Belum aku edit, tapi udah pengen cepet update.
°
Dengan sisa-sisa harga diri, aku berjalan dengan gontai, sambil terus menekan dadaku, aku segera berlari menuju lili dan meninggalkan kediaman Dirga, kediaman lelaki yang sudah menamparku dan sedetik kemudian tiba-tiba memelukku, meluncurkan harga diriku semakin dalam.
Aku masih memegang jantungku, sialan sekali jantung ini, kenapa disaat Dirga memelukku masih saja berdetak lebih cepat, bahkan rasa sakit pada pipiku sama sekali tidak terasa sakitnya.
Baru lah saat ini aku merasakan panas disekitaran pipiku, ah jangan lupakan sudut bibirku yang memar. Lagi aku menerima tamparan dari laki-laki, pertama Dani dan sekarang Dirga.
Setelah keluar dari rumah Dirga, dan berjalan beberapa meter, aku menepikan lili, kemudian bersandar, dengan memejamkan mata, aku menikmati rasa yang saat ini aku alami, rasa yang saat ini aku rasakan.
Perpaduan rasa sakit hati juga menyesal, kenapa aku harus mengenal Dirgantara? Mengapa aku harus mencintai dua anak Adam yang sepertinya memang diciptakan untuk menyakitiku.Herannya di waktu yang singkat ini aku bisa merasakan rasa bahagia dan juga sakit disaat yang bersamaan, munafik bila aku tidak bahagia dipeluk Dirga, amat sangat bahagia, walau sebelumnya ia menolehkan luka yang begitu dalam.
Entah karena aku terlampau tegar atau aku terlalu lelah, air mataku sama sekali tidak menetes semenjak keluar dari rumah Dirga, hanya dadaku yang sesak saja, seperti kehabisan oksigen untuk bernafas.
Aku mengambil air di kursi sebelah dan menyiramkannya pada wajahku, tak peduli lili yang menjadi basah dan bajuku yang kini lembab, setidaknya ini sedikit lebih baik.
°
Guyuran air hangat masih terus membasahi kepalaku, bathub pun sudah meluap luap karena sudah nyaris satu jam aku berendam, merasakan sensasi panas pada tubuhku, menyamarkan rasa sakit pada hatiku juga pipi dan sudut bibirku yang masih saja terasa berkedut.
Saat pening sudah mulai melanda diriku, aku bangkit dan menggunakan handuk, saat melewati kaca besar dikamarku, aku memperhatikan tubuhku yang masih terlilit handuk.
Aku seksi..
Aku cantik..
Aku memiliki tubuh yang bagus
Bahkan payudara dan bongkahan bokongku juga menarik.
Ah Namira yang benar saja!
Aku kembali menghela nafas saat menyadari sesuatu, semua yang ada dalam diriku ini tidak ada artinya karena aku selalu dibuang.
Apakah Namira tidak pernah pantas mendapatkan kebahagiaan?
Aku memakai bra dan segera berdaster, sepertinya otakku mulai konslet lagi karena kurang bersyukur, jadinya aku segera menyeduh teh hangat agar pening dikepalaku segera hilang.
Tingnong
Tingnong
TingnongSuara berat terdengar tanpa jeda, aku yakin orang yang memencet bel sungguh tidak sabar, dengan setengah berlari aku segera menuju pintu.
°
Dengan pandangan masih tak percaya, aku mencubit tangan kiriku, demi apa aku benar-benar tidak menyangka wanita didepanku ini benar-benar Diana.
"Kembalilah pada Dani Namira."
Dia berkata demikian untuk kedua kalinya, aku masih saja diam, bingung untuk berkata, bukan! Bukan karena aku ingin kembali padanya, hatiku sudah terpatri untuk satu orang dan sepertinya memang perlu waktu yang lama untuk merubah haluan perasaanku.
"Demi anak-anak ini Namira."
Diana membelai rambut anak perempuannya didalam gendongan, ah apakah Namira bermimpi? Masa iya ada seorang istri yang ingin suaminya bersama wanita lain? Apalagi wanita itu adalah mantan istri keduanya.
"Maksud kamu demi mereka?"
"Dani mencintai kamu Namira, dia menikah dengan saya hanya karena perjodohan, kamu adalah cintanya, asal kamu tau, sejak awal kamu menikah dengan dia saya tahu, pertemuan kita saat di cafe mall tempo hari saya tahu, Dani datang kemari menyusulmu saya tahu Namira, apa yang kami lakukan di cafe itu semua drama."
Aku mengerutkan kening tak paham, apa maksudnya? Drama?
"Karna saat itu mata-mata orang tua kami sedang mengikuti kami Namira, Dani tidak pernah mencintai saya, melakukan hubungan suami istri hingga menghasilkan 2 orang anak juga kami lakukan dengan terpaksa, bahkan setelah dia menikah dengan kamu, saat kami melakukan hal itu, dia menyebut namamu saat pelepasannya."
Aku melongo parah, jika itu benar terjadi hebat sekali perasaan wanita itu, aku yang mendengarnya saja ngilu.
"Tolong lah, kembali dengan Dani Namira, atau saya akan diceraikan."
°
Setelah kepergian Diana, aku memijit pelipisnya, bohong kalau aku tidak peduli, sebagai seorang wanita aku mengerti sekali apa yang Diana rasakan, tapi tidak seperti itu juga tidak semudah itu kembali pada masa lalu, disaat kamu sedang terjatuh oleh masa depan.
Kepalaku rasanya sangat sakit, aku membutuhkan pelampiasan, butuh pelarian, tapi tidak akan pergi ke club malam lagi, karena aku tak mau merepotkan Tania.
Aku berjalan kearah dapur mencari apa saja yang bisa membantuku, membawa ku pada pelampiasan demi meredakan segala emosi yang ada pada dadaku, hingga akhirnya mataku tertuju pada sebuah cutter, Dengan ragu aku mengambil benda itu.
Aku memejamkan mataku sesaat lelaki itu tiba-tiba muncul dalam ingatanku, membuat aku menggumamkan namanya dalam setiap goresan.
°
"Namiraaaaaa!"
Aku menutup telingaku saat suara melengking Intan mengaung diudara, saat ini kami menjadi pusat perhatian, walau kami duduk di bangku pojokan.
"Lo berisik banget Intan, gak ada duanya!"
"Habis gue kaget banget, masa iya Diana ngomong kek begitu?"
Ah akhirnya Intan mengecilkan volume suaranya, saat ini kami berdua duduk disalah satu cafe, kata Intan cafe ini adalah favoritnya.
Ya.. kami hanya berdua karena dua krucil Intan sedang bersama dengan neneknya di Bogor.
"Terus langkah Lo selanjutnya apa Ra?"
Langkah selanjutnya? Sejujurnya langkah ku sudah surut sejak lama, sejak anak gadis yang usianya belum genap 17 tahun mematahkan segalanya.
"Gue juga gak tau."
"Lo mau balikan sama dia?"
Gue tertawa sumbang, yang benar saja bahkan sedikit rasa iba pun sepertinya sudah tidak ada, karena sepenuhnya hatiku sudah dikuasai oleh seseorang.
"Ataukan kamu masih mencintai Dirga Ra?"
Dan pertanyaan itu lebih horror dari pertanyaan kapan nikah yang biasanya tetangga ajukan saat hari raya idul Fitri.
°
Aku seneng banyak waktu lihat cerita ini seribu kali, tanpa kalian aku bukan apa-apa, tanpa kalian aku ga semangat, ah gayaku udah kaya yang dibaca sejuta kali aja yaa 😂😂😂😂😂
Btw..
Kalau aku berencana bikin cerita lagi mending siapa ya?Dani - Diana
Sheril - Yusuf
Tania - (?)
Intan - Disa
Dirga - Otor
Hehehe
Salam sayang, R-

KAMU SEDANG MEMBACA
the second
Romance#565 in romance 110818 Warning 17+ Aku sudah menerimanya, bila jalan hidupku memang begini, mengandalkan lekuk tubuhku untuk mencari perhatiannya. Menjadi istri kedua bukanlah hal yang mudah, cinta, harta dan cemburu melebur menjadi satu. Sangat sul...