Terima kasih untuk kalian yang berkenan membaca cerita abal ini.
Selamat membaca.
°
"Tania, Namira kemari.." ajak Laura staff purchasing diperusahaan kami.
Aku dan Tania segera bergabung keruang rapat, ternyata meeting sudah selesai, tinggal waktunya beramah tamah, demi apa kenapa kami mesti diajak.
Aku melirik takut pada pria itu, kalau boleh jujur rasanya aku mau pipis saat ini juga, beruntungnya kantung kemih ku masih berfungsi dengan baik, kalau tidak, hahaha aku yakin saat ini ada bau Pesing yang menyebar diruangan ini.
"Namira.. kenalkan ini Pak Dirga, pemegang saham terbesar diperusahaan kita."
Aku tersenyum kikuk lalu mengangguk saja.
"Pak.. ini Namira, resepsionis baru, baru magang 5 hari."
Pak Iyus pimpinan perusahaan kami berbicara dengan hormat, dan lelaki bernama Dirga hanya mengangguk saja.
Cih.. sombong sekali!
Kami menikmati makan siang yang disediakan, setelah selesai aku buru-buru menuju mejaku lagi, merasa gerah bila harus berdekatan dengan orang itu.
°
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.05 tetapi orang-orang didalam sana masih juga belum beranjak, terpaksa kami harus menunggu mereka, lembur? Aku rasa tidak! Ini hanya loyalitas tanpa batas, tidak sopan kan bila ada big bos tapi kita semua malah pulang?
Demi apa aku ingin berpura-pura sakit saja, atau berpura-pura ke toilet saat mereka nanti keluar ruangan, atau melakukan apapun, intinya aku tidak mau bertemu lagi dengan orang itu, titik!
Bodoh! Bagaimana tidak akan bertemu lagi? Dia big bos ditempatku bekerja, tolol!
Suara deheman membuat aku mengangkat kepalaku, aku nyaris jantungan saat melihat pria itu dihadapan ku.
Mata hitamnya menyorot tajam.
Dirga..
Kata pak Iyus, namanya Dirga.
Oh rupanya mereka akan pulang, karena Alphard putih berpalet hitam yang tadi pagi aku lihat sudah berada didepan pintu, aku tersenyum semanis mungkin, lalu mengangguk demi norma norma kesopanan pada atasanku.
Kami semua berjabat tangan pada Dirga, aku akan memanggil nya Dirga, cih.. untuk apa memanggilnya bapak? Toh bukan dia yang ngasih makan aku kan? Well.. meski dia pemegang saham terbesar diperusahaan ini, tetap saja uang yang aku terima adalah hasil keringatku kan?
Bukan dia kasih cuma-cuma, jadi tidak salah kan kalau aku bilang dia bukan yang kasih makan aku?
Hohoho pintar kan Namira?
Lalu kemudian, ga salah kalau aku berlaku tidak sopan padanya, haha
Kini tiba giliran ku untuk menjabat tangannya, lagi.. ia tersenyum sambil mengangkat alisnya, seakan mengingatkanku pada kejadian waktu itu, aku membelalakkan mata saat ia memajukan badannya mendekat ke arahku.
"Ga salah masuk studio lagi kan Namira?"
What? Dia mengingatnya?
Aku hanya senyum formalitas saja, Namira tenang.. jangan malu, jangan emosi, lagian memang benar kan itu salah kamu dan kamu hanya bertemu dia disaat dikantor saja kok, dengan situasi sebatas atasan dan bawahan.
Tapi.. kok aku malah deg-degan ya?
°
Lusa adalah hari ulang tahun Sonya, aku harus membeli kado, oh iya kadonya tidak boleh yang sale seratus ribu all item, ah sialan memang Disa dan Intan.

KAMU SEDANG MEMBACA
the second
Romance#565 in romance 110818 Warning 17+ Aku sudah menerimanya, bila jalan hidupku memang begini, mengandalkan lekuk tubuhku untuk mencari perhatiannya. Menjadi istri kedua bukanlah hal yang mudah, cinta, harta dan cemburu melebur menjadi satu. Sangat sul...