Aku menegakan tubuh, mengambil air yang sudah aku siapkan diatas nakas, terkadang aku ingin sekali rasanya hilang ingatan, melupakan segalanya.
Aku kesepian.
Aku benar-benar kesepian.
Istri kedua, wanita simpanan.
Tak lantas menjadikanku wanita yang berbahagia, wanita yang sosialita yang hidupnya dapat berhaha hihi ria dengan teman-teman, nyatanya tak begitu, tak seindah itu, aku cenderung menutup diri dari dunia luar, karna daripada orang luar mengetahui kehidupanku, lebih baik aku mengobrol saja dengan cermin.
Karna apa?
Mengapa?
Setiap orang yang mau mendengarkan ceritamu, tidak semua bersimpati, tetapi ada juga yang sekedar hanya ingin tau seperti apa kehidupanmu, ya.. seperti itu lah fikuranku.
Satu gelas air sudah berpindah melewati kerongkonganku, tapi rasanya aku masih haus saja.
Ponselku bergetar.
Ada pesan masuk disana.
Mas Dani
Besok aku tidak bisa datang.
Aku tersenyum kecut, lagi lagi senyum yang hanya bertugas menutupi kesedihanku, kerapuhanku.
Memang aku jangan terlalu berharapkan dengan hubungan ini, tiba-tiba ingatanku terlempar pada saat aku bertemu dengan mas Dani.
Aku merasakan pusing dikepalaku, rasanya sangat sulit untuk membuka mataku, dengan susah payah aku membuka mata, mulai beradaptasi dengan cahaya terang diruangan ini.
Ruangan apa ini?
Aku melihat seorang lelaki tampan berdiri didekat kasurku.
"Hai? sudah sadar?"
Aku mendengar suaranya, suara yang begitu asing, begitu juga dengan rupanya.
"Maaf aku hampir menabrakmu, kamu tiba-tiba pingsan didepan mobilku."
Aku mengangguk dan merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang berbeda dengan perutku.
Aku mengusapnya, tidak... Ada yang tidak beres dengan tubuhku.
"Kamu keguguran."
Oh.. pantas aku merasakan ada yang tidak beres pada tubuhku.
Eh?
tunggu dulu!
Ke? Guguran?
Aku keguguran?
Aku kehilangan anakku?
Aku menatapnya horor dan berteriak histeris, ya Tuhan mengapa kau ambil dia? Mengapa aku harus kehilangan dia?
Aku menangis kejar, dan tiba-tiba saja aku sudah berada dalam dada bidangnya, ia memelukku dan aku merasa nyaman.
Apakah ini sungguh perasaan nyaman? Atau hanya perasaan sesaat karena aku saat ini tidak memiliki sandaran siapapun.
Seiring berjalannya waktu, tibalah kami pada hubungan ini, hubungan yang mengharuskan aku menjadi istrinya, istri syahnya secara agama, sayangnya hanya istri ke 2, istri simpanan karena tanpa restu dari Diana, istri pertamanya.
°
Saat ini aku berada di salah satu cafe, semalam setelah aku berselancar dengan memori masa lalu, aku iseng-iseng membuka Facebook yang sudah lama teronggok begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
the second
Romance#565 in romance 110818 Warning 17+ Aku sudah menerimanya, bila jalan hidupku memang begini, mengandalkan lekuk tubuhku untuk mencari perhatiannya. Menjadi istri kedua bukanlah hal yang mudah, cinta, harta dan cemburu melebur menjadi satu. Sangat sul...
