Chapter 2

1.2K 172 21
                                        

Selama ini, sesuatu yang ada dalam fikiran manusia adalah apa yang akan mereka lakukan hari ini, esok dan hari kemudian. Bahkan mereka memikili segudang jadwal yang telah mereka atur. Manusia sering kali lupa dengan yang namanya takdir, sebrilian apapun rancangan mereka, kita tidak akan dapat memprediksi apa yang akan terjadi? Karena itu adalah kekuasaan Tuhan. Semua tertulis disana tentang kelahiran, jodoh bahkan kematian.

Sangat tidak masuk akal jika ada seseorang mengaku dapat melihat apa yang akan terjadi bukan? Seorang peramal adalah salah satu bentuk pembodohan tak nyata. Mereka hanya manusia yang memiliki sedikit kepekaan terhadap banyak hal dan mulai menelitinya, menjadikannya sebuah dugaan yang terkadang terjadi atau mungkin ia memiliki sebuah perjanjian dengan para roh, lebih tepatnya mereka bersedia menjadi budak para roh dengan imbalan akan bersedia memberikan sebuah informasi kepada mereka.

Seperti halnya saat ini, seorang peramal sedang meramalkan masa depan seseorang dengan bantuan roh yang hilang.

"Jika kau maju selangkah lagi, aku akan memukulmu dengan palu kematian ini." Cegah seorang malaikat kematian yang tak lain adalah Suga yang siap untuk menangkap sebuah roh wanita yang akan masuk kerumah peramal tersebut.

"Ampuni aku..."

Roh itu bersujut dihadapan Suga dan ketika Suga tak menunjukkan pergerakan, roh itu malah berusaha untuk melarikan diri.

"Roh busuk! Kau tidak akan bisa kemana-mana." Geram Suga yang sudah membungkus roh tersebut dengan kumpalan asam hitam.

Secangkir teh melayang-layang di udara.

"Minum!" Perintahnya dengan suara mengerikan bahkan wajah Suga nampak begitu menyeramkan.

"Minum!" Kali ini suaranya lebih keras lagi. Tapi roh wanita itu terus merontah, berusaha ingin lepas diri dari gumpalan asap hitam tersebut.

"Teh itu untuk membuatmu lupa dengan dunia ini dan sekaligus untuk mensucikanmu. Kau benar-benar tidak ingin meminumnya? Baiklah, ini akan sedikit menyakitkan dan kau harus menahannya." Suga menyirai dengan wajah seramnya.

"ARRRGGGGHHHH."

Jerit kesakitan dari sang roh dan cangkir teh itu pun lenyap bersama ceritan roh tersebut yang menghilang masuk kedalam sebuah pintu yang terhubung dengan dimensi lain.

Setelah pintu itu tertutup, Suga pun menghilang dan muncul diatap gedung sekolah barunya. Wajahnya berubah normal dengan kerutan dahi di keningnya.

"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanyanya kepada Jungkook beserta Taehyung.

Suga sedikit bingung ketika mendapati Jungkook memainkan sebuah smart phone bersama Taehyung.

"Ternyata yang namanya game itu sangat seru!" Taehyung begitu menyukai mainan manusia yang baru ia pelajari ini.

"Apa ini yang kalian lakukan semenjak tadi?" Tanya Suga menatap tak percaya keduanya. Suga merasa kedua temannya ini sudah terkena virus manusia. Mereka lupa kalau mereka adalah seorang Malaikat kematian.

"Kau salah, kami disini menunggu roh itu muncul." Alasanan Jungkook, dari kedua malaikat ini. Jungkook adalah salah satu malaikat yang selalu terlihat menjaga imagenya berbeda dengan Taehyung yang selalu terus terang.

"Kenapa ia begitu cepat hilang?" Fikiran Taehyung tiba-tiba teralih pada kejadian siang tadi saat Jungkook, Suga dan dirinya menyadari kehadiran sebuah roh. Ia merasa heran karena kasus seperti ini jarang sekali terjadi.

"Jadi kalian menunggunya? Lebih baik besok saja kita memburunya. Hari ini selesaikan semua pekerjaan kalian!" Suga memperingatkan kedua temannya ini.

"Ah, entah ini benar atau tidak. Tadi aku merasakan 2 kekuatan." Dugaan Jungkook yang semenjak tadi ia sembunyikan yang seketika membuat kedua temannya memandangnya dengan serius.

JEOSEUNGSAJA | SinKookTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang