Ringkasan cerita:
Menghangatkan kasur seperti inikah yang dimaksud olehnya?
Baiklah kalau begitu, dia pasti akan menurutinya.
Dia membungkus dirinya erat dan sangat menginginkan dia sesegera mungkin naik ke kasur.
Tapi! Jahat sekali!
Dia sama sekali...
"Tidak, tidak, bagiku kamu adalah bosku, yang memberikanku gaji, aku tidak pernah menganggapmu sebagai pangeran ataupun gua berlian. Biarpun kata Lowie, banyak pengasuh anak yang ingin berkelahi di kasur denganmu. Apalagi dengar-dengar asal berkelahi denganmu, kelak tidak usah takut akan kekurangan makan dan tempat tinggal, hanya perlu berbaring di kasur, uang pun tidak akan habis-habis, tapi badanku sangat kurus dan kecil, aku juga pasti tidak bisa menang jika melawanmu, makanya aku tidak pernag berpikir untuk berkelahi denganmu, serius, kamu hanyalah bos, bos-ku." Talina menggelengkan kepalanya sekuat tenaga sambil menggoyang-goyangkan tanggannya.
Mendengar Talina begitu serius menjelaskan, Daniel ingin tertawa keras.
Bagus sekali, lagi-lagi dia menyadari betapa menariknya percakapan Talina dengan putranya, membuat dia teringat lagi dengan tes pertama saat Talina datang ke rumahnya, tentang pekerjaan menghangatkan kasur itu
"Talina....." Mata Daniel penuh kelembutan dan rasa sayang, dia mengulurkan tangannya dengan lembut dan menaruhnya di pipi merah Talina.
Talina benar-benar sangat polos dan membuat orang-orang ingin menyayanginya dan menjahilinya.
Melihat lucunya raut wajah Talina saat gugup, dalam hati Daniel selalu muncul kelembutan, membuatnya semakin berbeda dengan dirinya sendiri.
"Ha?" Mata Daniel seperti mempunyai sihir, erat-erat mengambil rohnya, membuat dia susah bernapas dan hanya bisa melihat Daniel dengan bengong.
"Kamu benar-benar sangat lucu."
Selesai Daniel mengatakannya, dia menunduk dan mencium bibir tipis Talina.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dong!
Seperti ada gunung api yang bergetar dalam kepala Talina.
Samar-samar terdengar suara geresak-geresik di telinga Talina, jantung kecilnya mulai berdetak tak karuan! DEG! Tangan dan kakinya panas dan bergetar tak henti, aliran darahnya seperti mendidih dan membuat tubuhnya seperti terbakar habis menjadi debu.
Lembut dan manis seperti permen, ini adalah jawaban dari kepala Daniel saat mencium bibir Talina.
Dia sama sekali tidak pernah berpikir kalau bibir wanita bisa seperti marshmallow yang dilapisi gula, membuat orang ingin terus menikmatinya.
Daniel mengangkat kepalanya, lalu bibir seksinya menampilkan senyuman puas.
Talina masih berdiri diam disana, matanya tidak berkedip, sepertinya dia belum kembali ke alam sadarnya.
"Aku akan meminta supir untuk mengantarmu pulang."
Ada sedikit rasa tidak rela dari mata Daniel, tangannya sekali lagi mengelus wajah Talina yang halus itu, dia sangat menikmati tekstur itu.
"Berhati-hatilah saat pulang nanti, aku akan pulang tepat waktu untuk makan malam nanti." kata Daniel dengan senyumannya lalu berjalan keluar pintu ruangannya meninggalkan orang yang masih berdiri bengong disana.