Arti Diriku

9.2K 288 2
                                    

Matahari tepat berada diatas kepala, siang ini aku memutuskan untuk jalan-jalan, sudah satu Minggu Mas Dani tak mengunjungiku.

Aku rindu padanya, amat sangat, hanya seminggu tidak  berjumpa tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun tak bersua, huh.. aku bagai anak ABG yang baru kasmaran saja.

Kesepian ini semakin membuatku meradang, karena kalau bukan dia, siapa lagi yang akan menganggapku ada, meski statusku hanya simpanannya, aku tetap merasa berharga.

Dan bangga.

Apa kabar Mantan-mantanku  yang lain? Tidak! Mereka semua tidak seberarti Mas Dani, juga sebaliknya, mereka tidak menganggapku berarti juga. Hmm.. cukup adilkan?

Karna Meraka tidak akan begitu bila menghargaiku.

Aku memarkirkan Pajero sport putih hadiah pernikahanku dari Mas Dani dengan sistem valet, asal kalian tahu suamiku itu termasuk orang yang loyal, tiap bulannya puluhan juta menggelontor deras ke rekeningku. Rumah minimalis yang kini aku tempati dan mobil pajero putih itu sudah atas namaku sejak hari pertama aku menyandang status istri -siri- nya.

Tugasku cukup mengangkanginya, menjamahnya lalu memberinya kepuasan dan dia akan pulang menuju istri syahnya.

Aku menghela nafas.

Meski terkadang, sering kali aku merengek agar ia tetap tinggal disini, bersama ku. Dan yeahhhhh aku memenangkan itu, siapa yang tidak tergoda dengan tubuh layak model, buah dada bulat dan besar serta goyangan diatas ranjang yang memabukkan?

Dibandingkan, selangkangan istrinya yang hampir mengeluarkan 2 anak dalam kurun waktu 4 tahun.

Aku dengar-dengar badannya juga gendut sekarang.

Sambil terus berjalan aku terkekeh dengan pemikiran ku sendiri, jahat sekali otak pelakor dalam kepalaku ini.

Kaki jenjangku terus melangkah, aku belum tau akan kemana, membeli apa atau sekedar melihat-lihat apa? Ini diluar rencanaku, biasanya di hari Sabtu begini aku sudah berdandan untuk menyambut suamiku tapi yah dia tak mengabarinya 4 hari terakhir.

Hingga akhirnya aku putuskan masuk ke sebuah toko alat musik, dan aku tertarik untuk membeli sebuah piano, hmm... Bisa menemaniku nanti saat aku kesepian.

Aku membayar menggunakan debit, setelah memberikan alamat rumah, aku bergegas keluar dari toko tersebut.

Kembali aku melangkah dengan santai, sesekali aku melihat tampilan ku di cermin, rok sepan selutut dengan kemeja tanpa lengan, dipadupadankan dengan sepatu sneaker layaknya anak muda.

kali ini aku tergoda memilih sesuatu yang membuat aku geli sendiri, saat aku masuk ada beberapa orang yang sedang memilih, mataku memicing untuk mengambil bikini seksi berwarna biru navy, akan kontras sekali dengan kulit mulusnya yang berwarna putih.

"Masa aku harus ikut masuk, sayang?"

Deg!

Aku sepertinya mengenali suara itu?
Tolong!
Dunia tak sesempit ini kan?

"Ini permintaan anakmu loh pah."

Aku menoleh sedikit, saat itu juga mataku bertumbukan dengan mata tajamnya, ya Tuhan apakah dunia sesempit ini? Aku yakin dunia itu sangat sempit sekarang.

"Mama kesana dulu ya pah."

Kali ini aku menengok pada perempuan dengan perut gendut, wajahnya juga cantik, aku malah sedikit merasa minder, keanggunannya membuat aku sedikit terusik, merasa sedikit kalah, namun sekali lagi hanya sedikit.

Aku mengusap rambut bergelombang ku kebelakang, lalu dengan gerakan menggoda aku tersenyum dan memberikan kerlingan nakal, dengan santai aku menenteng bikini biru navy tadi dan dengan sengaja aku melewatinya tanpa sama sekali menyapa.

Aku melihat dari sisi mataku ia memperhatikanku, aku kembali memilih lingerie juga underwear dengan warna menggoda.

Lihat selangkanganmu mas, mengapa ada yang mengembung?

Apakah kamu mulai berhayal? Atau mulai terangsang?

Aku tertawa puas dalam hati, ya.. dia Mas Dani dan istri tercintanya.

°°°

Double sialan itu ketika aku harus kembali bertemu mereka, disalah satu cafe tempat aku memutuskan untuk makan.

Aku memilih sofa dekat jendela dan sialannya mereka duduk disampingku, 5 menit setelah bokongku mendarat dan pelayan baru beranjak memesankan makananku, mereka datang dengan bergandengan tangan, mas Dani membawa beberapa kantung belanjaan.

Saat akan duduk, mas Dani dengan hati-hati membantu istrinya, ditambah kecupan mesra dikening.

Aku melirik sinis pada mas Dani yang sedang tersenyum kearah istrinya, kebetulan istrinya duduk sejajaran denganku, sehingga aku bisa melihat ekspresi yang mas Dani keluarkan.

"Mau makan apa sayang?" Tanya mas Dani sambil membuka menu.

"Aku mau spaghetti belongnise, salad sama jus wortel"

"Uh... Anak papa mau makanan sehat ya?" Cih.. aku bersedih dalam hati, manis sekali mereka.

Setelah mereka memesan makanan, aku mulai curi dengar obrolan mereka, banyak juga yang mereka bicarakan, istri suamiku itu termasuk tipe wanita yang asyik diajak mengobrol, buktinya mas Dani saja sampai tertawa terpingkal-pingkal.

Tunggu dulu...

Mas Dani tertawa?

Tertawa terbahak-bahak?

Selepas itu?

Kali ini aku menatap wajah mas Dani, hatiku langsung mencelos, faktanya sorot mata hangat itu tidak pernah aku dapatkan, demi berlian yang pernah mas Dani belikan untukku, aku tidak pernah mendapatkan tatapan seperti itu.

°°°

"Kamu?"

"Ya Bebi."

Aku agak kaget melihat mas Dani ada disini, dihadapan ku! padahal sejam yang lalu aku meninggalkannya di cafe, ketika aku sudah muak dengan semua kemesraan mereka.

"Ada apa?" Tanyaku ketus

Ia sedikit mengerutkan kening, mengambil gelas yang masih aku pegang dan meneguknya.

"Jadi suamimu ini dilarang berkunjung?" Aku memutar bola mata malas dan berdecak pelan sambil membawa kakiku untuk duduk disofa.

Kurasa ada tangan yang mengusap pundakku, lalu ia tiba-tiba saja memeluk leherku dari belakang, kepalanya ia sandarkan pada puncak kepalaku.

"Cemburu eh?"

Aku meremas tangannya yang ada dileher ku, cemburu? Aku tak paham juga perasaan apa ini? Tapi walau bagaimana pun aku tau, aku tak berhak untuk cemburu.

"Aku harap kamu tidak cemburu, aku rasa kamu tau kalau kita.. Arkh..." Teriaknya karena aku mengigit tangannya.

"Tolong jangan dilanjutkan bila itu membuat aku sakit hati." Mohonku.

"Maaf." Ia mengusap kepalaku lalu mengecupnya, seketika kemarahan ku sirna sudah.

Mas Dani berjalan mengelilingi sofa dan duduk disampingku, membawaku ke pelukannya disertai kecupan-kecupan lembut pada bagian pelipis dan keningku, tanganku pun melingkar disekitar perutnya.

"Bebi.. tadi kamu beli bikini warna navy kan? Mau coba?"

Seketika pelukan ku mengendur, ya aku paham, apa arti diriku untuknya sekarang.

°°°

Lanjut?

the secondTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang