merasa tidak tega.

"Tidak apa-apa, kalau begitu aku akan menggantikanmu untuk hadir, aku akan mengatakan kepada Lowie kalau kamu sangat ingin menghadirinya, tapi tidak bisa karena masalah pekerjaan, dia pasti bisa mengerti." Talina memberikan senyuman mencoba untuk menghiburnya.

"Talina, terima kasih." Daniel menatapnya dan berterima kasih dengan tulus.

"Tidak apa-apa, ini memang pekerjaanku." Talina merasa tidak nyaman karena Daniel terus menatapnya, mukanya memerah.

"Tidak, aku berterima kasih bukan hanya untuk ini, tapi juga untuk hubunganku dan Lowie, kalau bukan karenamu, aku dan Lowie tidak mungkin bisa dekat seperti sekarang, kamulah yang membuatku mengerti kalau keluarga sebenarnya masih mempunya arti yang lebih dalam lagi."

Daniel tidak tahu bagaimana berhubungan dengan orang, dalam hal pekerjaan dia selalu menggunakan perintah untuk berkomunikasi, begitu juga dengan temannya sendiri, Bayden.

Sejak kecil dia selalu diajari untuk menjadi orang yang selalu berada di atas, kepada orang lain, dia bukanlah orang yang mudah untuk didekati.

Karena dia, Talina-lah yang mengubahnya.

Dia tidak lagi memandang sama semua orang, terhadap keluarga dan karyawannya, tidak diperlakukan dengan sama, Talina-lah yang membuatnya mengerti.

"Jangan begitu, akulah yang harus berterima kasih padamu dan Lowie, kalau pada saat itu bukan Lowie yang menolongku dan mempekerjakanku, takutnya aku akan mati kelaparan, oh iya, karena kamu tidak ada dirumah minggu ini, boleh tidak aku membawa Lowie mengunjungi panti asuhan untuk melihat keluargaku?"

"Tidak masalah, kalau kamu ingin pergi, aky akan meminta supir untuk mengantar kalian."

"Terima kasih, Daniel." jawab Talina dengan riang.

Senyuman polos Talina membuat Daniel terperangah sebentar.

Talina selalu tersenyum dan melihatnya dengan pandangan polos, apapun yang dia buat, selalu mengutamakan Daniel dan Lowie dan tidak pernah menginginkan imbalan apapun.

My Lovely BrideCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang