Aku datang lagi, membawa cerita yang belum aku edit.
Perasaanku sedikit lebih lega setelah bercerita pada Intan, walau tak menemukan solusi setidaknya aku bisa berbagi apa yang sedang aku rasakan saat ini.
Seperti biasa aku bekerja seperti biasanya, di Senin siang pukul sepuluh tepat aku dikejutkan dengan kedatangan Jeep putih yang sudah cukup aku kenal, aku tersenyum saat melihatnya, oh melihat jeepnya saja aku sungguh bahagia.
Tapi senyumku pudar saat sosok lain turun dari kursi penumpang, Dirga datang bersama Medi, salah satu investor muda yang sedang naik daun, usianya baru 25 tahun tetapi ia sudah sangat sukses, ah tidak mataku mulai memanas.
Medi udah beberapa kali meninjau kantor kami, tetapi baru kali ini mereka terlihat bersama-sama.
"Pagi pak! Pagi Bu!"
Suara khas Tania menyadarkanku untuk segera tersenyum, Dirga menatapku intens membuat aku semakin gugup. Kenapa dia harus melihatku seperti itu? Ah! Membuat aku ingin menerjangnya saja.
"Pagi mbak Tania, pagi mbak Namira, semangat sekali pagi ini." Medi menyapa kami dengan ramahnya bibirnya pun tak lepas dari senyuman yang kelewat manis..
"Ayo mas!" Ajak Medi, lihatlah bahkan Medi memanggilnya mas, mataku semakin berat saja.
"Ah ya, ayo.." Dirga memutuskan kontak mata dan beriringan masuk dengan Medi, aku duduk di kursi dengan baju melorot, apakah Dirga sudah mendapatkan pengganti diriku?
Jika memang pilihannya itu jatuh pada Medi, Dirga tidak salah pilih, pilihan Dirga sangat tepat, selain kaya, pintar dan cantik, Medi juga masih perawan, masih gadis tidak sepertiku yang...
"Lo ok kan Namira?"
Tania menepuk pundak ku sadis, pelan tapi sakit, oh.. sakitnya pada hatiku bukan pundak ku, untungnya Tania mengerti dan segera menyuruhku ke toilet agar tak ada satupun yang melihat kondisiku saat ini, aku tidak menangis tetapi aku terlihat lusuh, begitulah kata Tania.
°
Seperti biasanya bila Dirga datang bisa dipastikan kami semua akan makan siang bersama, dengan langkah berat dan senyum yang dipaksakan aku berjalan menuju ruang meeting untuk ikut makan, padahal aku sudah berlama-lama di toilet, aku fikir akan ditinggal ternyata semuanya belum makan, ah aku jadi tidak enak.
"Terima kasih Namira, silahkan duduk, kita akan memulai makan siangnya."
Aku hanya tersenyum medengar instruksi pak Iyus, mataku terus menatap Medi yang menempel terus pada Dirga seperti lintah, ya Tuhan.. aku masih sayang dia, benar-benar sayang dia.
Apakah semudah itu dia melupakan aku?
Aku mengembuskan nafas dengan keras, dan mengantri untuk mengambil nasi, sistem makan siang hari ini adalah prasmanan, makanan tersedia dimeja tengah, sehingga kami dapat mengambil makanan dari sisi kanan dan kiri.
Aroma kayu manis yang memabukkan masuk ke Indra penciumanku, aku sangat-sangat hafal, karna aku yang terus-menerus menunduk aku tak melihat situasi sekitarku, tapi aku tau pemilik aroma ini hanya si bos sialan, si bos yang nampaknya tidak pernah bisa aku gapai, karena mimpiku serasa setinggi langit saja.
"Mau ini mas?"
Aku melihat Medi akan menyendokkan hati sapi balado ke piring Dirga.
"Eh.. eh.. maaf Bu mas Dirga tidak makan hati, dia aler.." aku tidak melanjutkan perkataanku karena beberapa orang yang berada di sekitarku memandangiku, begitu juga Dirga dan Medi yang langsung menatapku tajam, dasar mulut laknat!
"Maaf Bu, maaf pak." Walau piringku baru berisi nasi dan sayur sop, aku langsung keluar dari antrean dan duduk dipojokan, aku makan dengan cepat tak menghiraukan sapaan atau keadaan sekitar, kecuali satu Medi yang terus-menerus menatapku, demi apapun Namira ingin sekali keluar dari sini.

KAMU SEDANG MEMBACA
the second
Romance#565 in romance 110818 Warning 17+ Aku sudah menerimanya, bila jalan hidupku memang begini, mengandalkan lekuk tubuhku untuk mencari perhatiannya. Menjadi istri kedua bukanlah hal yang mudah, cinta, harta dan cemburu melebur menjadi satu. Sangat sul...