apakah ini akhir hidupku?

7.8K 251 0
                                    

Langit-langit kamar yang berwarna putih menjadi pemandangan yang bisa aku lihat malam ini.

Aku meraba sebelah kasurku, lagi aku hanya menjumpai guling yang telah dingin, senada dengan dingin yang terus meremas hatiku, menyusupkan kesedihan serta memberikan rasa bersalah.

Rasa bersalah...

Rasa bersalah...

Apa aku pernah bilang bila aku bangga menjadi seorang pelakor? Menjadi seorang istri simpanan atau perusak rumah tangga orang?

Ya aku bangga.

Setetes air mata jatuh mengenai pipiku, bohong! Aku sedang bohong bila aku mengatakan bangga, aku hanya sedang menyangkal semua rasa bersalah ini.

Bolehkah aku berbagi pada kalian?

Dulu, saat aku kuliah semester 7, aku dekat dengan kakak seniorku, dia sudah lulus tapi masih aktif ke kampus, karena ia adalah ketua himpunan jurusan sebelah pada masanya.

Selama satu tahun kedekatan kami, segalanya terasa jalan ditempat. Hanya disitu saja, tak ada ucapan aku mencintaimu atau mau kah kau mencari pacarku?? Tidak ada, tetapi apa yang kamu lakukan sudah seperti layaknya orang yang berpacaran, nongkrong, main, gandengan tangan, berpelukan, rangkulan bahkan ia yang merenggut keperawananku pada malam itu.

Anggap saja aku bodoh, ya memang aku bodoh, faktanya seperti itu, aku memang bodoh memberikan semua hanya untuk dirinya. Padahal aku juga tak tau apa arti diriku untuk dirinya.

Hingga waktu berselang, diakhir agustus masih dimasa liburan yang panjang, dimana aku masih berkutat dengan skripsi ku di semester 9. aku menghadiri pesta pertunangan sepupuku, sepupu dari pihak ibu, aku memang tidak terlalu sering berkomunikasi dengan mereka namun hubungan kami amat sangat baik, setiap bertemu kami selalu menghabiskan waktu melepaskan rindu.

Langkahku sempat terhenti saat melihat Mbak Lala, sepupuku yang saat ini bertunangan.

"Namira?" Sapanya lalu menghambur ke pelukanku, aku memejamkan mata, pasalnya dihadapanku sekarang atau lebih tepatnya dibelakang mbak Lala ada kak Roy, kakak seniorku yang sudah merenggut semuanya dariku.

"Udah lama?" Mbak Lala mengurai pelukannya, ku lihat tangannya bergerak dan menarik kak Roy menuju sisinya, dengan mata yang sudah mengabur dengan air mata, aku melihat mereka menggunakan warna pakaian yang senada. Apakah?

Belum habis pertanyaan didalam benakku, mbak Lala sudah mematikannya, mematikan hidup ku.

"Kenalin ini Royan, tunangan kakak."

Kak Roy mengulurkan tangan, tangan yang dahulu memelukku lembut, memberiku kenikmatan.

Aku mengabaikan uluran tangannya "berapa lama kak?"

Mbak Lala menyernyit "kami sudah 7 tahun pacaran, sejak SMA." Potong kak Roy sambil merangkul mbak Lala mesra.

Yaa tuhan, aku tersenyum seadanya tak mau membuat mbak Lala kebingungan apalagi melihat cincin yang sudah melingkar di jari manis mereka, ya aku memang datang terlambat baik hari ini atau di kehidupan dia.

Acara masih berlangsung, sedang aku hanya berdiri di pojokan ballroom dengan hati tak menentu, ingin aku mengatakan ini mimpi, lebih berharap ini semua mimpi. tapi sakit yang aku alami sampai ke sela-sela sendi terasa menyesakkan. Menamparku tersadar bahwa semua yang aku alami adalah nyata yang pasti.

Akhirnya pertahanan ku jebol juga, aku menangis sesenggukan, meratapi nasibku kedepannya, lelaki yang aku anggap akan menikahiku kelak sudah resmi menjadi calon suami sepupuku sendiri, apa yang harus aku lakukan untuk hidupku?

the secondTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang