Bintang diatas sana menemani aku dan Dirga malam ini, lampu perkotaan semakin menyemarakkan perasaanku, dinginnya malam ini menjadi tak terasa karena kehadirannya, kehadiran Dirgantara.
"Tahu darimana tempat seperti ini ga?" Aku menoleh pada Dirga, kami berdua duduk dikap mobil, cukup jauh dari tempat tongkrongan juga tempat makan, namun masih terdengar samar-samar suara live musik yang disuguhkan oleh salah satu cafe.
Dirga menoleh lalu tersenyum, ia menepuk puncak kepalaku, lalu mengusapnya, "gak penting, kalau kamu tau nanti malah ilfill."
Karena dia bicara demikian aku menjadi sangat penasaran, "Ga.. tau dari mana?" Desakku padanya.
Ia tertawa sendiri, "Saya sengaja kumpulin anak-anak PKL dikantor, anak-anak SMA, saya tanya tempat yang enak buat pacaran dimana? Kamu tau? Mereka malah tertawa semua, sialan!"
"Lalu?" Aku sungguh penasaran malah aku sekarang duduk lebih dekat dengannya, kini aku sudah duduk menghadap padanya.
Ia berdehem sebentar, "akhirnya setelah memilih dan menimbang, saya memilih tempat ini."
"Kenapa?"
"Karena saya ingin menciptakan momen yang spesial, bersama orang yang spesial disebelah saya dan menurut saya tempat ini indah."
Aku melihat sebuah pancaran dimatanya, yang menghipnotisku dan membuat aku masuk kedalam pelukannya, aku bersandar disana, bukan hanya menyandarkan tubuhku saja, tetapi juga menyandarkan hidupku, menggadaikan kebahagiaanku padanya, semoga memang kami ditakdirkan bersama.
"Nam.."
"Hm?"
"Saya fikir, diusia kita yang sudah seperti ini kita engga pantes lagi pacaran."
Aku merasakan nyeri sampai ulu hati, apa maksudnya Dirga bicara seperti itu? Apakah ia menginginkan semua selesai?
Namun Dirga malah memelukku lebih erat, ia menciumi puncak kepalaku berkali-kali.
"Kamu sudah benar-benar berpisah kan dengan Dani?"
Hatiku terasa ditusuk belati, mengapa Dirga membahas Dani?
"Kami nikah siri, dia sudah menceraikanku, sudah lama," Jawabku pasti dengan suara getir, air mataku sudah berada di ujungnya, aku benci Namira yang seperti ini Namira yang berubah menjadi cengengesan luar biasa.
"Masa Iddah wanita itu berapa lama?"
Aku cukup kaget, apakah Dirga akan melamarku? Tidak Namira ini masih terlalu cepat.
"Menikahlah dengan saya Namira, saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, saya tidak akan menjanjikan kamu bahagia bersama saya selamanya, tapi saya ingin kamu dan saya bersama-sama meraih kebahagiaan kita, merajut masa depan kita, dan menua bersama."
Aku berusaha melepaskan pelukannya, namun ia kekeh memelukku, tak ingin memandang padaku.
"Tolong lepaskan."
"Tolong jangan tatap wajah saya sekarang sebelum kamu menjawabnya."
Dirga memang hebat, ia bisa tau kalau aku sungguh ingin menatapnya, karna aku tak tau apa lagi yang akan aku jawab selain, ya!
Aku ingin menua bersamanya, merajut masa depan dan memupuk kebahagiaan bersama, seperti ucapan Dirga.
"Tetaplah bersamaku Ga, sampai kita tua, sampai kita melihat cucu-cucu kita."
"Jadi kamu menerima saya?"
"Apakah ada alasan untuk menolak kamu?"
Aku mendengar kelasnya nafas lega dari Dirga, barulah ia melepaskan pelukannya dan menangkup wajahku.
"Terima kasih Nam, saya cinta kamu."
Air mata ini langsung menetes, aku terharu sekali, ini adalah air mata kebahagiaan, bahagia karena aku memiliki Dirga sekarang.
"Tunggu sebentar Nam."
Lelaki yang saat ini menggunakan kaos polo hitam berjalan 4 langkah, ia berjongkok dan mengambil sesuatu setelahnya ia menuju mobil dan mengambil tissue.
Oh.. ia tengah membersihkan sebuah ilalang ternyata, ya ampun Dirga seperti anak kecil saja.
Tiba-tiba Dirga menarik tanganku, ia mengikatkan ilalang dijariku, aku tersentak kaget, walau sangat sederhana dan tanpa modal, bagiku ini sangat romantis, karena aku melihat usahanya, berjongkok dan membersihkannya dengan tissue.
"Maaf sekarang saya cuma bisa kasih ini, saya kurang persiapan, tapi nanti kita cari cincin sesuai apa yang kamu mau ya?"
Kebahagiaan memuncah pada hatiku, rasa yang dulu terasa mati kini hidup dan meletup-letup, dengan tanpa rasa malu, aku mengalungkan tanganku dilehernya, mencium bibirnya dan menggumamkan kata terima kasih disela-sela ciuman kami, tangan kanan Dirga memegang leherku dan tangan kirinya mengusap punggungku.
Terima kasih Tuhan, engkau masih membiarkan Namira bahagia.
°

KAMU SEDANG MEMBACA
the second
Romance#565 in romance 110818 Warning 17+ Aku sudah menerimanya, bila jalan hidupku memang begini, mengandalkan lekuk tubuhku untuk mencari perhatiannya. Menjadi istri kedua bukanlah hal yang mudah, cinta, harta dan cemburu melebur menjadi satu. Sangat sul...