Daniel selalu merasa kalau waktu 24 jam sehari itu sama sekali tidak cukup untuk dia menyelesaikan pekerjaannya, makanya setiap waktunya dia makan, dia akan makan secepat yang dia bisa, tapi tidak untuk hari ini. Daniel merasa berbicara dengan Talina adalah suatu hal yang sangat menarik, dia merasa sangat rileks dan berharap agar kejadian ini bisa terus berlanjut?
Daniel merasa aneh, ini pertama kalinya dia melupakan waktu untuk rapat.
"Tidak, yang ingin aku katakan, terima kasih atas bekalmu hari ini, ini sangatlah lezat." Daniel menghapus ide yang ada dalam pikirannya dan hanya berterima kasih pada Talina.
Talina menundukkan kepalanya, lagi-lagi wajahnya memerah, dia masih sangat tidak terbiasa dengan tatapan Daniel yang langsung mengarah padanya. "Tidak apa-apa."
"Oh iya, apakah.... Malam ini kamu akan pulang untuk makan?"
"Mungkin bisa, aku akan mengatur kembali jadwalku."
Biarpun hari ini sebenarnya Daniel sudah memutuskan untuk rapat hingga malam hari, dan juga memiliki rencana intuk tidur di ruang kantornya, tapi setelah melihat raut wajah memelas Talina membuatnya tidak sampai hati untuk menolak.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memasak banyak masakan lezat. Aku dan Lowie akan menunggumu pulang." Jawab Talina dengan suara yang keras karena dia sekarang sedang merasa sangat senang.
"Ada yang ingin kamu makan? Asal tidak terlalu sulit, aku mungkin bisa membuatnya." Walaupun itu masakan yang dia tidak bisa, dia juga harus mencari akal untuk membuatnya, karena ini adalah pertama kalinya mereka ayah dan anak akan makan bersama setelah Talina berkerja di rumah mereka. Dia pasti akan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.
"Tidak apa-apa, aku bukan orang yang memilih-milih makanan."
Asalkan bukan paprika, biarpun ada paprika, harus ingat untuk menyiapkan sup, tapi hal ini tidak perlu dia ingatkan pun pasti anaknya akan memberitahukannya pada Talina.
"Baik, kalau begitu bagaimana kalau kita mulai makan jam 8 malam?"
"Tidak masalah."
"Kalau begitu Tuan Da... Sampai nanti Daniel."
Kemudian Talina berjalan keluar ruangan kantor itu, dia berpapasan dengan Bayden yang sedang menunggu di depan pintu, kemudian menganggukan kepalanya dengan sopan lalu pergi meninggalkan mereka.
Setelah Talina pergi, Bayden melangkah masuk ke ruangan Daniel yang suasana hatinya sedang sangat senang, selama dia mengenal Daniel, belum pernah dia melihat senyuman seperti ini di wajah Daniel.
"Bos, jangan-jangan.... Kamu sedang tersenyum?" Bayden kaget setelah melihat senyuman di wajah Daniel.
Mendengar ucapan Bayden, Daniel langsung menyimpan kembali senyumnya kemudia berjalan ke sebelah Bayden dengan serius.
"Nona Talina benar-benar orang yang menarik kan?" Daniel dengan cepat berjalan ke arah lift, dia tidak ingin menjawab pertanyaan Bayden.
"Kamu benar-benar memakan habis bekal yang dibawanya? Ini pertama kalinya kamu makan siang dalam waktu yang sangat lama."
"Kamu terlalu banyak berbicara." Jawab Daniel dengan dingin.
"Bagaimanapun kita sudah lama mengenal, tidak bisakah kamu memberitahukanku sedikit?"
Dalam hal pekerjaan, Bayden adalah sekretarisnya; Tapi sebenarnya mereka adalah teman baik yang sudah lama mengenal satu sama lain dalam waktu yang cukup lama.
Pintu lift terbuka, Daniel dengan cepat melangkah ke dalam lift.
"Batalkan rapat malam ini, lalu ganti menjadi besok pagi jam 9, begitu juga untuk seterusnya, mulai hari ini aku akan pulang tepat waktu untuk makan malam."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Bride
RomanceRingkasan cerita: Menghangatkan kasur seperti inikah yang dimaksud olehnya? Baiklah kalau begitu, dia pasti akan menurutinya. Dia membungkus dirinya erat dan sangat menginginkan dia sesegera mungkin naik ke kasur. Tapi! Jahat sekali! Dia sama sekali...
