Daniel hanya berpikir dalam 2 detik, dia langsung mengambil gelasnya di meja dan menuju ke dapur.
Talina sedang berada di depan kompor, dia sambil bersenandung sambil mengaduk panci dengan sendok.
Daniel menopang badannya di tepi pintu, matanya terfokus pada punggung wanita itu, wajahnya yang tanpa ekspresi itu membuat orang tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Oh iya, aku juga akan membuat sup telur dengan sayuran, Daniel tidak bisa makan dengan baik beberapa hari ini, dia bisa sakit kalau tubuhnya tidak sehat, apalagi dia juga harus mengurus begitu banyak kerjaan setiap harinya, bisa gawat kalau dia jatuh sakit." kata Talina sambil berjalan menuju kulkas di sebelahnya.
"Eh, mana pudingnya?" Talina ingat kalau dia ada membuat puding lebih untuk Daniel.
"Aneh, kenapa bisa hilang?" Dia mencari puding itu terus, tapi tetap tidak menemukan cemilan yang dibuatnya itu.
"Pasti Lowie nakal itu yang sudah memakannya disaat aku tidak ada." Besok dia akan menghukumnya dengan tidak boleh memakan cemilan sore.
Talina menutup kulkas dan berjalan kembali ke kompor, dia terus mengaduk panci itu sambil bernyayi pelan.
Wajah Daniel samar-samar menunjukkan senyuman, dia merasa ada kehangatan di hatinya saat mendengar perkataan Talina.
Talina adalah wanita yang sangat istimewa, setidaknya untuk dia. Kalau bukan karena sadar kalau dia adalah seorang pengasuh di rumah ini, dia mempunya ilusi, seolah-olah Talina pada awalnya adalah anggota dari keluarga ini, ibu dari Lowie, istrinya.
Perhatiannya untuk keluarga ini jauh lebih dalam dari yang dia bayangkan.
Talina bisa bergegas ke perusahaan untuk menyalahkannya karena sudah mengabaikan anaknya, dia juga bisa mengkhawatirkan apakah dia sudah mengenakan pakaian yang hangat, kesehatannya, dan apakah lelah karena bekerja.
Dia sangat mementingkan kasih sayang dalam keluarga, mementingkan kesehatan mereka, dia juga senang melihat muka bahagia mereka setelah memakan masakan buatannya.
Bukan hanya Lowie yang bisa dengan nyaman berhubungan dengan Talina, bahkan dia pun begitu.
Keluarga yang bahagia sangat asing bagi Daniel, tetapi anehnya dia bisa dengan cepat beradaptasi dengan kondisi ini.
Belum pernah ada wanita yang bisa memenuhi pemikirannya.
Tetapi selama di Inggris seminggu ini, dia tidak dapat menyangkal bahwa dia sangat merindukan Talina, merindukan suaranya, tawanya, memikirkan sikap kebingungan dan kewalahan Talina.
Dia sangat iri pada putranya dan membenci dirinya sendiri karena selalu memiliki pekerjaan yang tidak akan pernah selesai.
Jika dia bisa, dia bahkan ingin memberinya liburan panjang, tidak perlu melakukan apapun, setiap hari berada di rumah untuk menemani Lowie dan memandang Talina.
"Dimana nasi putih?" Talina mengambil sepiring nasi dan memasukkannya ke dalam microwave, selanjutnya dia mengeluarkan piring dan menuangkan daging sapi ke dalam piring, dia juga menuangkan sup ke dalam mangkuk kecil dan akhirnya semua siap untuk dihidangkan.
Talina berjalan keluar dari dapur dan menemukan pria itu berdiri di samping pintu.
Talina tersenyum dan melambai padanya: "Sudah bisa makan!"
Nada suaranya begitu tenang, senyuman yang lembut, bagaikan angin di musim semi, dan berhasil membuat hati pria yang sedang memandangnya berdetak kencang.
Inilah rumah, rumah yang dipenuhi kehangatan dan kebahagian.
"Oke." Daniel menutup matanya dan merasakan kehangatan dalam hatinya yang selain selalu membawakan rasa terharu ada juga rasa kepuasan tanpa batas.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Bride
RomantiekRingkasan cerita: Menghangatkan kasur seperti inikah yang dimaksud olehnya? Baiklah kalau begitu, dia pasti akan menurutinya. Dia membungkus dirinya erat dan sangat menginginkan dia sesegera mungkin naik ke kasur. Tapi! Jahat sekali! Dia sama sekali...
