Pertaruhan

4.4K 238 4
                                    

Memilih itu mudah
Yang sulit adalah ketika ingin memulai kembali.
-Namira Tristian-

°

Aku menutup pintu setelah kepergian Dirga, setelah aku mengatakan bahwa Dani melamarku kembali, aku melihat wajahnya mengeras, ia juga tak bertanya apa jawabanku, aku juga tak memberitahunya, toh hubungan kita sudah selesai kan sejak lama.

Aku bersandar pada pintu, merangkai kepingan-kepingan kenangan bersama Dirga juga Dani, pukul 7 nanti aku akan bertemu dengan Dani dan menjawab lamarannya saat itu.

Aku memejamkan mataku, mengingat kembali kedatangan Dani satu hari setelah kedatangan Diana.

"Aku cinta kamu baby, demi tuhan aku ga bisa lihat kamu sama Dirgantara, kamu sudah tahu semuanya bagaimana hubunganku dengan Diana, kamu tahu kenapa dulu aku jarang hubungi kamu karena aku harus pintar memilih waktu, karena mereka mata-mata orang tua kami tersebar dimana-mana, aku cuma ingin kamu save Namira."

"Dan saat Diana menghina kamu didepan Dirgantara kami memang sengaja agar Dirgantara meninggalkanmu, aku mohon baby kembali lah."

Ia mengatakan itu sambil berlutut sementara aku duduk disofa, kepalaku makin puyeng saja, lebih baik aku segera mandi dan bersiap sebelum aku bertemu Dani di cafe dekat kantorku.

°

Aku melihat Intan, Disa dan Dirga duduk di sofa depan ruang VVIP rumah sakit yang Intan sebutkan, mereka sedang mengobrol, aku tidak tahu apa yang mereka obrolkan, yang jelas aku merasakan dadaku berdetak lebih cepat saat melihat Dirga, melihat wajah lelahnya.

"Hai." Sapa aku canggung, sejenak mereka menatapku tanpa berkedip.

"Woi Iraaaaaaa." Pekik Intan kencang yang langsung dibekap oleh Disa.

"Ini rumah sakit sayang!"

Intan nyengir dan menarikku duduk disampingnya, berhadapan dengan Dirga.

"Lo pinter ya emang, Lo milih ketemu gue hari Jumat, Sabtu Minggu Lo libur kerja dan gak ada dimana-mana, bikin tuh anak satu kayak cacing kepanasan!"

"Hm?"

"Dia nyariin Lo sampe ke lobang semut, sampai kayak orang frustrasi, makanya kalau cinta ga usah banyak gengsi!"

Dirga berdehem dan menatap Intan tajam, sementara Intan yang sudah memiliki 2 anak malah menjulurkan lidahnya menantang.

Aku menoleh pada Dirga yang masih diam, namun saat aku menatap Disa ia malah menaikan alisnya dan tersenyum jahil, apa maksudnya?

"Lo.."

"Namira."

Belum sempat Disa menyelesaikan ucapannya, sebuah suara membuat suasana menjadi tegang, Dani disana, berdiri tak jauh dariku.

"Ra.." bisik Intan, aku melihat wajah Dirga mengeras dan nafasnya naik turun, aku tau dia sedang menahan emosinya.

"Halo Dirgantara senang bertemu anda, halo pak Disa salam kenal." Dani berlagak sok kenal dengan lelaki yang sudah memasang ekspresi sepat didepanku.

"Mm.. pak bagaimana Sheril?"

Tanyaku pada Dirga, dia menoleh ke arahku, tatapannya seakan meminta penjelasan, apalagi aku memanggilnya pak

"Masuklah Sheril sudah lama nunggu kamu."

Aku mengangguk, "ayo Dan.."

Aku berdiri dan masuk keruangan Sheril dengan Dani, aku hanya ingin ini cepat selesai, Dani cepat pulang kepada Diana dan Dirga berhenti menatapku seperti itu.

the secondTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang